Nyeri Dada Jangan Langsung Dikerok, Dokter Ungkap Risikonya
Dokter jantung mengingatkan kerokan bukan pertolongan pertama untuk nyeri dada. Gejala tertentu perlu segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.
Kerokan masih menjadi cara yang kerap dipilih masyarakat Indonesia saat merasa tidak enak badan.
Namun, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah mengingatkan metode tradisional tersebut tidak dianjurkan sebagai penanganan awal bagi seseorang yang mengalami nyeri dada.
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Febtusia Puspitasari, menjelaskan kerokan justru menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil di permukaan kulit yang ditandai munculnya warna kemerahan pada area yang dikerok.
“Jangan, karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah, jadi merah itu adalah pembuluh darah. Ada macam-macam pembuluh darah ada yang di dalam,” kata Febtusia dikutip dari Liputan6.com, Kamis (11/6/2026).
Kerokan Hanya Memberi Efek Sementara
Menurut Febtusia, rasa nyaman yang muncul setelah kerokan umumnya berasal dari efek hangat balsem yang digunakan serta faktor sugesti. Sensasi tersebut tidak mengatasi penyebab utama keluhan, terutama jika berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah jantung.
Ia menjelaskan balsem memang dapat memicu pelebaran pembuluh darah, tetapi efeknya hanya berlangsung sesaat.
“Kalau balsam itu kan hangat. Pada saat tubuh itu udah hangat, maka pembuluh darah itu akan melebar efeknya, tapi secara instan dan tidak panjang efek itu. Sedangkan obat-obatan misalnya pengencer darah itu efeknya long term. Jadi kalau balsam dia hanya short expect saja,” tuturnya.
Karena itu, kerokan tidak dapat dijadikan solusi untuk mengatasi sumbatan pembuluh darah atau gangguan kardiovaskular lainnya yang membutuhkan penanganan medis.
Kenali Tanda Nyeri Dada Berbahaya
Febtusia menyarankan masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila menemukan anggota keluarga atau orang terdekat mengalami nyeri dada. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah membantu pasien tetap tenang dan nyaman.
“Kalau orang itu cemas, gerasak gerusuk malah akan memperberat. Yang pasti adalah membuat orang itu tenang, misalnya dia pakai dasi kita longgarkan. Pokoknya membuat dia nyaman dulu,” sarannya.
Jika tersedia, pemberian oksigen juga dapat membantu sebagai pertolongan awal sebelum pasien dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Ia mengingatkan nyeri dada yang semakin sering muncul, sulit ditunjukkan secara spesifik letaknya, atau disertai gejala lain seperti sesak napas, mual, dan keringat dingin perlu diwaspadai karena bisa berkaitan dengan gangguan jantung.
“Kalau nyeri dada yang dengan ada perubahan posisi itu biasanya bukan dari jantung. Tapi kalau misalnya dia enggak bisa pointing ‘kok makin lama makin intensitasnya makin sering ya’, disertai dengan keluhan yang lain (sesak napas, mual, keringat dingin), itu harus kita waspadai,” tuturnya.
Dalam dunia medis, kondisi tersebut dapat mengarah pada angina pektoris, yakni keadaan ketika otot jantung tidak memperoleh pasokan darah dan oksigen yang cukup, dengan salah satu gejala utamanya berupa nyeri dada.