BMKG Ingatkan Waspada Gelombang Tinggi Sulawesi Utara Capai 2,5 Meter Hingga 17 April 2026
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi di perairan Sulawesi Utara hingga 17 April 2026. Warga diimbau untuk waspada terhadap potensi gelombang mencapai 2,5 meter.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini terkait potensi gelombang tinggi di perairan Sulawesi Utara dan sekitarnya. Kondisi ini diprediksi berlangsung hingga tanggal 17 April 2026.
Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Maritim Bitung, Ricky D Aror, menyampaikan informasi ini di Manado pada hari Senin. BMKG secara resmi mengeluarkan peringatan dini mengenai gelombang tinggi tersebut. Imbauan ini bertujuan untuk keselamatan pelayaran dan aktivitas maritim lainnya.
Gelombang tinggi ini diperkirakan dapat mencapai 2,5 meter di beberapa wilayah perairan. Kondisi ini disebabkan oleh pola angin yang bertiup kencang dari arah barat. Masyarakat, khususnya nelayan dan operator kapal, diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terbaru.
Potensi Tinggi Gelombang di Berbagai Wilayah Perairan
Ricky D Aror menjelaskan bahwa tinggi gelombang antara 1,25 meter hingga 2,5 meter berpotensi terjadi. Wilayah yang terdampak meliputi perairan selatan Sulawesi Utara. Selain itu, perairan timur Kabupaten Minahasa Utara juga masuk dalam kategori waspada.
Kondisi gelombang tinggi serupa juga diperkirakan melanda beberapa area lainnya. Perairan Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro (Sitaro) menjadi salah satu fokus perhatian. Perairan utara Kabupaten Kepulauan Sangihe juga berpotensi mengalami peningkatan gelombang signifikan.
Lebih lanjut, perairan Kabupaten Kepulauan Talaud dan Laut Maluku turut diidentifikasi. Kedua wilayah ini juga diperkirakan akan menghadapi gelombang tinggi. BMKG terus memantau perkembangan kondisi maritim di seluruh area tersebut.
Analisis Kondisi Angin dan Faktor Pemicu
Secara umum, angin di wilayah perairan Sulawesi Utara bertiup dari arah barat. Kecepatan angin rata-rata tercatat antara 6 hingga 15 knot. Pola angin ini menjadi salah satu faktor utama pemicu gelombang tinggi.
Kecepatan angin tertinggi berpotensi terjadi di perairan selatan Sulawesi Utara. Kondisi angin yang kencang ini dapat menyebabkan peningkatan signifikan pada tinggi gelombang. Fenomena ini perlu diwaspadai oleh seluruh pihak yang beraktivitas di laut.
Ricky menambahkan, BMKG juga memantau keberadaan Typhoon Sinlaku di utara Papua, akan tetapi tidak berdampak langsung untuk cuaca di Sulawesi Utara. Peningkatan gelombang lebih dominan disebabkan oleh pola angin lokal di perairan sekitar.
Imbauan Keselamatan untuk Berbagai Jenis Kapal
Ricky berharap perahu nelayan untuk selalu memperhatikan kecepatan angin. Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1,25 meter memerlukan kewaspadaan ekstra. Keselamatan menjadi prioritas utama bagi para pelaut.
Kapal tongkang juga diimbau untuk berhati-hati saat kecepatan angin melebihi 16 knot. Selain itu, tinggi gelombang di atas 1,5 meter juga menjadi indikator bahaya. Operator kapal tongkang harus mempertimbangkan penundaan pelayaran jika kondisi tidak memungkinkan.
Sementara itu, kapal feri diminta untuk sangat berhati-hati jika kecepatan angin lebih dari 21 knot. Tinggi gelombang di atas 2,5 meter merupakan batas kritis bagi operasional kapal feri. BMKG menekankan pentingnya mematuhi peringatan dini yang dikeluarkan.
Sumber: AntaraNews