Menteri Fadli Zon Tekankan Budaya sebagai Penopang Ekonomi Budaya Inklusif
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya budaya sebagai fondasi ekonomi budaya inklusif dan berkelanjutan, menjadikannya 'engine of growth' yang tak akan habis.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon pada Jumat (23/1/2026) menegaskan peran krusial budaya sebagai penopang utama ekonomi inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. Penekanan ini disampaikan dalam pidato bertajuk “Kekayaan Budaya Sebagai Penopang Ekonomi Inklusif dan Berkelanjutan” pada acara “Starting Year Forum 2026” di Jakarta.
Menurut Fadli Zon, budaya memiliki potensi besar untuk menjadi “engine of growth” yang mendorong kemajuan ekonomi, sebuah pendekatan yang telah banyak diterapkan oleh negara-negara maju. Konsep ini dikenal sebagai cultural economy and industry atau cultural and creative industry (CCI).
Berbeda dengan sumber daya alam yang terbatas, kekayaan budaya bersifat abadi dan terus berkembang, menjadikannya aset strategis bangsa. Oleh karena itu, pemanfaatan budaya untuk ekonomi menjadi sangat relevan dalam konteks pembangunan nasional.
Kekuatan Tak Terbatas Budaya dalam Ekonomi Nasional
Menteri Fadli Zon menjelaskan bahwa sumber daya alam seperti batu bara, nikel, minyak, dan gas akan habis pada suatu saat. Namun, budaya tidak akan pernah habis dan justru menjadi fondasi bagi negara-negara maju saat ini yang bertumpu pada industri budaya dan kreatif.
Indonesia, sebagai salah satu peradaban tertua di dunia, memiliki lebih dari 1.300 kelompok etnik dan 718 bahasa daerah, sebuah kekayaan yang luar biasa.
Bahkan, jurnal sains bergengsi dunia, Nature, pada 22 Januari 2026, menerbitkan hasil penelitian yang menyatakan bahwa lukisan figuratif tertua di dunia berada di Indonesia, sebuah pengakuan global atas ekspresi budaya bangsa.
Kekayaan ini merupakan modal besar yang harus dilindungi, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara maksimal, di mana peran ekonomi budaya dan industri budaya menjadi sangat penting.
Potensi Ekonomi dari Warisan Budaya Indonesia
Indonesia kini memiliki ratusan cagar budaya nasional serta ribuan warisan budaya tak benda yang terus meningkat kualitas dan jumlahnya. Museum Nasional Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana kebudayaan dapat memberikan dampak ekonomi signifikan.
Museum tersebut mengalami lonjakan pengunjung hingga ratusan persen, menghasilkan pendapatan melalui tiket masuk, pameran, dan pengembangan produk turunan seperti merchandise dan kuliner.
Kebudayaan dalam perspektif nasional mencakup sepuluh objek pemajuan kebudayaan, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Objek-objek ini meliputi bahasa, manuskrip, ritus, adat istiadat, hingga seni, film, sastra, dan budaya digital.
Pemanfaatan objek-objek ini secara kreatif dapat membuka peluang ekonomi baru dan memperkuat identitas bangsa di kancah global.
Kolaborasi dan Komitmen untuk Pemajuan Budaya
Menteri Kebudayaan Fadli Zon berharap adanya keterlibatan aktif dari kalangan bisnis, dunia usaha, dan sektor swasta. Kolaborasi ini dapat terwujud melalui filantropi dan board of trustees museum serta cagar budaya, sebagaimana praktik yang lazim di banyak negara.
Selain sebagai penggerak ekonomi, kebudayaan juga ditegaskan sebagai kekuatan jati diri dan pemersatu bangsa, berfungsi sebagai “binding power” bagi Indonesia.
Pembentukan Kementerian Kebudayaan oleh Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmen serius negara dalam memajukan kebudayaan Indonesia di tengah peradaban dunia.
Menteri Fadli mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung pemajuan kebudayaan nasional, memastikan kekayaan budaya terus lestari dan memberikan manfaat optimal bagi kesejahteraan bangsa.
Sumber: AntaraNews