Trump Mulai Kesal dengan Netanyahu, Tolak Libatkan Israel Soal Rencana di Timur Tengah
Ketegangan hubungan Donald Trump dan Benjamin Netanyahu meningkat, dengan Trump dilaporkan melanjutkan rencana Timur Tengah tanpa keterlibatan Israel.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kehilangan kesabaran dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan tidak akan menunggu Israel lebih lama untuk memajukan inisiatif di Asia Barat. Demikian menurut laporan Israel Hayom pada 8 Mei.
Dilansir the Cradle, Kamis (8/5), dua sumber senior dalam rombongan Trump mengatakan bahwa ia ingin membuat keputusan yang memajukan kepentingan AS, terutama terkait Arab Saudi dan negara-negara Teluk, tanpa menunggu persetujuan Netanyahu. Trump merasa Netanyahu menunda keputusan penting untuk perjanjian AS-Israel dengan Arab Saudi dan tidak bersedia menunggu Israel.
Pada masa kepresidenan Joe Biden, AS dan Israel terlibat dalam pembicaraan dengan Arab Saudi yang mencakup pakta pertahanan AS dengan kerajaan tersebut, teknologi nuklir sipil, dan penjualan senjata canggih, sebagai imbalan atas normalisasi dengan Israel. Arab Saudi mensyaratkan akhir perang di Gaza dan deklarasi Israel untuk "cakrawala negara Palestina."
Gencatan senjata dengan Yaman
Namun, menteri senior Israel bersumpah tidak akan mengizinkan negara Palestina di Tepi Barat dan berjanji untuk "menghancurkan" Gaza, mengusir penduduknya dengan dalih "migrasi sukarela," serta membangun pemukiman Yahudi di sana.
Trump marah karena menganggap Netanyahu mencoba menggunakan Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz, yang telah dipecat, untuk mendorong aksi militer AS di Iran.
Netanyahu mengklaim hanya berbicara sekali dengan Waltz, tetapi Trump tidak yakin.
Kemarahan ini mungkin menjelaskan mengapa Trump tidak melibatkan Israel dalam gencatan senjata dengan pemerintah Yaman yang dipimpin Ansarallah.
Setelah gencatan senjata dengan Yaman diumumkan, perwakilan Israel tidak mendapat informasi dari Gedung Putih selama sehari.
Bertentangan soal Iran
Trump juga tidak dijadwalkan mengunjungi Israel dalam kunjungannya ke kawasan pekan ini. Ketegangan ini mungkin menjelaskan pernyataan Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz bahwa Israel siap menghadapi situasi sendirian melawan Yaman. Katz menegaskan Israel harus mampu membela diri dari ancaman apa pun.
Trump dikritik karena meningkatkan perang melawan Yaman sejak menjabat, termasuk menyembunyikan informasi tentang korban militer AS dari kampanye tanpa otorisasi Kongres. Operasi ini melibatkan lebih dari 1.000 serangan udara AS terhadap Angkatan Bersenjata Yaman yang dipimpin Ansarallah, menewaskan ratusan warga Yaman, termasuk banyak warga sipil.
Jurnalis Haaretz Aluf Benn mencatat setiap kali presiden AS marah pada tindakan Tel Aviv, Israel tetap bertahan, mengelak dari tekanan, dan akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan.
Benn juga menyebutkan Trump sedang mengejar kesepakatan dengan Iran terkait program nuklirnya, bertentangan dengan posisi Netanyahu.
Netanyahu Bukan Sekutu Sejati AS
Trump menarik AS dari JCPOA pada 2018 atas dorongan Netanyahu, tetapi kini berupaya mencapai pemahaman diplomatik dengan Iran melalui tiga putaran pembicaraan yang dimediasi Oman, melibatkan utusan khusus Trump, Steve Witkoff.
Kolumnis terkemuka Thomas Friedman bahkan turut berkomentar mengenai situasi ini. Dalam tulisannya di the New York Times, Friedman mempertanyakan posisi Netanyahu sebagai sekutu sejati AS. Friedman menyatakan bahwa tindakan Netanyahu mengancam kepentingan Washington di Timur Tengah. Pernyataan ini semakin memperkuat anggapan bahwa hubungan antara Trump dan Netanyahu telah mencapai titik terendah.
"Trump merasa telah dimanipulasi oleh Netanyahu," ungkap salah satu sumber anonim kepada media. "Ia tidak ingin terlihat naif dan memutuskan untuk melanjutkan rencana-rencana di Timur Tengah tanpa keterlibatan Israel."