Skrining Kesehatan Mahasiswa: Raien Akui Pentingnya Deteksi Dini untuk Pola Hidup Sehat
Mahasiswa di Sulawesi Utara, Raien Simbala, bagikan pengalamannya setelah mengikuti Skrining Kesehatan Mahasiswa. Ia kini lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.
Raien Simbala (20), seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi Sulawesi Utara, kini memiliki pandangan baru tentang pentingnya kesehatan. Perubahan ini terjadi setelah ia mengikuti program skrining kesehatan yang diselenggarakan di kampusnya. Pengalaman ini membuka matanya terhadap kondisi tubuh yang sebelumnya kurang diperhatikan.
Di Minahasa, Sabtu, Raien mengungkapkan bahwa ia awalnya mengira tubuhnya sehat karena tidak ada keluhan berarti. “Awalnya saya pikir kalau masih muda dan tidak ada keluhan berarti tubuh sehat-sehat saja. Tapi setelah ikut skrining kesehatan, saya jadi lebih sadar bahwa menjaga kesehatan itu penting sejak sekarang,” ujar Raien. Namun, hasil pemeriksaan skrining kesehatan mengubah pemikirannya secara drastis. Ia kini menyadari bahwa menjaga kesehatan adalah investasi penting sejak usia muda.
Dari hasil skrining tersebut, Raien mulai memahami urgensi pola hidup sehat demi menunjang aktivitas perkuliahan. “Setelah ikut skrining, saya mulai memperbaiki pola makan, lebih rutin olahraga, dan berusaha mengatur waktu istirahat supaya tidak sering begadang,” katanya menambahkan. Hal ini dilakukan agar tetap produktif dan terhindar dari masalah kesehatan serius.
Pentingnya Deteksi Dini Melalui Skrining Kesehatan
Skrining kesehatan merupakan proses pemeriksaan untuk mendeteksi potensi penyakit atau gangguan kesehatan sejak dini, bahkan sebelum gejala muncul. Pemeriksaan ini sangat penting dilakukan karena beberapa penyakit seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, hingga gangguan kesehatan mental dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari. Dengan melakukan skrining, seseorang dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.
Beberapa jenis skrining kesehatan yang dianjurkan bagi mahasiswa antara lain pemeriksaan tekanan darah, kadar gula darah, indeks massa tubuh (IMT), kadar kolesterol, serta pemeriksaan kesehatan mental. Pemeriksaan ini umumnya mudah dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan tidak membutuhkan waktu lama.
Selain itu, biaya pemeriksaan juga relatif terjangkau sehingga dapat diakses oleh berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Kemudahan akses dan biaya yang terjangkau menjadikan skrining kesehatan sebagai langkah preventif yang praktis dan efektif.
“Skrining kesehatan tidak hanya bermanfaat untuk mendeteksi penyakit, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya pola hidup sehat,” ujar Raien. Kesadaran ini mendorong individu untuk mengambil tindakan proaktif dalam menjaga kesehatan mereka.
Skrining Kesehatan sebagai Investasi Jangka Panjang
Setelah mengetahui kondisi tubuh secara berkala, mahasiswa dapat lebih cepat melakukan perubahan gaya hidup sebelum muncul masalah kesehatan yang lebih serius. Hasil pemeriksaan kesehatan memberikan gambaran nyata mengenai kondisi tubuh yang selama ini kurang diperhatikan. Ini menjadi pemicu kuat untuk memperbaiki kebiasaan sehari-hari.
Membangun kebiasaan melakukan skrining kesehatan sejak usia muda merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan. Tubuh yang sehat akan membantu mahasiswa menjalani aktivitas akademik secara optimal, meningkatkan konsentrasi belajar, serta mendukung produktivitas sehari-hari. Kesehatan yang prima adalah fondasi kesuksesan akademik dan personal.
Mahasiswa perlu mulai peduli terhadap kesehatannya dan tidak menunggu sakit terlebih dahulu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Kesibukan perkuliahan, aktivitas organisasi, hingga kehidupan sosial sering kali membuat mahasiswa lupa memperhatikan kondisi kesehatannya. Prioritas terhadap kesehatan seringkali tergeser oleh tuntutan akademik dan sosial.
Oleh karena itu, inisiatif untuk melakukan skrining kesehatan secara berkala menjadi sangat krusial. Ini bukan hanya tentang menghindari penyakit, melainkan juga tentang membangun fondasi kesehatan yang kuat untuk masa depan yang lebih baik.
Tantangan dan Risiko Kesehatan Mahasiswa
Mahasiswa termasuk kelompok usia produktif yang umumnya merasa masih sehat dan jarang mengalami keluhan penyakit serius. Kondisi tersebut membuat banyak mahasiswa menganggap pemeriksaan kesehatan bukanlah hal yang penting. Persepsi ini seringkali menjadi penghalang utama dalam upaya pencegahan penyakit.
Namun, pola hidup yang dijalani selama masa kuliah justru dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Jadwal yang padat, pola makan tidak teratur, kurang tidur, stres akibat tugas dan ujian, serta minim aktivitas fisik menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kesehatan tubuh maupun mental. Lingkungan perkuliahan yang dinamis seringkali memicu gaya hidup yang kurang sehat.
“Manakala melakukan skrining, seseorang dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” sebut Raien. Deteksi dini memungkinkan intervensi medis atau perubahan gaya hidup yang lebih efektif sebelum kondisi memburuk.
Dengan demikian, skrining kesehatan menjadi alat vital bagi mahasiswa untuk mengelola risiko kesehatan mereka. Ini membantu mereka tetap produktif dan fokus pada pendidikan tanpa terganggu oleh masalah kesehatan yang dapat dicegah.
Sumber: AntaraNews