Sekolah dari Sampah Plastik Berdiri di Lombok, Diklaim Tahan Gempa
Empat ruang kelas berbahan 100 persen plastik daur ulang hadir di Lombok Timur. Bangunan tahan gempa ini membantu pemulihan pendidikan pascagempa 2018.
Empat ruang kelas berwarna hijau berdiri kokoh di lingkungan SDN 2 Pohgading, Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Sekilas bangunan itu terlihat seperti ruang belajar permanen pada umumnya.
Namun dindingnya tersusun dari blok yang seluruhnya dibuat dari sampah plastik daur ulang.
Bangunan tersebut menjadi bagian dari upaya pemulihan pendidikan pascagempa Lombok 2018 yang sempat merusak sejumlah fasilitas sekolah di wilayah itu.
SDN 2 Pohgading yang memiliki 342 siswa dan 14 rombongan belajar masih membutuhkan tambahan ruang kelas setelah beberapa bangunan mengalami kerusakan berat akibat gempa berkekuatan 7,0 magnitudo delapan tahun lalu.
Belajar Bertahun-Tahun di Ruang Sementara
Kepala SDN 2 Pohgading, Rusman, mengatakan empat ruang kelas di sekolahnya rusak parah setelah gempa sehingga tidak dapat digunakan kembali. Selama bertahun-tahun, kegiatan belajar mengajar terpaksa dilakukan di bangunan sementara.
"Jadi dulu ini kan sekolah biasa seperti pada umumnya gitu ya. Kenapa ini dibangun? Karena dulu dampak gempa. Jadi dampak gempa yang berkekuatan 7,0 SR dulu menghancurkan bangunan ini, sehingga proses belajar mengajar ya kita dapati kelas sementara," kata Rusman, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, kehadiran ruang kelas baru memberikan perubahan besar bagi kenyamanan belajar siswa. Sebelumnya, para murid harus belajar di ruang darurat yang panas saat cuaca terik dan berisik ketika hujan turun.
"Terbukti ketika anak-anak ini diberikan tempat setelah dia diserahterimakan oleh donaturnya, alhamdulillah anak-anak kami gembira di dalam kegiatan proses pembelajaran. Intinya menyenangkanlah gitu," ujarnya.
Ruang kelas tersebut dibangun melalui program Classroom of Hope, organisasi nirlaba asal Australia yang fokus menyediakan fasilitas pendidikan bagi masyarakat terdampak bencana.
Dibangun dari Plastik Daur Ulang dan Tahan Gempa
Manajer Program Classroom of Hope, Rachel Conroy, menjelaskan program itu bermula setelah gempa Lombok 2018 ketika banyak sekolah membutuhkan ruang belajar darurat.
"Saat gempa terjadi, kami dihubungi oleh pendiri Classroom of Hope. Mereka menghubungi kami dan bertanya, 'Apa yang kalian butuhkan di lapangan?' Dan kami menjawab, yang kami butuhkan adalah sekolah pop-up," kata Rachel.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan pendidikan tidak lagi sebatas ruang darurat. Classroom of Hope kemudian mengembangkan konsep sekolah permanen menggunakan blok berbahan plastik daur ulang yang dirancang tahan gempa.
"Blok ini dirancang untuk bertahan selama 100 tahun atau lebih, dan dibuat dari plastik daur ulang dari seluruh Indonesia oleh perusahaan bernama Block Solutions, yang memiliki pabrik di Mataram," ujarnya.
Setiap ruang kelas menggunakan sekitar 1,5 ton plastik daur ulang. Material tersebut dipilih karena lebih ringan dan fleksibel dibandingkan bahan bangunan konvensional sehingga dinilai lebih aman saat terjadi gempa.
Hingga saat ini Classroom of Hope telah membangun 50 sekolah blok di Lombok yang mencakup 184 ruang kelas dan 104 toilet.
Perwakilan Classroom of Hope, Satriawan Amri, mengatakan teknologi blok tersebut awalnya berasal dari Finlandia sebelum akhirnya diproduksi di Lombok Barat. Pabrik yang beroperasi di Lombok kini menjadi fasilitas pertama di Asia yang memproduksi material tersebut.
"Kami berpikir bagaimana mendapatkan material yang tepat, cepat dibangun, dan tahan gempa karena kita berada di Ring of Fire. Akhirnya kami menemukan produk Block Solutions dari Finlandia," kata Satriawan.
Sementara itu, Project Coordinator Happy Hearts Indonesia, Upan Thamrin, menyebut konsep sekolah blok tidak hanya menghadirkan ruang belajar yang aman, tetapi juga menjadi solusi pengelolaan sampah plastik.
"Jadi memang konsepnya selain kelas yang aman, nyaman, dan berkualitas untuk anak, juga ini adalah ramah lingkungan. Ini juga selain menjawab kebutuhan ruang kelas, juga menjawab salah satu permasalahan kita saat ini yaitu isu sampah plastik," ujarnya.
Menurut Upan, bangunan tersebut dirancang mampu menahan guncangan gempa hingga magnitudo 8. Proses pembangunannya pun relatif cepat karena blok-blok disusun tanpa menggunakan semen.
"Sebagai gambaran sebenarnya untuk satu ruang kelas setelah pondasi jadi itu, satu ruang kelas itu 8 jam itu selesai. Karena tidak menggunakan semen. Ini seperti kita menyusun Lego," katanya.