Pengorbanan Netanyahu saat Israel-Iran Perang Rudal: Putra Saya Harus Tunda Pernikahannya untuk Kedua Kali
Netanyahu mengibaratkan kondisi saat ini dengan masa-masa sulit yang dialami Inggris selama serangan udara Nazi atau Blitz pada Perang Dunia II.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menjadi pusat perhatian setelah mengeluarkan pernyataan yang dianggap tidak peka di tengah konflik yang semakin meningkat antara Israel dan Iran. Dalam kunjungannya ke Pusat Medis Soroka yang terkena dampak serangan rudal, Netanyahu mengibaratkan kondisi saat ini dengan masa-masa sulit yang dialami Inggris selama serangan udara Nazi atau Blitz pada Perang Dunia II.
"Saya benar-benar teringat pada rakyat Inggris selama Blitz. Kita juga sedang mengalami blitz," ujar Netanyahu sambil berdiri di antara reruntuhan bangunan rumah sakit di Beersheba, sebagaimana dilaporkan oleh Times of India pada Jumat (20/6/2025).
Namun, pernyataan Netanyahu yang seharusnya bisa membangkitkan semangat justru memicu kemarahan di kalangan publik. Salah satu poin yang paling banyak dikritik adalah ketika ia menyatakan bahwa penundaan pernikahan putranya, Avner, merupakan bagian dari 'biaya pribadi' yang harus ditanggung keluarganya selama masa perang.
"Putra saya Avner harus menunda pernikahannya untuk kedua kalinya karena ancaman rudal. Ini juga menjadi kehilangan pribadi bagi tunangannya. Saya harus mengatakan, istri saya tercinta adalah seorang pahlawan yang menanggung beban ini," jelas Netanyahu.
Banyak pihak mengecam pernyataan tersebut sebagai bentuk ketidakpekaan, terutama mengingat situasi di mana banyak warga sipil menjadi korban. Saat ini, tercatat sedikitnya 24 warga Israel telah kehilangan nyawa dan banyak lainnya mengalami luka-luka. Di sisi lain, jumlah korban di Iran jauh lebih tinggi. Organisasi hak asasi manusia yang berbasis di Washington melaporkan lebih dari 657 orang tewas, termasuk 263 warga sipil, dan lebih dari 2.000 orang terluka.
Ketegangan meningkat setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran pada 13 Juni, yang menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur militer penting Iran. Sebagai respons, Iran meluncurkan lebih dari 450 rudal dan 1.000 drone ke berbagai kota di Israel, termasuk serangan yang menghantam Pusat Medis Soroka pada Kamis (19/6) pagi, melukai sekitar 80 orang dan merusak fasilitas rumah sakit.
Iran mengklaim bahwa target serangannya adalah fasilitas teknologi militer di sekitar lokasi tersebut, namun pihak Israel menyatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa rumah sakit tersebut menjadi target langsung.
Bantuan Amerika Serikat buat Israel
Di tengah meningkatnya ketegangan, Netanyahu juga menyebutkan dukungan yang diberikan oleh Presiden AS Donald Trump. Ia mengungkapkan bahwa ia telah menerima "bantuan besar" dari Washington dan percaya bahwa Amerika akan mengambil tindakan yang sesuai dengan kepentingannya. Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan bahwa Presiden Trump akan membuat keputusan mengenai kemungkinan aksi militer langsung terhadap Iran dalam waktu dua minggu ke depan. Sementara itu, negosiasi dengan Teheran sedang berlangsung dengan tuntutan utama untuk menghentikan sepenuhnya program pengayaan uranium Iran.
Di sisi lain, laporan menunjukkan bahwa serangan Israel telah menyasar wilayah-wilayah strategis di Iran, termasuk Rasht dan Isfahan. Dengan melemahnya kekuatan militer Hizbullah dan jatuhnya mantan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, pada akhir tahun 2024, Iran semakin terisolasi di kawasan tersebut. Sebagai bentuk tekanan tambahan, Iran juga mengeluarkan ancaman untuk mengganggu lalu lintas perdagangan global melalui Selat Hormuz, yang dapat berdampak serius pada perekonomian dunia jika konflik ini terus berlanjut.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4719676/original/033691000_1705562246-Infografis_SQ_Perang_Israel-Hamas_Lewati_100_Hari.jpg)