Cara Halus Jaringan Terorisme Rekrut Pelajar, Dibuat Tertarik dan Nyaman untuk Ngobrol
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap cara penyebaran propaganda itu dilakukan menyesuaikan usia.
Anak-anak dan pelajar kini telah menjadi sasaran baru para pelaku jaringan terorisme. Sejumlah cara mereka lakukan demi mendapat perhatian calon korban yang akhirnya akan gabung menjadi anggota.
Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri mengungkap cara penyebaran propaganda itu dilakukan menyesuaikan usia.
"Propaganda didisiminasi dengan menggunakan video pendek, animasi, meme, serta musik yang dikemas menarik untuk membangun kedekatan emosional dan memicu ketertarikan ideologis," tutur Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (18/11).
Trunoyudo mengatakan, kerentanan terhadap anak-anak untuk terpancing masuk dalam jaringan terorisme juga dipengaruhi sejumlah faktor sosial. Termasuk peristiwa perundungan atau bullying dan keretakan keluarga, yang dikenal dalam status sosial sebagai broken home.
"Kemudian kurang perhatian keluarga, pencarian identitas jati diri, marginalisasi sosial, serta minimnya kemampuan literasi digital dan pemahaman agama," jelas dia.
Game Online Juga Dijadikan Alat
Juru Bicara Densus 88 AKBP Mayndra Eka Wardhana menambahkan, berbagai platform media sosial termasuk game online menjadi alat untuk menarik minat anak-anak dan pelajar. Mereka dibuat tertarik terlebih dahulu sebelum diajak berkomunikasi secara personal.
"Jadi tentunya yang di platform umum ini akan menyebarkan dulu visi-visi utopia ya, yang mungkin bagi anak-anak itu bisa mewadahi fantasi mereka sehingga mereka tertarik. Seperti tadi disebutkan oleh Pak Dirjen dari Komdigi, ada beberapa kegiatan yang dilakukan anak-anak kita ini ya, bermain game online," ungkap Mayndra.
"Nah di situ mereka juga ada sarana komunikasi chat, gitu ya. Ketika di sana terbentuk sebuah komunikasi, lalu mereka dimasukkan kembali ke dalam grup yang lebih khusus, yang lebih terenkripsi, yang lebih tidak bisa terakses oleh umum," sambungnya.
Dibuat Tertarik
Yang pasti, kata Mayndra, ada beberapa proses yang sedari awal tidak secara langsung menuju ideologi terorisme. Anak-anak dibuat tertarik terlebih dulu, kemudian diarahkan mengikuti grup umum, dan dilanjutkan ke grup yang lebih kecil atau privat.
"Di situlah proses-proses indoktrinasi berlangsung. Jadi memang tidak bisa kita sebut satu platform saja, tetapi berbagai model," Mayndra menandaskan.