Dokter Ungkap Penyebab Pegal dan Nyeri Berkepanjangan, Ini Cara Aman Mengatasinya
Rasa pegal dan nyeri yang terus-menerus dapat menjadi indikasi adanya masalah kesehatan yang serius.
Keluhan pegal dan nyeri sering kali dianggap sepele, terutama setelah melakukan aktivitas fisik. Namun, jika keluhan ini terus berlanjut, hal tersebut bisa menjadi pertanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius. dr. Amanda Anandita mengingatkan pentingnya memperhatikan sinyal yang diberikan oleh tubuh, terutama ketika rasa nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Dokter yang merupakan lulusan Universitas Muhammadiyah Jakarta ini menjelaskan bahwa gejala pegal, kaku, dan nyeri bukan hanya sekadar tanda kelelahan fisik, melainkan bisa menjadi indikasi dari berbagai kondisi medis, termasuk penyakit degeneratif dan gangguan saraf.
"Keluhan pegal dan nyeri bukan hanya rasa tidak nyaman sementara. Jika menetap, ini bisa menjadi indikator adanya penyakit yang lebih serius dan memengaruhi kualitas hidup," ujar Amanda dalam diskusi media Peranan Obat Topikal pada Permasalahan Pegal dan Nyeri yang diadakan oleh Noni-Noni Balsem baru-baru ini.
Apa yang menyebabkan badan terasa pegal dan nyeri? Menurut Amanda, nyeri yang berlangsung lama sering kali berhubungan dengan kondisi degeneratif atau inflamasi. Beberapa penyakit yang sering menjadi penyebabnya antara lain osteoarthritis, rheumatoid arthritis, dan saraf terjepit. Osteoarthritis terjadi akibat pengikisan tulang rawan pada sendi, yang menyebabkan gesekan antar tulang dan memicu rasa nyeri. Di sisi lain, rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan peradangan kronis pada sendi.
Selain itu, hernia nucleus pulposus atau saraf terjepit juga menjadi penyebab umum nyeri hebat, khususnya di area tulang belakang. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit yang menjalar hingga ke kaki atau tangan. Tidak hanya itu, plantar fasciitis yang menyerang jaringan di telapak kaki juga sering dialami oleh mereka yang banyak berdiri atau berjalan dalam waktu lama. Myalgia dan fibromyalgia, yang ditandai dengan nyeri otot serta titik-titik nyeri spesifik di seluruh tubuh, juga merupakan kondisi yang perlu diwaspadai.
"Bahkan pada penyakit autoimun seperti lupus, keluhan pegal dan nyeri hampir selalu muncul sebagai gejala yang menyertai," tambahnya.
Penyakit sendi dan nyeri dapat menyerang individu yang masih muda
Menariknya, penyakit sendi dan nyeri kronis kini tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus serupa semakin banyak ditemukan pada individu yang berada di usia produktif.
Gaya hidup yang kurang aktif, postur tubuh yang tidak ergonomis, serta aktivitas fisik yang berlebihan tanpa pemulihan yang memadai menjadi faktor penyebabnya. Akibatnya, keluhan nyeri semakin sering dirasakan oleh pekerja kantoran, pekerja lapangan, dan generasi muda.
Data kesehatan menunjukkan bahwa osteoarthritis merupakan salah satu penyakit sendi yang paling umum di Indonesia, dengan proporsi kasus yang cukup tinggi dibandingkan dengan jenis gangguan sendi lainnya.
Risiko Penggunaan Obat Pereda Nyeri Oral
Untuk mengatasi nyeri, banyak individu memilih untuk mengonsumsi obat pereda nyeri secara oral. Namun, penggunaan jangka panjang dari obat-obatan ini tidak lepas dari risiko efek samping yang serius. Amanda mengingatkan bahwa konsumsi obat oral secara berkelanjutan dapat menyebabkan gangguan pada lambung, ginjal, dan sistem kardiovaskular. "Penggunaan obat pereda nyeri minum dalam jangka panjang memiliki risiko komplikasi sistemik. Karena itu, perlu dipertimbangkan alternatif yang lebih aman," ujarnya.
Obat topikal menjadi pilihan yang lebih aman
Salah satu alternatif yang dianggap lebih aman adalah penggunaan obat topikal atau oles. Berbeda dengan obat yang diminum, obat topikal bekerja langsung pada area yang mengalami nyeri tanpa melalui proses metabolisme tubuh yang rumit.
"Obat topikal bekerja langsung di titik nyeri, sehingga efek samping sistemiknya jauh lebih minimal dibandingkan obat oral," ungkap Amanda.
Penggunaan balsem atau salep berbahan herbal juga terbukti efektif dalam meredakan nyeri, terutama bagi mereka yang membutuhkan perawatan jangka panjang.
Menurut Nugroho, perwakilan Product Development Noni-Noni, salah satu bahan herbal yang menjanjikan adalah buah mengkudu (Morinda citrifolia). Buah ini dikenal mengandung senyawa aktif seperti scopoletin dan xeronine.
"Scopoletin berfungsi membantu memperlebar pembuluh darah sehingga sirkulasi menjadi lebih lancar, sedangkan xeronine berperan dalam memperbaiki protein sel yang rusak akibat peradangan," jelas Nugroho. Ia juga menambahkan bahwa pemanfaatan mengkudu dalam bentuk balsem masih belum dioptimalkan di Indonesia, padahal potensi buah ini cukup besar sebagai solusi alami untuk meredakan nyeri.
Amanda menekankan pentingnya manajemen nyeri yang tepat dan tidak boleh dianggap sepele. Mengabaikan nyeri yang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan dan meningkatkan risiko komplikasi.
"Jangan menunggu sampai nyeri menjadi parah. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius," tegasnya.
Dengan memahami penyebab nyeri dan memilih metode penanganan yang aman, diharapkan masyarakat dapat mengelola nyeri dengan lebih baik tanpa khawatir terhadap efek samping jangka panjang.