Serunya Pertunjukan Angklung Caruk Banyuwangi, Lomba Curi Perhatian Tampilkan Lagu dan Tarian Meriah
Salah satu seni pertunjukan paling meriah di Banyuwangi.
Salah satu seni pertunjukan paling meriah di Banyuwangi.
Serunya Pertunjukan Angklung Caruk Banyuwangi, Lomba Curi Perhatian Tampilkan Lagu dan Tarian Meriah
Sejarah
Alat musik yang terbuat dari bambu ini berasal dari Pulau Jawa, khususnya tanah Sunda. Konon, alat musik angklung sudah ada di tatar Sunda semenjak zaman Kerajaan Sunda.
Saat penjajah Jepang masuk di
Banyuwangi, tembang using (lagu Banyuwangi) memasuki babak baru. Muncul kreasi baru, yakni instrumen Angklung.
Ada beberapa jenis Angklung Banyuwangian, di antaranya Angklung Caruk, Angklung Paglak, Angklung Tetak, Angklung Dwi Laras, dan dan Angklung Blambangan
Sejarah seni Angklung Caruk dimulai dengan adanya Angklung
Paglak. Sekitar tahun 1921, Mbah Durning, orang Bali yang menetap di Banyuwangi menambahkan instrumen alat musik Angklung dengan tambahan alat musik dari Bali seperti slentem, saron dan ketuk.
Pada tahun 1938 mulai dimainkan adu gending antara daerah satu dengan daerah lain. Adu gending ini dinamakan Angklung Caruk. Saat itu, Angklung caruk berkembang pesat di kalangan masyarakat suku Using Banyuwangi.
Angklung di
Banyuwangi memiliki fungsi dan cara memainkan yang berbeda-beda.
Cara Memainkan
Mengutip Instagram @jatimpemprov, caruk merupakan kata asli Banyuwangi yang artinya pertemuan.
Angklung Caruk dimainkan dua grup angklung yang saling berhadapan. Pelaksanaannya, masing-masing grup angklung bergantian membawakan lagu berbahasa using dan tarian. Lagu yang dibawakan berisi pesan-pesan bijak untuk penonton pertunjukan.
Apabila satu grup menampilkan lagu dengan tarian yang memukau penonton, maka grup lainnya
harus tampil lebih meriah lagi. Grup yang tampil paling merih itulah yang menjadi pemenang dalam pertunjukan Angklung Caruk.
Angklung Caruk dulunya sering melibatkan kekuatan supranatural untuk saling menjatuhkan lawan. Sekarang sudah makin positif karena para penonton sportif menghadapi kekalahan dan kemenangan.
Pasang Surut
Pada tahun 1965 hingga 1972 tidak ada yang berani memainkan Angklung Caruk. Hal ini disebabkan adanya peristiwa gerakan 30 September yang mengakibatkan ketakutan dan trauma mendalam bagi masyarakat.
Mengutip skripsi berjudul Dinamikan Kesenian Tradisional Angklung Caruk Kabupaten Banyuwangi Tahun 1999-2018 karya Arista Nortaviana (UNEJ, 2019), sekitar tahun 1970-an kesenian Angklung Caruk sudah kembali dimainkan.Pada tahun 1999 yakni saat pemerintahan Bupati Banyuwangi Samsul Hadi, angklung caruk mendapatkan perhatian lebih serius.
Sejak saat itu hingga kini, angklung caruk kerap dimainkan pada festival-festival maupun berbagai acara resmi di Banyuwangi.