6 Presiden AS yang Pernah Jadi Target Pembunuhan, dari Trump hingga Kennedy
Dalam sejarah Amerika Serikat, terdapat beberapa presiden yang menjadi sasaran percobaan pembunuhan.
Sejumlah presiden Amerika Serikat tercatat pernah menjadi sasaran percobaan pembunuhan dalam berbagai peristiwa yang berbeda. Terbaru, Presiden ke-47 AS, Donald Trump, lolos dari upaya penembakan saat menghadiri gala dinner korespondensi pada Sabtu (25/4/2026) malam yang diselenggarakan oleh Gedung Putih.
Jaksa Agung Amerika Serikat, Todd Blanche, pada Minggu (26/4) mengonfirmasi bahwa otoritas AS meyakini Trump beserta jajaran pemerintahannya menjadi target utama dalam serangan bersenjata baru-baru ini. Pelaku, yang diketahui bernama Cole Tomas Allen, adalah seorang pria berusia 31 tahun asal Torrance, California. Ia dilaporkan melakukan perjalanan lintas negara menuju Washington, D.C., sebelum mencoba menerobos acara White House Correspondents' Dinner.
Peristiwa ini kembali menegaskan bahwa ancaman terhadap pemimpin tertinggi Amerika Serikat bukanlah hal baru. Dalam catatan sejarah, berbagai upaya pembunuhan terhadap presiden telah terjadi, mencerminkan tingginya risiko yang melekat pada posisi tersebut. Dari masa ke masa, insiden-insiden ini menjadi pengingat bahwa di balik kekuasaan besar, selalu ada bahaya yang mengintai.
Berikut ini enam presiden AS yang pernah menjadi sasaran upaya pembunuhan, dikutip dari berbagai sumber pada Senin (27/4):
Abraham Lincoln
Peristiwa bersejarah ini berlangsung pada malam Jumat Agung, tepatnya pada tanggal 14 April 1865, sekitar pukul 22.15. Pada saat itu, Presiden Abraham Lincoln sedang menikmati pertunjukan komedi berjudul "Our American Cousin" di Teater Ford yang terletak di Washington, D.C. Tiba-tiba, beliau ditembak dari jarak dekat di bagian belakang kepala menggunakan pistol derringer kaliber .44.
Kabar mengenai penembakan Presiden baru menyebar ke publik setelah Nyonya Lincoln berteriak histeris, yang kemudian memicu kemarahan massa yang menuntut agar pelaku segera ditangkap dan dihukum gantung, demikian dikutip dari The Guardian.
Setelah mengalami ketidaksadaran selama beberapa jam, Lincoln dinyatakan meninggal dunia pada keesokan harinya, 15 April 1865, pukul 07.22, di Petersen House yang terletak tepat di seberang teater. Pelaku pembunuhan tersebut adalah John Wilkes Booth, seorang aktor panggung terkenal yang juga merupakan simpatisan fanatik Konfederasi. Motif utama di balik tindakan kejam ini adalah dendam politik dan ideologi. Booth, sebagai pendukung perbudakan dan pihak Konfederasi yang kalah dalam Perang Saudara Amerika, sangat membenci kebijakan Lincoln yang menghapus perbudakan serta upayanya dalam menjaga persatuan Amerika Serikat. Dengan membunuh Lincoln, Booth berharap dapat menjatuhkan pemerintahan Amerika Serikat ke dalam kekacauan dan memberikan kesempatan bagi Konfederasi untuk bangkit kembali.
James A. Garfield
Pada tanggal 2 Juli 1881, sekitar pukul 09.30 pagi, Presiden James A. Garfield menjadi korban penembakan oleh Charles J. Guiteau di stasiun kereta api Washington, D.C. Penembakan ini terjadi akibat kekecewaan Guiteau, seorang pencari jabatan yang merasa bahwa permohonannya untuk menjadi konsul di Paris tidak dihiraukan. Motif utama Guiteau didorong oleh "sistem spoils" atau praktik bagi-bagi jabatan politik; ia percaya bahwa dengan membunuh Garfield, Wakil Presiden Chester A. Arthur akan mengambil alih kekuasaan dan memberinya posisi yang diinginkannya, dikutip dari NPS.
Peristiwa ini juga menandai puncak dari konflik politik antara Presiden Garfield dan Senator Roscoe Conkling terkait penguasaan birokrasi federal. Akibat dari luka tembak dan infeksi yang parah, Garfield mengalami penderitaan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya meninggal dunia pada tanggal 19 September 1881. Kematian yang tragis ini menjadi momen penting yang memicu reformasi layanan sipil di Amerika Serikat, bertujuan untuk menghapus praktik koneksi politik dalam pemerintahan.
William McKinley
Pada 6 September 1901, Presiden William McKinley menghadiri sebuah acara publik di Temple of Music yang terletak di Buffalo, New York. Di tengah kerumunan yang antusias untuk bersalaman, seorang pria bernama Leon Czolgosz mendekati Presiden dan menembakkan dua peluru dari jarak dekat dengan menggunakan senjata yang disembunyikan di balik sapu tangan. Penembakan ini terjadi di tengah keramaian pameran yang seharusnya merayakan kemajuan teknologi serta kepemimpinan Amerika Serikat pada waktu itu, dikutip dari History.
Meskipun McKinley segera dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi darurat untuk menjahit luka di perutnya, kondisinya yang sempat stabil perlahan-lahan memburuk. Infeksi gangren mulai menyebar di sekitar luka tembak tersebut, yang kemudian menyebabkan keracunan darah yang parah. Sayangnya, Presiden William McKinley akhirnya meninggal dunia pada dini hari tanggal 14 September 1901. Peristiwa tragis ini tidak hanya mengubah arah sejarah, tetapi juga membawa Theodore Roosevelt naik ke kursi kepresidenan dan memicu penguatan protokol keamanan bagi para pemimpin negara di masa depan.
John F. Kennedy
Pada tanggal 11 Desember 1960, sekitar pukul 10.00 pagi, Presiden terpilih John F. Kennedy hampir menjadi korban pembunuhan di Palm Beach, Florida. Pelaku dari percobaan pembunuhan ini adalah Richard Pavlick, seorang pensiunan pekerja pos yang berasal dari New Hampshire. Pavlick telah mengikuti Kennedy dan menunggu di dekat gereja dengan mobil yang dipenuhi bahan peledak, berencana menabrakkan kendaraannya ke mobil Kennedy saat calon presiden tersebut pergi untuk beribadah, dikutip dari Historyextra.
Motif di balik tindakan Pavlick ini adalah prasangka agama yang kuat dan fanatisme anti-Katolik. Ia merasa terancam dengan terpilihnya Kennedy sebagai presiden Katolik dan khawatir hal tersebut akan merusak nilai-nilai Protestan yang telah lama dianut di Amerika Serikat. Meskipun Pavlick sudah berada di lokasi dengan persiapan yang matang, rencananya gagal karena ia membatalkan niatnya setelah melihat Kennedy bersama istri dan anak-anaknya. Selain itu, perilaku Pavlick yang sering mengirimkan surat-surat bernada ancaman membuat pihak berwenang dapat mendeteksi gerak-geriknya sebelum ia sempat melaksanakan rencananya.
Ronald Reagan
Pada tanggal 30 Maret 1981, Presiden Ronald Reagan menjadi korban penembakan oleh John W. Hinckley Jr. di depan Hotel Washington Hilton setelah menyampaikan pidato. Akibat serangan tersebut, Reagan mengalami luka tembak di paru-paru, sementara sekretaris pers James Brady, seorang agen Dinas Rahasia, dan seorang polisi juga mengalami cedera, demikian dikutip dari New York Times.
Motivasi Hinckley didorong oleh obsesinya terhadap aktris Jodie Foster, yang ingin menarik perhatian Foster melalui tindakan ekstrem yang ia lakukan. Setelah menjalani operasi darurat, Reagan berhasil pulih dari luka-lukanya, sementara Hinckley dinyatakan tidak bersalah karena gangguan jiwa dan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa hingga akhirnya dibebaskan pada tahun 2022.
Donald Trump
Pada malam Sabtu, 25 April 2026, terjadi sebuah insiden upaya pembunuhan saat acara makan malam tahunan koresponden di Hotel Washington Hilton. Pelaku, Cole Tomas Allen, seorang pria berusia 31 tahun dari Torrance, California, yang bekerja sebagai insinyur mekanik, mencoba menerobos pengamanan dan melepaskan tembakan di dekat area pemeriksaan keamanan.
Menurut laporan dari BBC, Allen akhirnya berhasil ditangkap oleh petugas federal. Pada saat kejadian, Presiden Trump yang berada di podium segera dievakuasi oleh Dinas Rahasia ke lantai dan berhasil keluar dari ruangan tanpa mengalami cedera.
Motif di balik serangan ini diduga kuat berkaitan dengan kebencian politik yang mendalam serta ideologi yang ekstrem terhadap pemerintahan Trump. Berdasarkan temuan awal dan dokumen yang diduga sebagai "manifesto" milik pelaku, Allen secara sengaja menargetkan pejabat-pejabat tinggi pemerintahan "dari peringkat tertinggi hingga terendah" karena pandangan anti-Kristen dan tuduhan ekstrem lainnya.
Walaupun diketahui bahwa Allen pernah menyumbang untuk kampanye lawan politik pada tahun 2024, ia tidak memiliki afiliasi partai yang resmi. Insiden ini menjadi catatan sebagai upaya pembunuhan ketiga yang dihadapi Trump dalam dua tahun terakhir.