Perang India-Pakistan, Siapa yang Bakal Menang? Ini Kata Pengamat
India menyerang Pakistan pada Rabu (7/5) dini hari, dibalas Islamabad dengan menembak lima jet tempur India.
Dua negara yang lahir dari rahim sejarah yang sama, India-Pakistan, mulai perang pada Rabu (7/5) dini hari, ditandai dengan serangan udara New Delhi ke wilayah Kashmir yang dikelola Pakistan. India menembakkan rudalnya dalam 'Operasi Sindoor' ke sejumlah wilayah Pakistan, menewaskan delapan orang termasuk di antaranya seorang anak-anak.
Pakistan kemudian membalas serangan tersebut dengan klaim telah menembak jatuh lima jet tempur India, seperti dilansir TRT World.
Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif mengatakan sejumlah tentara India juga ditawan.
"Jika aksi permusuhan ini dihentikan... Kami pasti akan berbicara dengan India. Kami tidak ingin situasi ini memanas," kata Asif kepada Bloomberg.
"Namun jika ada aksi permusuhan yang diinisiasi oleh pihak India, kami harus menanggapinya."
Memanasnya hubungan dua negara 'bersaudara' ini dipicu serangan teror penembakan di Pahalgam, Kashmir yang dikelola India pada 22 April lalu. India menuduh Pakistan berada di balik serangan yang menewaskan 26 wisatawan lokal itu, tuduhan yang dibantah keras Islamabad.
Jika perang ini terus berlanjut, siapa yang bakal menang? Dan seberapa besar kekuatan militer kedua negara?
Berdasarkan jumlah, India memiliki angkatan udara yang lebih kuat daripada Pakistan. Angkatan Udara India (IAF), dengan sekitar 2.300 pesawat dan 135.000 personel tugas aktif, merupakan angkatan udara terbesar keempat di dunia, dan secara umum menempati peringkat lima teratas secara global dalam hal efektivitas. Dan meskipun IAF tidak memiliki kemampuan atau peralatan untuk mengimbangi Angkatan Udara AS yang terdepan di dunia, IAF masih memiliki banyak sekali pesawat tempur modern. Demikian disampaikan pengamat pertahanan dan keamanan nasional dan Harrison Kass, dalam artikelnya yang diterbitkan laman National Interest, dikutip Rabu (7/5).
Kass menambahkan, IAF masih belum memiliki jet tempur generasi kelima.
"Namun, untungnya bagi India, Pakistan juga tidak," tulisnya.
IAF memiliki sejumlah jet tempur generasi keempat yang andal, sebagian besar merupakan impor dan lisensi buatan Rusia dan Prancis: Su-30MKI, Dassault Rafale, MiG-29, Mirage 2000, dan MiG-21. IAF juga mengoperasikan jet tempur buatan dalam negerinya sendiri, HAL Tejas.
"Meskipun memiliki armada pesawat tempur yang lengkap, IAF memiliki beberapa kekurangan yang mencolok. Khususnya, tidak ada satu pun pesawat IAF yang memiliki kemampuan siluman, sehingga sangat sulit untuk terlibat dalam operasi ofensif di wilayah udara musuh, mungkin di langit di atas Pakistan. Bahkan, selama bentrokan tahun 2019, sebuah MiG-21 India ditembak jatuh di atas Pakistan setelah pertempuran udara dengan pesawat Pakistan," jelasnya.
IAF juga tidak memiliki opsi pembom strategis.
"Hal ini membatasi kemampuannya untuk menegaskan diri dalam segala jenis kampanye udara ofensif. Singkatnya, IAF telah lama dikalibrasi ke arah pertahanan daripada penyerangan—yang membuatnya sulit untuk melancarkan serangan ke Pakistan, seperti yang diserukan oleh para pemimpin India," papar Kass.
Menakar Kekuatan Militer Pakistan
Pakistan memiliki armada pesawat militer terbesar ketujuh di dunia. Angkatan Udara Pakistan (PAF) dianggap memiliki salah satu dari sepuluh armada udara teratas di dunia. Islamabad memiliki 1.434 pesawat militer dan sekitar 70.000 pasukan tugas aktif.
Armada Angkatan Udara Pakistan terdiri dari 75 unit F-16 Fighting Falcons yang diimpor dari Amerika. F-16 adalah pesawat tempur generasi keempat yang disegani dengan kemampuan multiperan. Meskipun pesawat ini tidak dilengkapi dengan teknologi siluman, pesawat ini telah membuktikan dirinya dalam peran superioritas udara, serangan darat, dan SEAD.
Angkatan Udara Pakistan juga memiliki pesawat tempur generasi keempat Chengdu J-10 Vigorous Dragon dan JF-17 Thunder buatan China.
"Selain F-16 dan Chengdu, pesawat tempur dan serang yang tersedia di Angkatan Udara Pakistan tidak terlalu mengesankan, dengan impor dari Prancis dan China mendominasi daftar pesawat. Baik Dassault Mirage 5 dan Mirage III generasi ketiga, yang pertama kali terbang pada tahun 1967 dan 1958, masih dalam rotasi Angkatan Udara Pakistan," tulis Kass.
"Seperti halnya India, PAF tidak memiliki pesawat siluman dan pembom strategis, sehingga menyulitkan serangan ofensif ke India—terutama karena India memiliki pertahanan udara canggih seperti sistem antipesawat S-400."
Siapa yang Bakal Menang Perang?
Terkait pertanyaan tersebut, Kass mengatakan tidak ada pihak yang akan memenangkan pertempuran udara.
"Meskipun India dan Pakistan tidak memiliki banyak fasilitas canggih yang menjadi ciri khas angkatan udara paling maju di dunia, mereka masing-masing memiliki angkatan udara yang besar dengan tenaga manusia yang banyak di belakang mereka—yang berarti mereka masing-masing mampu mengerahkan sejumlah besar sumber daya manusia untuk mengatasi masalah mereka. Ini biasanya merupakan proposisi yang merugikan bagi mereka yang terlibat," papar Kass.
"Dan yang semakin memperumit kalkulasi perang udara terbuka antara India dan Pakistan adalah kenyataan bahwa kedua negara memiliki pesawat yang dapat menggunakan senjata nuklir—yang berarti bahwa tidak ada pihak yang dapat mencapai "kemenangan" yang menentukan atas pihak lain, kecuali mereka menghadapi kehancuran nuklir," pungkasnya.