Fadli Zon Dorong Ekspor Budaya Digital Indonesia, Bidik Pasar Global
Menteri Kebudayaan Fadli Zon bertekad membawa Indonesia dari konsumen menjadi produsen dan eksportir budaya digital, khususnya animasi dan gim, melalui kolaborasi internasional.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan harapan besar agar talenta Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen, pencipta, pengembang, dan eksportir kekayaan intelektual (KI) budaya digital. Pernyataan ini disampaikan Fadli Zon saat peresmian Pusat Penelitian dan Pengembangan Bersama Animasi dan Video Game Sino-Indonesia di Shanghai, China, pada Minggu. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global dalam industri kreatif digital.
Menurut Fadli Zon, Indonesia memiliki potensi besar untuk bergerak maju dalam Ekspor Budaya Digital Indonesia, dengan memanfaatkan kekayaan budaya sebagai sumber narasi yang tak terbatas. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan penguatan ekosistem yang komprehensif. Aspek-aspek seperti pembiayaan, riset, teknologi, manajemen produksi, peningkatan kualitas talenta, pemasaran, distribusi, serta perlindungan KI menjadi krusial dalam upaya ini.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kebudayaan, berkomitmen penuh untuk mendukung inisiatif ini guna memastikan bahwa Indonesia dapat bersaing di pasar global. Kolaborasi internasional, seperti dengan Tiongkok, diharapkan dapat menjadi jembatan penting dalam mewujudkan visi Indonesia sebagai pemain utama dalam industri budaya digital. Fokus pada Ekspor Budaya Digital Indonesia diharapkan membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat diplomasi budaya.
Potensi Besar dan Tantangan Ekspor Budaya Digital Indonesia
Fadli Zon menekankan bahwa animasi dan gim merupakan bagian fundamental dari Cultural and Creative Industries (CCIs) yang memiliki nilai sangat strategis. Industri gim global diproyeksikan mencapai valuasi lebih dari 275 miliar dolar AS pada tahun 2026, didorong oleh perkembangan pesat mobile gaming, e-sports, cloud gaming, dan distribusi digital. Angka ini menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa bagi negara-negara yang mampu berinovasi di sektor ini.
Indonesia sendiri mencatatkan angka yang impresif pada kuartal I 2026, dengan 870 juta unduhan mobile game dan memiliki sekitar 192 juta gamer. Jumlah ini mencakup sekitar 43 persen dari total pemain gim di Asia Tenggara, menunjukkan pasar domestik yang sangat besar dan aktif. Namun, di balik angka tersebut, terdapat tantangan signifikan yang perlu diatasi untuk mendorong Ekspor Budaya Digital Indonesia.
Meskipun nilai pasar gim domestik Indonesia diperkirakan mencapai 2,5 miliar dolar Amerika Serikat, sayangnya pasar ini masih didominasi oleh gim asing. Ini menjadi perhatian utama bagi pemerintah dan pelaku industri. Oleh karena itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendorong agar Indonesia segera beralih dari sekadar menjadi konsumen menjadi produsen dan eksportir karya digital yang kompetitif. Upaya ini memerlukan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan industri.
Kolaborasi Sino-Indonesia sebagai Katalisator Ekspor Budaya Digital
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menilai Tiongkok sebagai salah satu pusat utama industri budaya digital dunia, dengan ekosistem teknologi yang sangat kuat. Tiongkok memiliki skala produksi, jaringan industri, distribusi, dan kemampuan komersialisasi yang mumpuni. Ini menjadikan Tiongkok mitra strategis bagi Indonesia dalam mengembangkan Ekspor Budaya Digital Indonesia.
Di sisi lain, Indonesia diberkahi dengan cadangan budaya terkaya di dunia, yang dapat menjadi sumber narasi, karakter, dan visualitas tak terbatas bagi pengembangan karya digital. "Bagi para kreator, Indonesia adalah semesta cerita," ujar Fadli Zon. Ia menambahkan bahwa tantangannya adalah bagaimana kekayaan budaya ini diolah secara kreatif, akurat, dan kompetitif, serta bagaimana budaya dapat menjadi sumber pengetahuan, narasi, karakter, dan world-building yang kuat, bukan hanya ornamen visual.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Bersama Animasi dan Video Game Sino-Indonesia diharapkan dapat menjadi jembatan vital antara teknologi Tiongkok dan imajinasi budaya Indonesia. Kolaborasi ini juga diharapkan menghubungkan talenta muda kedua bangsa dengan pasar global, serta memperkuat persahabatan diplomatik melalui karya kreatif yang nyata. Inisiatif ini akan berfokus pada pengembangan KI bersama, penguatan talenta, kolaborasi lintas sektor, pengembangan basis data budaya digital secara bertanggung jawab, perluasan akses karya ke pasar Indonesia, China, Asia Tenggara, dan global, serta penguatan diplomasi budaya melalui karya digital.
Sumber: AntaraNews