Ikan Mati Massal! DLH Tasikmalaya Pantau Serius Dampak TPA Ciangir yang Cemari Sungai hingga Manonjaya
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tasikmalaya memantau serius dampak TPA Ciangir setelah keluhan warga soal pencemaran air sungai dan kematian ikan. Apa tindakan selanjutnya?
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, tengah melakukan pemantauan intensif terhadap dampak TPA Ciangir di wilayahnya. Pemantauan ini menyusul keluhan serius dari masyarakat sekitar yang melaporkan pencemaran air sungai. Warga mengklaim air sungai telah terkontaminasi hingga menyebabkan kematian ikan secara massal.
Plt Kepala DLH Kota Tasikmalaya, Hanafi, menegaskan bahwa semua prosedur terkait operasional TPA Ciangir sedang dipantau secara cermat. "Semua prosedur sedang dipantau, termasuk dampaknya di lapangan," kata Hanafi saat dihubungi wartawan melalui telepon seluler di Tasikmalaya, Jumat.
Keresahan masyarakat ini mencuat setelah aliran air sungai di Kecamatan Tamansari dan bahkan hingga ke Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, menunjukkan tanda-tanda pencemaran lingkungan. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam ekosistem perairan dan sumber kehidupan warga yang bergantung pada sungai akibat dampak TPA Ciangir.
Keluhan Warga dan Keresahan Akibat Pencemaran
Aktivitas TPA Ciangir di Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, telah menimbulkan keresahan mendalam di kalangan masyarakat. Dampak TPA Ciangir terutama terlihat pada aliran air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi banyak warga.
Umar, seorang warga Sinargalih, Kecamatan Tamansari, mengungkapkan kekhawatirannya. Ia menyebutkan bahwa pencemaran lingkungan akibat TPA Ciangir telah menyebabkan air sungai dan kolam menjadi keruh. Kondisi ini berdampak langsung pada kematian ikan yang menjadi mata pencarian sebagian warga.
Wawan, warga Sinargalih lainnya, mendesak pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini. Menurutnya, dampak pencemaran telah menyebabkan air sungai menghitam, ikan mati, dan kolam rusak. "Kami hanya ingin air tetap bersih, kalau sungai rusak, hidup kami juga ikut rusak," kata Wawan, menyoroti ketergantungan warga pada kondisi sungai.
Keluhan serupa juga datang dari Nadar, warga Cibeber, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya. Ia melaporkan banyaknya ikan kecil yang mati di Sungai Cikembang. Air di aliran sungai itu, yang biasanya jernih, kini tampak keruh dengan kondisi pekat kehitaman, disertai banyak bangkai ikan mengapung di permukaan air. "Ini terparah, tahun lalu tidak sampai sini. Ikan-ikan mati," ujar Nandar, menunjukkan tingkat keparahan dampak TPA Ciangir kali ini.
Respons DLH dan Upaya Mitigasi TPA Ciangir
Menanggapi keluhan masyarakat, Plt Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pengelola TPA Ciangir, Deni Indra, tidak menampik kemungkinan adanya dampak TPA Ciangir dari aktivitas tempat pembuangan sampah tersebut. Ia mengakui bahwa memang ada dampak yang terjadi dan pihaknya sedang berupaya melakukan pembenahan.
"Kami akui ada dampak yang terjadi karena itu kami sedang berbenah, dan kami berniat bertemu warga untuk membicarakan solusi," kata Deni. Pengelola TPA Ciangir berkomitmen untuk meminimalisasi dampak negatif yang ditimbulkan. Mereka juga berencana untuk segera bertemu dengan masyarakat guna membahas persoalan ini secara langsung.
Sebagai langkah konkret, Deni Indra menyampaikan bahwa TPA Ciangir saat ini sedang menyiapkan sistem filtrasi. Sistem ini bertujuan untuk mengurangi efek air lindi yang selama ini dituding sebagai penyebab utama pencemaran lingkungan. Air lindi merupakan cairan yang terbentuk dari proses dekomposisi sampah dan dapat membawa polutan berbahaya, sehingga penanganannya krusial untuk mengurangi dampak TPA Ciangir.
Masyarakat di Manonjaya maupun Tamansari sangat bergantung pada aliran sungai dan kolam ikan sebagai sumber penghasilan. Air sungai digunakan untuk irigasi, perikanan, bahkan sebagian warga menggantungkan kebutuhan domestik pada sumur yang terhubung dengan aliran air tanah di sekitar sungai. Kekhawatiran akan cemaran yang sampai ke kolam atau sumur warga menjadi sangat tinggi. "Kami khawatir cemaran ini sampai ke kolam atau sumur warga. Airnya hitam sekali, takut gatal kalau dipakai," tambah Nandar, menggambarkan kekhawatiran akan kesehatan dan keberlangsungan hidup.
Sumber: AntaraNews