Jadi Desa Wisata Terbaik di DIY Tahun 2024, Ini Fakta Unik Desa Wisata Krebet
Kerajinan batik kayu merupakan potensi yang begitu menonjol di Desa Krebet. Kerajinan ini pertama kali muncul pada tahun 1970.
Tahun 2024 ini, Desa Krebet menjadi desa wisata terbaik di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penghargaan diberikan langsung oleh Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X pada Selasa (20/8). Dengan begitu Desa Krebet berhak atas hadiah berupa trofi, sertifikat, serta uang pembinaan sebesar Rp115 juta.
Dalam sambutannya, Paku Alam X mengatakan bahwa pengembangan desa wisata bukan hanya soal mempromosikan destinasi wisata. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pemandangan atau atraksi budaya, tetapi juga dapat merasakan nilai-nilai luhur warisan nenek moyang.
Ia mengatakan bahwa seiring waktu makin banyak desa wisata yang bermunculan di DIY. Menurutnya ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin menyadari potensi besar yang dimiliki oleh desa mereka.
Lalu apa keunikan Desa Wisata Krebet yang membuatnya layak menjadi yang terbaik?
Batik Kayu
Dikutip dari Bantulkab.go.id, Desa Wisata Krebet menawarkan potensi berupa kerajinan batik. Namun batik di Desa Karebet berbeda dengan batik biasa. Bila batik pada umumnya dibuat di atas kain, batik di Desa Karebet dibuat di atas potongan kayu.
Komoditas batik kayu di Desa Krebet sudah menjangkau skala nasional dan internasional. Wisatawan yang berkunjung juga dapat mengikuti aktivitas belajar membatik dengan datang langsung ke galeri perajin yang ada. Dengan adanya kerajinan batik serta paket wisata bagi pengunjung, masyarakat bisa merasakan dampak positif berupa kondisi ekonomi yang meningkat.
Sejarah Kerajinan Batik Kayu di Desa Krebet
Kerajinan batik kayu di Desa Krebet bermula pada tahun 1970. Saat itu sebagian masyarakat di Desa Krebet berinisiatif mencari pekerjaan lain selain bertani. Mereka kemudian membuat kerajinan batik berbahan kayu seperti irus, siwur, beruk, dan pisau. Kerajinan kayu tersebut kemudian dipasarkan di desa-desa sekitar demi menambah penghasilan di sela-sela bertani.
Bahkan sekitar tahun 1980-1985, kerajinan kayu belum diminati oleh masyarakat Krebet sebagai penghasilan utama. Padahal saat itu sudah ada beberapa warga desa yang membuat sanggar yang memproduksi kerajinan kayu. Salah satu produk mereka adalah topeng kayu. Namun seiring waktu permintaan pasar terhadap kerajinan kayu mulai meningkat. Akhirnya makin banyak warga yang menekuni kerajinan tersebut.
Pengembangan Desa Wisata
Dikutip dari situs resmi desa, saat ini di Desa Krebet sudah terdapat puluhan usaha kecil dan menengah (UMKM) yang bergerak di bidang industri kerajinan batik kayu. Mereka tergabung ke dalam sebuah koperasi bernama Sidokaton. Saat ini anggota koperasi itu berjumlah 57 anggota.
Tak hanya membuat kerajinan, kini mereka juga mengelola berbagai paket wisata. Wisatawan yang berkunjung bisa mengikuti aktivitas membatik serta kegiatan seru lainnya di Desa Krebet.
Untuk mengikuti kegiatan tersebut, wisatawan cukup membayar Rp30 ribu hingga Rp85 ribu, menyesuaikan ukuran kayu ukir yang dibatik. Dengan harga itu, wisatawan sudah mendapatkan berbagai fasilitas seperti topeng atau wayang, canting, kompor beserta lilin, celemek pelindung, serta peralatan membatik lainnya.
Wisatawan juga mendapatkan fasilitas lain seperti obat-obatan keselamatan, snack, serta minuman legen. Setelah selesai belajar membatik, wisatawan dapat membawa pulang hasilnya.