Program Kementerian Kebudayaan terkait penulisan ulang sejarah Indonesia masih menjadi polemik.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, tidak masalah dengan pro kontra yang terjadi. Namun dia menggarisbawahi, jangan sampai kondisi ini dimanfaatkan orang-orang yang berniat mengadu domba.
Fadli menegaskan, sedianya cerita sejarah menjadi alat pemersatu bangsa dari berbagai macam perbedaan dan kelemahan-kelemahan di negara tersebut.
"Tapi jangan sampai kita masuk dalam narasi adu domba dari kekuatan asing ketika itu yang memang ingin mem-frame," ujar di Gedung DPR, Rabu (2/7).
Dia mencontohkan konflik di Ambon di awal reformasi. Di mana peristiwa itu dibawa ke arah konflik religius. Baginya, narasi itu perlu diwaspadai sebagai cara untuk memecah belah. Sehingga perlu membandingkan dengan data dan fakta hukum yang ada.
Kemudian terkait perkosaan massal di tahun 1998. Dalam sebuah pemberitaan, katanya, dituliskan sempat terdengar pekik takbir sebelum pemerkosaan massal terjadi dan pelakunya mencirikan profesi tertentu. Baginya informasi itu lebih baik ditambahkan dengan ketelitian pendokumentasian yang kuat.
"Kalau ada kita harus kutuk dan harus kecam orang yang melakukan itu. Harus!" katanya.
Tak hanya narasi tersebut yang diembuskan, dia juga melihat kalimat itu seolah dikuatkan dengan foto-foto pemerkosaan massal yang ternyata bukan di Indonesia melainkan di Hongkong dan di Jepang.
"Jadi ada hal-hal pendokumentasian lebih teliti," ujarnya.