Warga Pakistan dan India Tolak Perang, Serukan Akhiri Permusuhan Kedua Negara
Warga kedua negara mendesak resolusi jangka pendek dan jangka panjang untuk menyelesaikan perbedaan antara India dan Pakistan.
Ratusan warga India dan Pakistan berkumpul secara daring pada Rabu (7/5) untuk menyerukan perdamaian dan mendesak diakhirinya permusuhan kedua negara. Hal ini dilakukan setelah kedua negara terlibat perang empat hari yang belum pernah terjadi sebelumnya pekan lalu.
Perkumpulan ini mendesak resolusi jangka pendek dan jangka panjang untuk menyelesaikan perbedaan antara India dan Pakistan. Selain itu juga menyoroti dampak kemanusiaan yang parah di seluruh kawasan Asia Selatan.
Pertemuan tersebut menghadirkan banyak pembicara terkemuka, termasuk Sheema Kermani, penari Bharatanatyam dari Karachi; aktivis perdamaian, Saeedan Diep dan Tahira Abdullah dari Pakistan; pensiunan Profesor Fisika A.H. Nayyar, dan tokoh lainnya.
Hasil dari pertemuan itu adalah sebuah resolusi yang sekarang beredar sebagai petisi daring yang secara tegas mengutuk segala bentuk ekstrimisme dan terorisme. Terutama serangan kekerasan yang menargetkan warga sipil tak bersenjata.
“Siklus ini harus segera berakhir demi tercapainya perdamaian,” bunyi pernyataan dalam petisi tersebut, seperti dikutip dari Kashmir Times, Rabu (14/5).
“Politik komunal dan berbasis agama yang memicu kegaduhan di kedua belah pihak, yang diperkuat oleh media dan media sosial, menciptakan ilusi dukungan terhadap perang."
Menurut petisi tersebut, hasutan perang juga memberi tekanan yang luar biasa pada pemerintahan dan angkatan bersenjata di kedua belah pihak, dan menghasut masyarakat.
“Hal ini telah merusak iklim politik di Asia Selatan, yang menumbuhkan ketidakpercayaan di antara warga negara,” kata petisi itu.
Bagi mereka, perdamaian yang berkelanjutan membutuhkan penolakan kolektif terhadap ideologi yang memecah belah oleh masyarakat di wilayah tersebut.
"Panggung Sandiwara Militerisme Global"
Sementara itu, Forum Rakyat Pakistan India untuk Perdamaian dan Demokrasi (PIPFPD) mendesak pemerintah India dan Pakistan untuk perdamaian, serta memohon kedua negara untuk “menjauh dari ambang perang” dan segera menghentikan eskalasi militer lebih lanjut.
“Sebagai pemimpin negara-negara bersenjata nuklir, baik India maupun Pakistan harus menahan diri. Kelanjutan situasi saat ini dengan ketidakpastian perluasan militer lebih lanjut akan menimbulkan konsekuensi kemanusiaan yang dahsyat. Hal itu akan merenggut banyak nyawa tak berdosa, dan menciptakan pengungsian besar-besaran,” kata pernyataan itu.
Forum tersebut juga menghimbau kedua negara agar bisa menemukan jalan keluar melalui solusi diplomatik untuk menghentikan permusuhan.
Dalam pernyataan bersama lainnya dengan Forum Dunia Masyarakat Nelayan, PIPFPD mengimbau kedua pemerintah untuk “segera mundur dari ambang perang dan menghentikan eskalasi militer lebih lanjut.”
Mereka menekankan, perang yang terjadi bukan hanya tentang dua negara, melainkan menjadi “panggung sandiwara militerisme global. Di mana Kashmir diperlakukan seperti tempat uji coba untuk sistem persenjataan baru, sementara warga sipil direduksi menjadi poin yang dapat dikorbankan.”
“Kami menyerukan kepada masyarakat Asia Selatan untuk bersatu dalam menolak perang. Kelangsungan hidup dan martabat kawasan kita tidak bergantung pada senjata. Tetapi pada solidaritas, kerja sama, dan perdamaian,” bunyi seruan bersama tersebut.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey