Fakta Mengejutkan: AS Tak Punya Penangkal Rudal Burevestnik Rusia, Senjata Nuklir Jelajah Tanpa Batas

Mantan intelijen AS Scott Ritter mengungkap Amerika Serikat tidak memiliki sistem pertahanan yang mampu menghadang Rudal Burevestnik Rusia, senjata jelajah nuklir yang baru diuji coba.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Mengejutkan: AS Tak Punya Penangkal Rudal Burevestnik Rusia, Senjata Nuklir Jelajah Tanpa Batas
Mantan intelijen AS Scott Ritter mengungkap Amerika Serikat tidak memiliki sistem pertahanan yang mampu menghadang Rudal Burevestnik Rusia, senjata jelajah nuklir yang baru diuji coba. (AntaraNews)

Mantan perwira intelijen Korps Marinir Amerika Serikat, Scott Ritter, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengejutkan. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini tidak memiliki sistem pertahanan rudal yang memadai. Sistem ini diperlukan untuk menghadang potensi serangan dari rudal jelajah terbaru Rusia, Burevestnik.

Pernyataan tersebut disampaikan Ritter kepada RIA Novosti, menyoroti celah signifikan dalam kapabilitas pertahanan AS. Menurutnya, rudal Burevestnik Rusia memiliki kemampuan manuver yang sulit dijangkau oleh sistem pertahanan rudal yang ada. Hal ini menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan ahli strategi militer.

Pengungkapan ini muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan keberhasilan uji coba rudal Burevestnik pada 26 Oktober lalu. Uji coba tersebut menunjukkan kemampuan rudal jelajah bertenaga nuklir ini menempuh jarak yang sangat jauh, mencapai 14.000 kilometer.

Tantangan Pertahanan AS Hadapi Rudal Burevestnik

Rudal Burevestnik Rusia, yang oleh Presiden Putin dijuluki sebagai "senjata unik," menghadirkan tantangan besar bagi sistem pertahanan rudal Amerika Serikat. Menurut Scott Ritter, rudal ini memiliki kemampuan bermanuver saat terbang. Fitur ini menjadikannya sangat sulit untuk diintersep oleh sistem pertahanan rudal konvensional.

Ritter menjelaskan bahwa untuk dapat mempertahankan diri dari Burevestnik, Amerika Serikat harus membangun sistem pertahanan rudal yang sama sekali berbeda. Sistem ini perlu mampu melindungi wilayah Amerika secara 360 derajat. Namun, ia menambahkan, "AS tidak memiliki sistem seperti itu dan tidak mampu membiayainya."

Pengembangan rudal jelajah bertenaga nuklir ini, bersama dengan kendaraan bawah laut tanpa awak Poseidon, dinilai melemahkan fondasi sistem pertahanan rudal Golden Dome AS. Kemampuan manuver dan jangkauan tanpa batas Burevestnik mengubah paradigma ancaman strategis. Hal ini memerlukan respons pertahanan yang belum dimiliki oleh Washington.

Pada 26 Oktober, Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi mengumumkan keberhasilan uji coba rudal Burevestnik. Kepala Staf Umum Rusia, Valery Gerasimov, mengonfirmasi bahwa dalam uji terbang tersebut, rudal tersebut berhasil menempuh jarak impresif 14.000 kilometer.

Ancaman Ganda: Rudal Burevestnik dan Kendaraan Bawah Laut Poseidon

Selain Rudal Burevestnik, Rusia juga telah berhasil menguji coba kendaraan bawah laut tanpa awak bernama Poseidon. Pengumuman mengenai keberhasilan uji coba Poseidon ini disampaikan oleh Presiden Putin pada Selasa lalu. Kehadiran Poseidon menambah kompleksitas ancaman strategis yang dihadapi oleh negara-negara Barat.

Kendaraan tanpa awak ini memiliki kapabilitas untuk dilengkapi dengan senjata konvensional maupun nuklir. Hal ini memungkinkan Poseidon melancarkan serangan terhadap berbagai target. Target tersebut mencakup gugus serang kapal induk, benteng pantai, dan infrastruktur penting lainnya.

Scott Ritter juga menyoroti bahwa kendaraan bawah laut tanpa awak Poseidon ini sangat sulit untuk diintersep. Kemampuannya beroperasi di bawah laut dengan otonomi tinggi menjadikannya target yang menantang bagi sistem pertahanan anti-kapal selam yang ada. Ini semakin memperumit upaya pertahanan.

Kombinasi antara Rudal Burevestnik yang sulit dihentikan dan kendaraan bawah laut Poseidon yang tak mudah diintersep menciptakan ancaman ganda. Perkembangan teknologi militer Rusia ini secara signifikan meningkatkan potensi disrupsi terhadap keseimbangan kekuatan global. Hal ini juga memaksa AS untuk mengevaluasi ulang strategi pertahanannya.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi