BMKG Peringatkan Waspada Tinggi Gelombang Sulawesi Utara Capai Empat Meter
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini bagi masyarakat di perairan Sulawesi Utara untuk mewaspadai potensi tinggi gelombang hingga empat meter yang berlaku hingga 19 Maret 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau warga di perairan Sulawesi Utara dan sekitarnya untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan dini telah dikeluarkan terkait potensi gelombang tinggi yang diperkirakan mencapai empat meter di beberapa wilayah perairan tersebut.
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Maritim Bitung, Ricky D Aror, menyatakan bahwa peringatan ini berlaku hingga tanggal 19 Maret 2026. Masyarakat, khususnya para pelaku pelayaran, diharap tidak mengabaikan informasi ini demi keselamatan.
Kondisi gelombang tinggi ini disebabkan oleh melambatnya kecepatan angin dari utara Sulawesi yang memicu konvergensi dan pertumbuhan awan. Fenomena ini berkontribusi signifikan terhadap dinamika cuaca maritim di wilayah tersebut.
Potensi Gelombang Tinggi di Berbagai Perairan Sulut
Ricky D Aror menjelaskan bahwa tinggi gelombang antara 2,5 meter hingga empat meter (kategori tinggi) diperkirakan terjadi di wilayah perairan Kabupaten Kepulauan Talaud dan Laut Maluku. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra bagi kapal-kapal yang melintasi area tersebut.
Sementara itu, tinggi gelombang antara 1,25 meter hingga empat meter (kategori sedang) berpeluang terjadi di perairan utara Provinsi Sulawesi Utara, serta perairan selatan Sulawesi Utara. Wilayah-wilayah ini juga memerlukan perhatian serius dari para nelayan dan operator kapal.
Ketinggian gelombang yang dapat mencapai 2,5 meter juga berpotensi terjadi di perairan Kabupaten Minahasa Utara, perairan Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro), dan perairan Kabupaten Kepulauan Sangihe. Seluruh pihak diimbau untuk terus memantau informasi cuaca maritim terkini.
Faktor Penyebab dan Arah Angin Dominan
Melambatnya kecepatan angin yang masuk dari utara Sulawesi menjadi penyebab utama terjadinya gelombang tinggi ini. Kondisi tersebut mengakibatkan konvergensi, yaitu pertemuan massa udara, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan awan di wilayah perairan.
Secara umum, arah angin bertiup dari Barat Laut dengan kecepatan rata-rata antara 8 hingga 20 knot. Pola angin ini memiliki peran penting dalam menentukan tinggi dan arah gelombang di perairan.
Dinamika atmosfer ini perlu dipahami oleh masyarakat maritim untuk mengambil keputusan yang tepat terkait aktivitas di laut. Pemantauan rutin terhadap kondisi angin dan gelombang sangat disarankan.
Imbauan Keselamatan untuk Berbagai Jenis Kapal
BMKG sangat berharap warga mewaspadai risiko tinggi gelombang terhadap keselamatan pelayaran. Perahu nelayan diimbau untuk memperhatikan kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter sebagai batas aman.
Untuk kapal tongkang, batas aman yang perlu diperhatikan adalah kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1,5 meter. Kepatuhan terhadap pedoman ini sangat krusial untuk menghindari insiden di laut.
Kapal Feri disarankan untuk waspada jika kecepatan angin melebihi 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2,5 meter. Sementara itu, kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar harus sangat memperhatikan kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4,0 meter.
Sumber: AntaraNews