Densus 88 dan SMPN 1 Muara Teweh Gelar Sosialisasi Bahaya Radikalisme bagi Pelajar
Densus 88 Antiteror berkolaborasi dengan SMPN 1 Muara Teweh mengadakan sosialisasi bahaya radikalisme, intoleransi, dan dampak negatif media sosial untuk membentengi generasi muda serta meningkatkan kewaspadaan pelajar.
SMP Negeri 1 Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, pada Jumat (7/3/2026) menggelar kegiatan sosialisasi penting. Acara ini terselenggara berkat kerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri.
Fokus utama sosialisasi adalah bahaya intoleransi, radikalisme, terorisme, serta dampak negatif penggunaan media sosial, game online, dan perundungan. Kegiatan ini menyasar langsung kalangan pelajar sebagai upaya preventif.
Iptu Ganjar Satriyono, Ketua Tim Pencegahan Satgaswil Kalteng Densus 88 Antiteror, hadir sebagai narasumber utama. Beliau memberikan pemahaman mendalam mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap paham yang bertentangan dengan nilai kebangsaan.
Peran Strategis Sekolah dalam Membentengi Pelajar
Kepala SMPN 1 Muara Teweh, Maslan, menyampaikan apresiasi mendalam kepada Densus 88 Antiteror atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Sosialisasi ini dianggap krusial untuk membekali siswa dengan pemahaman yang kuat. Sekolah memiliki peran vital sebagai garda terdepan dalam membina akhlak dan adab peserta didik.
Menurut Maslan, pembinaan ini bertujuan agar siswa mampu menjadi penyaring terhadap berbagai paham yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). “Anak-anak adalah generasi penerus bangsa yang harus kita rawat dan lindungi bersama,” kata Maslan di Muara Teweh.
Ia menambahkan bahwa sekolah memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk karakter siswa. Karakter yang diharapkan adalah yang tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan dan toleransi. Upaya ini merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Waspada Ancaman Digital dan Paham Radikal
Iptu Ganjar Satriyono menyoroti perkembangan pesat teknologi informasi dan media sosial yang harus disikapi bijak oleh pelajar. Berbagai konten kekerasan dan paham radikal kini dapat menyebar dengan mudah melalui platform digital. Ini termasuk media sosial maupun permainan daring yang populer di kalangan remaja.
Sebagai contoh, Iptu Ganjar merujuk pada kejadian percobaan bom bunuh diri di SMA Negeri 72 Jakarta pada November 2025 lalu. “Paham kekerasan dan sadistik bisa saja disebarkan melalui berbagai media, termasuk media sosial maupun game online,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa permainan game online sebenarnya tidak salah, namun terkadang disalahgunakan. Permainan ini dapat dimanfaatkan sebagai media penyebaran paham kekerasan dan ideologi menyimpang. Oleh karena itu, kewaspadaan menjadi sangat penting.
Sinergi Guru dan Orang Tua dalam Edukasi Bijak Digital
Pentingnya peran sekolah dan para guru dalam membimbing serta memberikan pemahaman kepada siswa sangat ditekankan oleh Iptu Ganjar Satriyono. Guru memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa mampu menyaring informasi yang diterima di dunia digital. Hal ini krusial untuk mencegah paparan terhadap konten negatif.
“Guru tidak hanya sekadar menjalankan tugas sebagai pengajar, tetapi juga dapat menjadi teman, orang tua, sahabat, sekaligus tempat bagi siswa untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi,” ujarnya.
Ia juga mengajak semua pihak, termasuk orang tua dan masyarakat, untuk bersama-sama menjaga generasi muda. Perlindungan dari pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka adalah tanggung jawab kolektif. Sinergi ini akan menciptakan lingkungan yang aman dan positif bagi perkembangan anak.
Dukungan Pemerintah Daerah untuk Edukasi Berkelanjutan
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Utara, Syahmiluddin A Surapati, menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan sosialisasi ini. Menurutnya, edukasi semacam ini sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada pelajar. Ini terkait bahaya radikalisme, intoleransi, serta penggunaan media sosial secara bijak.
“Kami sangat mendukung kegiatan edukasi seperti ini karena dapat memberikan pemahaman kepada para siswa agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial serta mampu menghindari berbagai pengaruh negatif yang dapat merusak masa depan mereka,” kata Syahmiluddin.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dilakukan di berbagai sekolah di Kabupaten Barito Utara. Ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membangun karakter generasi muda. Tujuannya adalah menciptakan generasi yang berakhlak mulia, toleran, dan memiliki cinta tanah air yang kuat.
Sumber: AntaraNews