Bupati Banyuwangi: Pusat Seni Budaya di Patoman Jaga Tradisi Lokal dan Ruang Kreatif Generasi Muda

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya keberadaan Pusat Seni Budaya di Dusun Patoman Tengah untuk melestarikan tradisi lokal sekaligus menjadi wadah kreativitas generasi muda.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Bupati Banyuwangi: Pusat Seni Budaya di Patoman Jaga Tradisi Lokal dan Ruang Kreatif Generasi Muda
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pentingnya keberadaan Pusat Seni Budaya di Dusun Patoman Tengah untuk melestarikan tradisi lokal sekaligus menjadi wadah kreativitas generasi muda. (AntaraNews)

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyoroti peran vital pusat seni budaya yang berlokasi di Dusun Patoman Tengah, Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu (10/5), menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pelestarian warisan budaya. Keberadaan pusat ini dinilai sangat penting untuk menjaga kelangsungan tradisi lokal yang kaya di wilayah tersebut.

Selain berfungsi sebagai benteng pelestarian budaya, pusat seni ini juga diharapkan mampu menjadi wadah inspiratif. Tempat ini akan membentuk ruang kreatif yang subur bagi generasi muda Banyuwangi. Inisiatif ini merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa nilai-nilai budaya tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

Dusun Patoman Tengah memiliki kekhasan tersendiri, dikenal pula sebagai Dusun Balian oleh masyarakat setempat. Julukan ini melekat karena mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, mencerminkan keragaman budaya yang menjadi ciri khas Banyuwangi.

Patoman, Dusun Toleransi dengan Potensi Seni Budaya

Dusun Patoman Tengah tidak hanya dikenal karena mayoritas penduduknya beragama Hindu, tetapi juga karena masyarakatnya yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama. Kehidupan berdampingan yang harmonis ini menjadikan Dusun Patoman sebagai contoh nyata kerukunan di Banyuwangi. Rumah-rumah penduduk di dusun ini bahkan memiliki arsitektur yang mirip dengan rumah-rumah di Pulau Bali, lengkap dengan keberadaan pura sebagai tempat ibadah.

Selain toleransi, dusun ini juga menyimpan potensi seni budaya yang luar biasa. Berbagai kesenian tradisional terus dilestarikan dan dikembangkan oleh warganya. Hal ini menjadikan Dusun Patoman sebagai salah satu sentra penting bagi pengembangan seni dan budaya lokal.

Dusun ini juga menjadi rumah bagi para pelaku UMKM kreatif yang terus berkembang pesat. Salah satu contohnya adalah usaha seni ukir kayu dan pasir yang dirintis oleh Kayan Suartana. Keberadaan UMKM ini turut memperkuat identitas Dusun Patoman sebagai kampung seni yang dinamis.

Dedikasi Seniman dan Perkembangan UMKM Lokal

Kayan Suartana, seorang seniman lokal, telah merintis usahanya di Banyuwangi sejak tahun 2000. Ia tidak hanya fokus pada seni ukir, tetapi juga aktif sebagai seniman tari dan musik tradisional. Dedikasinya dalam melestarikan budaya melalui seni ukir telah mendapatkan pengakuan luas.

Atas kontribusinya, Kayan Suartana bahkan menerima penghargaan tali kasih dari mantan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, pada tahun 2015. Penghargaan ini menjadi bukti apresiasi terhadap upaya Kayan dalam menjaga dan mengembangkan seni tradisional. Usaha Kayan terus berkembang, memproduksi berbagai kerajinan berbahan kayu dan pasir pantai.

Produk-produknya meliputi ornamen rumah hingga patung artistik yang memiliki nilai seni tinggi. Pemasaran produknya telah menjangkau berbagai daerah, mulai dari Bali, Nganjuk, hingga Jawa Tengah. Hal ini menunjukkan bahwa potensi ekonomi dari sektor seni di Dusun Patoman sangat menjanjikan.

Tidak hanya dari sektor seni dan budaya, potensi ekonomi Dusun Patoman juga diperkaya oleh budidaya Cabai Jawa atau Cabai Puyang. Warga setempat mulai mengembangkan komoditas ini karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Diversifikasi ekonomi ini menunjukkan inovasi dan semangat kewirausahaan masyarakat Patoman.

Kampung Pancasila dan Pusat Kegiatan Komunitas

Kepala Dusun Patoman Tengah, I Gede Yuda Permana, menegaskan bahwa masyarakat di dusunnya hidup berdampingan dalam semangat gotong royong. Mereka saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial, tanpa memandang perbedaan agama. Kondisi ini membuat Dusun Patoman dikenal luas sebagai "Kampung Pancasila" karena tingginya toleransi antarumat beragama.

I Gede Yuda Permana menambahkan, selama ini tidak pernah ada masalah terkait perbedaan keyakinan. "Kalau umat Hindu ada kegiatan, umat lain ikut membantu, dan begitu juga sebaliknya, jadi saling mengisi," katanya. Saling mengisi dan mendukung ini menciptakan lingkungan sosial yang sangat kondusif.

Di Dusun Patoman, terdapat Pura Desa yang memiliki fungsi ganda. "Di sini terdapat Pura Desa yang tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat aktivitas seni dan budaya masyarakat," ujar I Gede Yuda Permana. Anak-anak hingga remaja secara rutin belajar agama, tari tradisional, gamelan, dan berbagai kesenian daerah lainnya di Pura Desa.

Pura Desa menjadi jantung kegiatan pelestarian budaya, memastikan bahwa generasi muda terus terhubung dengan akar tradisi mereka. Melalui berbagai kegiatan ini, Dusun Patoman terus menjaga identitasnya sebagai pusat seni dan budaya yang kaya akan nilai-nilai luhur.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi