Fadli Zon Bantah Hilangkan Kongres Perempuan dalam Penulisan Ulang Sejarah
Fadli menegaskan justru dalam penulisan ulang ini ingin memperkuat adanya keterlibatan perempuan dalam sejarah Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menjelaskan, penulisan ulang sejarah nasional tidak akan menghapus peristiwa Kongres Perempuan di dalamnya. Fadli menanggapi kabar menyesatkan di media sosial terkait hal tersebut.
"Kita ingin masalah yang sekarang ini sedang simpang siur di sosmed, banyak berita-berita hoaks yang kita mungkin juga melihatnya agak menyesatkan. Ini perlu kita luruskan. Terutama terkait dengan judgement seolah-olah buku ini ada dan seolah-olah seperti ini, itu," kata Fadli dalam rapat kerja dengan Komisi X di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (26/5).
Politisi Gerindra ini menekankan, pihaknya justru ingin memperkuat adanya keterlibatan perempuan dalam sejarah Indonesia. Bukan malah menghilangkan sejarah perempuan di Indonesia.
"Misalnya tadi yang disampaikan ada upaya untuk menghilangkan kongres perempuan. Padahal justru kita ingin memperkuat adanya keterlibatan perempuan di dalam sejarah itu. Kemudian juga hal hal yang lain," tuturnya.
Fadli menerangkan, pihaknya telah membuat satu tim yang melibatkan 113 penulis.113 penulis ini terdiri dari sejarawan bergelar guru besar, profesor atau doktor di bidang sejarah. Tim penulis ini berasal dari Aceh sampai Papua.
"Termasuk ada arkeolog, ada yang latar belakang arsitektur dari 34 perguruan tinggi dan 8 institusi, dan 113 penulis," ujarnya.
"Ada 20 editor jilid dan 3 editor umum, semuanya dari kalangan akademisi tadi arkeolog, geografi, sejarah, ilmuwan humaniora lainnya," sambungnya.