FOTO: Pesona Tari Perang Caci di Kota Surabaya
Para pria Manggarai Nusa Tenggra Timur mengikuti Caci yaitu ritual adu cambuk di Stadion Galing Surabaya, Minggu (03/08/2025).
Suara cambuk menggelegar membelah udara Surabaya pada Minggu (03/08/2025), saat para pria dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mempersembahkan Tari Caci, sebuah ritual adu cambuk penuh makna yang merupakan warisan budaya leluhur. Diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Besar Manggarai Surabaya (IKEMAS), pertunjukan ini bukan sekadar atraksi visual, melainkan perwujudan kekayaan tradisi yang dibawa dari timur Indonesia ke jantung Kota Pahlawan.
Tari Caci merupakan tarian perang sekaligus permainan rakyat khas Kabupaten Manggarai. Dua pria tampil saling berhadapan: satu sebagai penyerang membawa cambuk (larik), sementara yang lain bertahan dengan perisai bundar (nggiling). Gerakan dinamis dan ritme benturan cambuk menciptakan ketegangan yang memikat penonton.Lebih dari sekadar pertunjukan fisik, Tari Caci menyimpan filosofi mendalam tentang keberanian, sportivitas, dan persaudaraan. Dalam setiap ayunan dan tangkisan, tersirat pesan solidaritas dan kehormatan yang diwariskan secara turun-temurun.
Di tanah asalnya, Caci memiliki makna akral dan biasanya digelar dua kali dalam setahun: saat perayaan syukur panen (hang waja) dan upacara Tahun Baru adat (penti). Tarian ini juga kerap dipentaskan untuk menyambut tamu kehormatan dan dalam perhelatan budaya besar lainnya.