Densus 88 Ungkap 70 Anak Terpapar Ekstremisme Digital, Ancaman Nyata di Ruang Maya
Densus 88 Antiteror Polri mengidentifikasi 70 anak terpapar ekstremisme digital melalui komunitas daring, memicu kekhawatiran serius akan bahaya ideologi kekerasan pada anak di platform digital.
Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri merilis temuan mengejutkan mengenai paparan ideologi kekerasan ekstrem pada anak-anak di Indonesia. Sebanyak 70 anak teridentifikasi terpapar melalui konten digital berkedok True Crime Community (TCC), sebuah komunitas daring yang menyebarkan paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih. Dari jumlah tersebut, DKI Jakarta mencatat 15 anak terpapar, Jawa Barat 12 anak, dan Jawa Timur menempati urutan ketiga dengan 11 anak.
Paparan ideologi kekerasan ini tidak hanya sebatas konsumsi wacana atau konten semata, melainkan telah menunjukkan indikasi yang mengkhawatirkan. Beberapa anak bahkan telah memiliki pengetahuan dan ketertarikan terhadap berbagai jenis senjata berbahaya, berpotensi mengancam keselamatan lingkungan sekitar. Kondisi ini menjadi sinyal serius bahwa ekstremisme digital pada anak telah memasuki tahap yang perlu diwaspadai secara mendalam.
Temuan ini menjadi perhatian utama aparat penegak hukum karena melibatkan kelompok usia 11 hingga 18 tahun, fase perkembangan yang sangat rentan. Pada usia ini, anak-anak sedang dalam pencarian identitas, membutuhkan pengakuan sosial, serta kerap menjelajahi ruang digital tanpa batas yang jelas. Ruang digital, dalam konteks ini, tidak hanya berfungsi sebagai medium informasi, tetapi juga sebagai arena sosial baru yang secara perlahan mampu membentuk nilai, sikap, dan bahkan perilaku ekstrem.
Ancaman Ideologi Kekerasan di Ruang Digital
Komunitas daring True Crime Community (TCC) terbukti menjadi sarana penyebaran paham ekstrem seperti Neo-Nazi dan supremasi kulit putih, ideologi yang berakar pada sejarah panjang kekerasan rasial dan diskriminasi sistemik. Densus 88 Antiteror Polri menekankan bahwa penyebaran paham ini meningkat pascapandemi COVID-19 dan terjadi secara lintas negara melalui media sosial.
Pengkaji budaya dan media dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Radius Setiyawan, menilai fenomena ini mencerminkan krisis produksi makna dalam ruang sosial digital. Simbol dan wacana ideologi kekerasan kerap dipisahkan dari latar sejarah serta dimensi etisnya, lalu dikemas dalam bentuk yang lebih samar seperti meme, narasi sensasional, atau diskusi komunitas yang tampak netral. Akibatnya, anak-anak dan remaja dapat mengonsumsi simbol kekerasan tanpa memahami konsekuensi ideologis dan historis yang melekat di dalamnya.
Arena digital bukanlah ruang yang netral; justru menjadi arena produksi dan reproduksi kekerasan simbolik. Simbol-simbol ekstrem berfungsi sebagai “floating signifier”, yakni tanda yang terlepas dari makna asalnya, kemudian diisi ulang oleh budaya daring, humor gelap, dan narasi komunitas yang membangun rasa kebersamaan semu. Hal ini membuat ekstremisme digital pada anak menjadi tantangan yang kompleks.
Langkah Antisipatif Pencegahan Ekstremisme Digital
Temuan Densus 88 ini menegaskan tantangan baru bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi ekstremisme digital pada anak. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan bahwa anak-anak saat ini hidup dalam ruang digital yang bergerak sangat cepat dan kompleks. Tanpa pendampingan, pengawasan, serta literasi yang memadai, mereka rentan terpapar konten berbahaya yang tidak selalu tampak secara kasat mata.
Menanggapi temuan tersebut, Dinas Pendidikan Jawa Timur menyiapkan langkah-langkah strategis dan antisipatif untuk mencegah meluasnya paparan ideologi kekerasan pada anak, khususnya di jenjang SMA dan SMK. Koordinasi dilakukan secara masif dengan kepala satuan pendidikan guna memperkuat sistem pencegahan sejak dini, dengan menempatkan sekolah sebagai ruang aman bagi tumbuh kembang peserta didik.
Penguatan literasi digital reflektif menjadi salah satu fokus utama. Literasi digital tidak lagi dipahami sebatas kemampuan teknis mengoperasikan gawai atau aplikasi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks informasi, mengenali narasi manipulatif, serta menyadari dampak sosial dari konten yang dikonsumsi. Pendekatan ini diintegrasikan dengan pendidikan karakter dan penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Peran Penting Literasi Digital dan Pendampingan
Peran guru Bimbingan dan Konseling (BK) serta wali kelas diperkuat sebagai garda terdepan untuk melakukan deteksi dini terhadap ekstremisme digital pada anak. Guru didorong untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, membuka ruang dialog terkait aktivitas digital, serta memberikan pendampingan psikososial bagi siswa yang menunjukkan indikasi keterpaparan ideologi ekstrem.
Pengawasan berjenjang di lingkungan sekolah juga diperketat melalui regulasi penggunaan gawai, pemantauan kegiatan ekstrakurikuler, serta pengawasan terhadap komunitas daring yang diikuti siswa. Mekanisme pelaporan disiapkan agar indikasi paparan dapat ditangani lebih cepat dan tepat, tanpa menimbulkan stigma terhadap peserta didik.
Kolaborasi dengan orang tua dipandang sebagai elemen kunci karena pengawasan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Pendidikan digital tidak akan efektif tanpa komunikasi yang kuat antara guru dan keluarga. Oleh karena itu, sinergi juga dibangun dengan kementerian terkait, aparat keamanan, dan lembaga perlindungan anak agar pencegahan dilakukan sejak hulu, bukan semata melalui pendekatan penindakan.
Densus 88 Antiteror Polri sendiri saat ini melakukan pendampingan terhadap 68 anak di 18 provinsi yang diduga terpapar ideologi ekstrem dan memiliki potensi melakukan tindakan kekerasan. Fenomena ini menegaskan bahwa tantangan ekstremisme tidak lagi hanya berada di ruang fisik, tetapi telah bertransformasi ke ruang digital yang lebih cair dan sulit terdeteksi. Pendidikan yang berdampak diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki nalar reflektif, empati sosial, dan karakter kuat untuk menolak ideologi kekerasan dalam bentuk apa pun.
Sumber: AntaraNews