Waspada! Tahukah Anda, Teroris Kini Sasar Anak Muda Lewat Game Online untuk Sebarkan Paham Radikal?
Terorisme kini bergeser strategi, menyusup ke game online untuk menyebarkan paham radikal kepada generasi muda. Bagaimana orang tua bisa mendeteksi dan mencegahnya?
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) secara serius mengingatkan bahaya penyebaran paham radikal melalui game online. Kelompok teroris kini memanfaatkan platform digital ini sebagai sarana baru untuk merekrut anggota dan menyebarkan ideologi kekerasan kepada generasi muda.
Strategi ini dipilih karena game online dianggap lebih aman dari deteksi aparat keamanan dan banyak diakses oleh anak-anak muda. Mereka menyusupkan ideologi kekerasan secara tidak langsung dalam komunikasi antar pemain, menjadikan medium ini efektif untuk memengaruhi.
Peringatan ini disampaikan oleh Deputi Pencegahan, Perlindungan, dan Deradikalisasi BNPT, Mayjen TNI Sudaryanto, dalam sebuah dialog kebangsaan di Padang, Sumatera Barat, pada Rabu (8/10). Penangkapan empat terduga teroris di Sumatera baru-baru ini menjadi bukti nyata bahwa ancaman ini masih ada dan terus berkembang.
Pergeseran Strategi Terorisme: Dari Tatap Muka ke Dunia Digital
Kaum radikal terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi dalam menyebarkan paham terorisme. Jika sebelumnya mereka banyak mengandalkan pertemuan tatap muka, kini modus operandi telah bergeser ke dunia digital, termasuk melalui game online. Pergeseran ini membuat deteksi oleh aparat keamanan menjadi lebih sulit.
Meskipun aksi terorisme tidak lagi sering terdengar dalam beberapa tahun terakhir, hal ini bukan berarti gerakan mereka telah hilang. Kondisi ini bisa jadi merupakan bagian dari strategi untuk membuat seluruh elemen bangsa, khususnya aparat negara, menjadi lengah. Mereka memanfaatkan game online sebagai media yang lebih aman untuk menyebarkan pengaruh.
Sebagaimana strategi perang, fase vakum atau tidak melakukan serangan bisa menjadi bentuk taktik untuk memuluskan aksi berikutnya. Dengan menyasar anak-anak muda yang banyak menghabiskan waktu di game online, mereka menemukan celah baru untuk menyusupkan paham kekerasan dan radikalisme.
Ancaman Nyata: Penangkapan Jaringan ISIS di Sumatera
Bukti nyata bahwa ancaman terorisme masih ada dan terus menyebarkan pengaruh adalah penangkapan empat orang yang masuk dalam jaringan pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Penangkapan ini dilakukan di wilayah Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut).
Keempat orang yang tergabung dalam kelompok "Ansharut Daulah" ini ditangkap oleh tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri pada 3 dan 6 Oktober 2025. Mereka diketahui aktif menyebarkan serta memprovokasi aksi teror melalui media sosial.
Penangkapan ini menunjukkan bahwa sekelompok orang yang memimpikan negara khilafah di Indonesia masih eksis dan perlu selalu diwaspadai. Paham bahwa dasar negara Pancasila harus diganti dengan sistem khilafah dan negara Islam sangat kuat dalam keyakinan mereka, sehingga upaya penindakan tidak serta-merta menghilangkan ideologi ini.
Peran Orang Tua dan Masyarakat dalam Deteksi Dini
Mengingat peringatan dari BNPT, para orang tua harus meningkatkan kewaspadaan terhadap perilaku anak-anak, terutama saat mereka bermain game online di ponsel pintar. Pengawasan orang tua ini membutuhkan strategi khusus agar anak tidak merasa tertekan atau menghindar saat diajak bicara.
Orang tua disarankan untuk tidak langsung menuduh anak berteman dengan kaum teroris, melainkan bisa diam-diam mendengarkan suara permainan anak di ponsel. Di luar waktu bermain, orang tua perlu mengajak anak berbicara mengenai topik ringan yang membuat mereka nyaman bercerita dan berbagi pengalaman.
Ketika anak sudah merasa nyaman, orang tua dapat meminta mereka mengomentari permainan atau game online yang dimainkan, seperti apa yang membuat mereka senang. Meskipun membutuhkan waktu dan pertemuan berulang, proses ini akan membantu orang tua mendeteksi adanya ajakan yang mengarah ke paham radikal dalam permainan tersebut. Proses penularan paham radikal dalam game online seringkali memanfaatkan fasilitas komunikasi antar pemain, sebelum akhirnya anak dibawa masuk ke grup percakapan khusus.
Membangun Benteng Pertahanan dari Paham Radikal
Benteng terkuat untuk melindungi anak-anak dari pengaruh negatif paham radikal adalah orang tua. Membangun kedekatan dan komunikasi yang nyaman secara terus-menerus antara anak dan orang tua menjadi kunci utama. Komunikasi yang efektif akan membantu generasi muda terhindar dari pengaruh paham radikal dan terorisme.
Selain orang tua, kepedulian dari keluarga dekat, termasuk tetangga di lingkungan tempat tinggal, juga merupakan lapisan benteng pertahanan. Antarkeluarga dan antartetangga hendaknya saling peduli dan mengingatkan jika menemukan indikasi anak muda di lingkungannya terpengaruh oleh paham yang mengarah ke terorisme.
Langkah preventif lainnya adalah selektif dalam memilih lembaga pendidikan atau guru untuk mengajarkan agama kepada anak-anak. Hal ini penting untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan pemahaman agama yang damai dan moderat, terbebas dari pengaruh paham radikal dan ekstremisme. Mari bersama menjaga generasi muda bangsa ini dari gerakan teroris yang merupakan batu sandungan paling berbahaya bagi upaya menyiapkan generasi emas menuju Indonesia unggul 2045.
Sumber: AntaraNews