Di Depan Mitra Kemenhut, Menhut Paparkan Dua Program Prioritas
Raja Juli Antoni menekankan transformasi paradigma kehutanan menuju pendekatan multi usaha kehutanan, sebagai strategi membuka potensi kawasan hutan.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menggelar acara halal bihalal bersama para duta besar dan mitra strategis Kementerian Kehutanan. Selain menjadi ajang silaturahmi, momentum ini juga dimanfaatkan Menhut Raja Antoni untuk memaparkan sejumlah program prioritas nasional sektor kehutanan.
"Halal bihalal tidak hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang refleksi dan hubungan kembali. Dalam semangat ini, kita tidak hanya berkumpul sebagai rekan kerja, tetapi sebagai komunitas yang berkomitmen untuk menjaga hutan dan masa depan planet kita," kata Menhut Raja Antoni dalam keterangannya, Sabtu (12/4).
Dalam paparannya, Menhut menekankan transformasi paradigma kehutanan menuju pendekatan multi usaha kehutanan, sebagai strategi membuka potensi kawasan hutan secara berkelanjutan dan inklusif.
"Saya menggunakan kesempatan ini untuk menyoroti dan berbagi beberapa prioritas utama Kementerian Kehutanan pada periode saat ini, yang mana kami percaya kolaborasi yang lebih kuat akan sangat penting," ujar Raja Antoni.
Ia menjelaskan, konsep kehutanan multi usaha mencakup pengembangan ekowisata, hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, dan agroforestry, yang tetap menjaga kelestarian ekologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kami berfokus pada penerapan kehutanan multi usaha kehutanan. Pendekatan ini adalah tentang bergerak melampaui praktik kehutanan tradisional untuk membuka potensi penuh kawasan hutan melalui pemanfaatan berkelanjutan, seperti ekowisata, hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, dan agroforestry, sambil tetap menjaga keseimbangan ekologi dan menghormati nilai-nilai sosial," tuturnya.
"Model ini sangat penting untuk memberdayakan masyarakat hutan, meningkatkan ekonomi lokal, dan mencapai distribusi manfaat hutan yang lebih adil," sambungnya.
Bentuk Tim Khusus dan Dorong Dukungan Inovasi
Untuk mempercepat implementasi program ini, Menhut telah membentuk tim kerja khusus, serta mengajak para mitra kementerian untuk terlibat dalam aspek kapasitas, inovasi, dan akses pasar.
"Untuk tujuan ini, saya baru saja mengeluarkan keputusan menteri mengenai tim kerja untuk mempercepat penerapan kehutanan multi-bisnis regeneratif. Agar program ini berhasil, kami juga memerlukan dukungan dari mitra kami, terutama dalam hal peningkatan kapasitas, akses pasar yang lebih luas, inovasi, dan investasi. Keterlibatan Anda dapat membantu kami memastikan bahwa kehutanan multi-bisnis bersifat inklusif dan layak secara ekonomi," ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Raja Antoni juga menegaskan komitmennya pada percepatan pengakuan hutan adat sebagai bagian dari kebijakan perhutanan sosial dan perlindungan masyarakat adat.
"Kami memprioritaskan percepatan pengakuan hutan adat, atau penetapan resmi hutan adat... Kami percaya bahwa pengakuan dan perlindungan hak-hak mereka bukan hanya masalah keadilan, tetapi juga langkah strategis untuk tata kelola hutan yang berkelanjutan," tuturnya.
Di akhir sambutannya, Raja Antoni menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk membangun sektor kehutanan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman dan tantangan global.
"Prioritas tersebut mencerminkan visi kami yang lebih luas yaitu membangun sektor kehutanan yang lebih adaptif, inklusif, dan tangguh, sejalan dengan tujuan pembangunan nasional Indonesia dan komitmen lingkungan global," pungkasnya.