Mordechai Vanunu, Sosok Pembocor Rahasia Nuklir Israel yang Bikin Geger Intelijen Mossad
Israel gencar melontarkan tuduhan terhadap Iran atas pengembangan senjata nuklir, tapi ternyata dokumen tersebut mengungkap hal sebaliknya.
Israel selalu menuduh Iran mengembangkan senjata nuklir. Itu salah satu dalih yang digunakan Israel untuk menyerang Iran pada 13 Juni 2025, yang kemudian memicu perang 12 hari.
Hingga saat ini Iran tidak terbukti mengembangkan senjata nuklir. Iran mengatakan program nuklirnya untuk tujuan sipil.
Kendati Tel Aviv gencar melontarkan tuduhan terhadap Iran atas pengembangan senjata nuklir, ternyata Israel sendiri yang secara diam-diam mengembangkan senjata nuklir. Hal ini dibongkar sendiri oleh seorang pria berkewarganegaraan Israel, Mordechai Vanunu.
Vanunu membocorkan dokumen-dokumen sangat rahasia terkait hal tersebut, yang mengantarkannya ke dalam penjara. Dia dihukum selama 18 tahun atas tindakannya.
Dikutip dari video yang diterbitkan TRT World di X, Kamis (26/6), atas keberaniannya membocorkan program senjata nuklir rahasia Israel tersebut, Vanunu disebut sebagai pembocor rahasia paling terkenal di dunia,
"Saya adalah tawanan nuklir sejak mereka (Israel) menculik saya dari Roma pada 1986. Saya seorang tawanan dari senjata nuklir," kata Vanunu dalam video tersebut.
Vanunu berasal dari keluarga Yahudi Sephardic yang taat, yang lahir di Maroko. Dia pindah ke Israel saat berusia 10 tahun. Ketika dewasa, dia bekerja selama sembilan tahun sebagai teknisi di Pusat Penelitian Nuklir Negev. Atasannya menilai dia seorang sayap kiri dan pro-Arab.
Pada 1982, dia menentang invasi Israel ke Lebanon dan mendirikan kelompok yang mengadvokasi hak-hak orang Palestina di Israel.
Pada 1986, setelah mengundurkan diri dari Pusat Penelitian Nuklir Negev, dia membocorkan 57 foto reaktor nuklir rahasia Israel ke koran The Sunday Times di Inggris. Foto tersebut menjadi bukti Israel memproduksi senjata nuklir rahasia tanpa menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi maupun mengizinkan inspeksi internasional.
"Saya bangga dan bahagia melakukan apa yang telah saya lakukan. Saya sangat senang saya berhasil melakukannya," kata Vanunu dalam sebuah kesempatan.
Antara 80 dan 200 Hulu Ledak
Informasi dari Vanunu ini membuat para ahli memperkirakan Israel secara ilegal memiliki antara 80 dan 200 hulu ledak nuklir, menjadikannya sebagai kekuatan nuklir terbesar keenam di dunia dan satu-satunya di Timur Tengah.
Setelah membocorkan dokumen tersebut dan laporannya diterbitkan The Sunday Times, Vanunu dipancing Mossad ke Roma, Italia. Di sana, dia dicecoki obat-obatan, diculik, dan secara ilegal diekstradisi ke Israel. Dia lalu dijatuhi hukuman penjara selama 18 tahun karena pengkhianatan setelah persidangan rahasia. Vanunu menghabiskan 11 tahun di sel isolasi. Dia dibebaskan pada 2004.
"Sebagai manusia saya punya hak mengekspresikan pandangan politik saya, gagasan-gagasan saya. Saya tidak punya rahasia lagi. Satu-satunya yang punya rahasia adalah pemerintah Israel. Pemerintah Israel punya senjata nuklir dan mereka menyimpan rahasia ini," jelas Vanunu.
Dilarang Keluar dari Israel
Hingga saat ini, Vanunu dilarang meninggalkan Israel. Dia juga dilarang berbicara ke jurnalis dan orang asing tanpa izin.
Setelah lebih dari 40 tahun di bawah represi pemerintah Israel, Amnesty International menyebut Vanunu sebagai seorang 'tahanan hati nurani'.
"Masa depan saya akan berada di luar Israel.
Seperti yang kita lihat dalam beberapa hari terakhir, ada kebencian dan bahaya untuk hidup saya di sini. Jadi saya tidak punya masa depan di negara Israel ini," ujarnya.
Pada 2017, Norwegia menawarkan Vanunu tinggal di Oslo bersama istrinya yang orang Norwegia. Dia menikah dengan profesor teologi Kristin Joachimsen di Yerusalem pada tahun 2015 setelah pertama kali bertemu di Israel hampir satu dekade sebelumnya, seperti dikutip dari Reuters.
Namun ketika itu, Kristin Joachimsen mengatakan tidak jelas apakah otoritas Israel mengizinkan suaminya ke luar negeri.