BNPT Ungkap Strategi Terorisme Digital Sasar Anak-Anak Lewat Medsos dan Gim Online
BNPT menyoroti adaptasi kelompok teror dengan Strategi Terorisme Digital, kini menyasar anak-anak di bawah umur melalui media sosial dan gim daring, mempercepat proses radikalisasi.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyampaikan bahwa kelompok terorisme kini mampu menyesuaikan strategi mereka dengan perkembangan zaman, khususnya di era digital yang serba cepat. Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Eddy Hartono, menegaskan hal ini saat memberikan sambutan daring dalam Dialog Kebangsaan Bersama Satuan Pendidikan di Surabaya, Jawa Timur, pada hari Kamis.
Sebelumnya, aktivitas terorisme umumnya melibatkan tiga aspek utama: propaganda, rekrutmen, dan pendanaan, yang sebagian besar dilakukan secara tatap muka. Sasaran utamanya adalah kelompok usia produktif antara 25 hingga 35 tahun, dengan proses radikalisasi yang memakan waktu cukup lama, sekitar 3 hingga 5 tahun.
Namun, dengan pesatnya perkembangan teknologi digital, pola ini telah berubah drastis. Eddy Hartono mengungkapkan bahwa saat ini kelompok teror justru menyasar anak-anak di bawah umur melalui media sosial dan gim daring, menunjukkan adaptasi signifikan dalam Strategi Terorisme Digital mereka.
Pergeseran Sasaran dan Modus Operandi Strategi Terorisme Digital
Ancaman radikalisasi dan terorisme terus beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi informasi yang dinamis. Anak-anak dan remaja kini menjadi sasaran baru kelompok ekstremis yang bergerilya di berbagai platform digital, memanfaatkan keluguan dan aksesibilitas mereka terhadap teknologi.
Sebagai bukti nyata dari pergeseran ini, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri beberapa bulan lalu berhasil menangkap lima tersangka jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang terafiliasi ISIS. Mereka terbukti meradikalisasi setidaknya 110 anak di berbagai provinsi melalui media sosial dan gim online.
Hasil kajian bersama antara BNPT, Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Polri, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), serta Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan bahwa proses radikalisasi di ruang digital jauh lebih cepat. Jika sebelumnya memakan waktu bertahun-tahun, kini hanya membutuhkan sekitar 3 hingga 5 bulan saja. Ini adalah dampak langsung dari efektifnya Strategi Terorisme Digital.
Peran Penting Satuan Pendidikan dalam Mencegah Strategi Terorisme Digital
Dialog Kebangsaan yang diselenggarakan BNPT ini diikuti oleh kepala sekolah, guru agama, guru PPKn, guru bimbingan konseling, serta perwakilan satuan pendidikan dari 17 provinsi di Indonesia. Tingginya partisipasi, baik secara luring dengan sekitar 300 peserta maupun daring dengan kurang lebih 1.000 peserta, menunjukkan kesadaran akan urgensi isu ini.
Kepala BNPT mengapresiasi tingginya partisipasi satuan pendidikan dalam dialog tersebut. Menurutnya, tema pencegahan intoleransi dan radikalisme sangat relevan dengan dinamika ancaman terorisme global yang bersifat adaptif dan terus berubah, termasuk dalam konteks Strategi Terorisme Digital.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk menjadikan satuan pendidikan sebagai ruang yang aman, harmonis, dan bebas dari kekerasan maupun pengaruh paham ekstrem. Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Timur, Suhartono, berharap dialog kebangsaan ini dapat membawa kedamaian bagi dunia pendidikan, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga secara nasional, dengan memperkuat pemahaman wawasan kebangsaan, toleransi, dan nilai patriotisme.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Timur telah mengambil langkah konkret dengan membentuk Tim Pencegahan dan Penanggulangan Kekerasan (TPPK) di seluruh satuan pendidikan tingkat SMA, SMK, dan SMP. Keberadaan tim ini bertujuan menciptakan iklim belajar yang aman dan nyaman, sekaligus mencegah perundungan, kekerasan, hingga potensi kejahatan yang dapat mengarah pada radikalisme dan terorisme yang memanfaatkan celah digital.
Sumber: AntaraNews