Pada 30 Maret 1981, Presiden AS Ronald Reagan pernah mengalami upaya pembunuhan serupa dengan Presiden Donald Trump. Menariknya, lokasi peristiwanya sama yakni di Hotel Washington Hilton, DC.
Mengutip dari laman SecretService.gov, Minggu (26/4/2026), insiden itu terjadi kala Reagan bersama tim United States Secret Service meninggalkan acara pidato siang hari di Hotel Washington Hilton, Washington, DC.
Ketika Presiden mendekati limusinnya, seorang pria bersenjata tunggal, John Hinckley Jr., melepaskan tembakan dari kerumunan. Agen Khusus Penanggung Jawab (SAIC) Jerry Parr bersama Asisten Agen Khusus Ray Shaddick segera mendorong Reagan masuk ke dalam kendaraan untuk mengamankannya.
Dalam perjalanan menuju Gedung Putih, Parr memeriksa kondisi Presiden dan menemukan bahwa ia mengalami pendarahan dari mulut.
Menyadari situasi darurat, Parr langsung menginstruksikan pengemudi untuk mengalihkan rute menuju Rumah Sakit George Washington University.
Di sana, tim medis memastikan bahwa Reagan terkena tembakan dan segera melakukan operasi untuk mengangkat peluru dari tubuhnya.
Hinckley melepaskan enam tembakan. Satu tembakan mengenai kepala Sekretaris Pers Gedung Putih James Brady. Tembakan lainnya mengenai leher Petugas Kepolisian Metropolitan Thomas Delahanty.
Agen Khusus Tim McCarthy terkena tembakan di perut saat ia berbalik untuk melindungi presiden. Dua tembakan memantul dari limusin kepresidenan.
Salah satu dari dua tembakan itulah yang mengenai presiden di bawah lengan kirinya, mengenai tulang rusuk dan nyaris mengenai jantungnya. Tembakan keenam melesat melintasi jalan dan menembus jendela.
Advertisement
Selamat
Presiden Ronald Reagan tampil di hadapan sidang gabungan Kongres beberapa bulan setelah upaya pembunuhan terhadap dirinya, dan mendapatkan dukungan publik yang luar biasa.
Insiden tersebut, serta pemulihannya yang tergolong cepat, turut memperkuat citranya sebagai pemimpin yang tangguh.
Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih James Brady mengalami kerusakan otak permanen akibat luka tembak yang dideritanya. Setelah itu, ia menjadi salah satu tokoh yang aktif mendorong pengesahan undang-undang pengendalian senjata api.
Undang-undang tersebut dikenal sebagai Brady Bill atau “RUU Brady”, yang diberi nama untuk menghormatinya.
Aturan ini memperketat proses pembelian senjata api, termasuk dengan mewajibkan pemeriksaan latar belakang bagi setiap calon pembeli.
Advertisement
Upaya Penembakan Presiden Donald Trump
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dievakuasi dari acara jamuan makan malam koresponden Gedung Putih di Hotel Washington Hilton, DC, setelah terdengar suara tembakan di luar lokasi acara.
Insiden pada Sabtu malam itu terjadi ketika Trump dan ibu negara tengah berada di dalam ballroom hotel menjelang dimulainya acara tahunan tersebut.
Dalam pernyataan di platform Truth Social, Trump memuji respons cepat aparat keamanan, khususnya United States Secret Service dan penegak hukum setempat.
“Mereka bertindak cepat dan berani,” ujar Trump. Ia juga menyatakan bahwa pelaku penembakan telah ditangkap.