Dua Sosok Ilmuwan Legendaris di Balik Kekuatan Senjata Nuklir India dan Pakistan
Negara bertetangga ini sama-sama memiliki senjata nuklir.
Pekan lalu, perang India-Pakistan pecah setelah dua pekan lebih hubungan kedua negara memanas. India menyerang Pakistan pada 7 Mei 2025, menewaskan 51 orang, termasuk 11 tentara dan beberapa anak-anak, menurut laporan Al Jazeera.
Pakistan membalas dengan menembak jatuh lima jet tempur dan puluhan drone India. Pada Sabtu (10/5) kesepakatan gencatan senjata disepakati kedua negara yang ditengahi Amerika Serikat.
Negara bertetangga ini sama-sama memiliki senjata nuklir. Warisan nuklir tidak lepas dari peran dua ilmuwan legendaris dari masing-masing negara. Berikut sosok ilmuwan di balik kekuatan senjata nuklir India dan Pakistan.
Dr. Homi Jehangir Bhabha, Bapak Program Nuklir India
Homi J Bhabha dikenal sebagai perintis utama dalam pengembangan teknologi nuklir di India. Ia sering dijuluki sebagai “Bapak Program Atom India” karena peran besarnya dalam membangun fondasi riset nuklir di negara tersebut. Perjalanan karier ilmiahnya dimulai sebagai seorang Reader di Institut Sains India di Bangalore, atas undangan peraih Nobel CV Raman, seperti dilansir India Today.
Visi Bhabha adalah menjadikan India mandiri dalam riset ilmiah, terutama di bidang fisika nuklir. Hal ini diwujudkan melalui pendirian Tata Institute of Fundamental Research (TIFR) dan kemudian Bhabha Atomic Research Centre (BARC), sebuah lembaga utama dalam riset nuklir India yang dinamai dengan namanya. Di bawah kepemimpinan Bhabha, India membangun reaktor atom pertama bernama ‘Apsara’ pada 1956.
Ia juga berperan penting dalam merancang kebijakan energi nuklir India untuk tujuan damai, namun tetap memperkuat posisi India dalam geopolitik dunia. Selain nuklir, kontribusinya meluas ke bidang Antariksa, menjadikannya pelopor dalam pengembangan program luar angkasa India.
Sayangnya, Bhabha meninggal secara tragis dalam kecelakaan pesawat pada 1966. Namun warisan ilmunya tetap hidup dan menjadi fondasi utama kekuatan nuklir India saat ini.
Dr. Abdul Qadeer Khan, Bapak Bom Nuklir Pakistan
Di sisi lain perbatasan, Dr. Abdul Qadeer Khan merupakan tokoh sentral di balik keberhasilan program nuklir militer Pakistan. Ia dijuluki “Bapak Bom Nuklir Pakistan” karena peran langsungnya dalam mengembangkan teknologi pengayaan uranium yang memungkinkan Pakistan menciptakan senjata nuklir.
Dilansir Al Jazeera, Khan lahir di Bhopal, India, pada 1 April 1936, ia pindah ke Pakistan setelah partisi India Pakistan pada 1947. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi di bidang teknik metalurgi di Jerman, Belanda, dan Belgia. Saat bekerja di perusahaan Urenco (sebuah konsorsium nuklir Eropa), ia dituduh mencuri cetak biru sentrifus gas dan membawanya kembali ke Pakistan pada 1976.
Atas permintaan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, Khan memimpin proyek pengayaan uranium yang kemudian berkembang menjadi Kahuta Research Laboratories (KRL). Pada 1998, Pakistan secara resmi menjadi negara berkekuatan nuklir setelah uji coba nuklir sebagai respons atas uji coba India.
Namun, karier Khan tidak lepas dari kontroversi. Ia dituduh menyebarkan teknologi nuklir ke negara lain dan sempat menjalani tahanan rumah. Meskipun begitu, banyak warga Pakistan tetap memandangnya sebagai pahlawan nasional yang menjadikan negaranya mampu mempertahankan kedaulatan.
Baik Dr. Homi J Bhabha dan Dr. Abdul Qadeer Khan, keduanya merupakan ilmuwan yang memainkan peran penting dalam sejarah nuklir Asia Selatan. Meski berasal dari latar belakang pendekatan yang berbeda, yakni Bhabha fokus pada pengembangan nuklir sipil, sedangkan Khan pada pertahanan militer, keduanya mencerminkan bagaimana sains dan politik dapat bersatu dalam membentuk kekuatan sebuah negara.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey