Menguak Situs Nuklir Israel di Dimona, Sudah Masuk Target Serangan Rudal Iran
Telusuri sejarah, aktivitas rahasia, dan perkembangan terkini Fasilitas Nuklir Dimona, pusat penelitian nuklir Israel yang penuh kontroversi dan spekulasi.
Sepuluh hari lalu Israel melancarkan serangan udara ke Iran dan memulai perang baru di Timur Tengah yang kini terus meningkat. Kemarin Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga mengumumkan jet tempur AS meluncurkan bom ke tiga situs nuklir Iran.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah lama menyatakan bahwa Iran hampir membangun senjata nuklir.
Namun, apa yang belum ia konfirmasi secara publik – dan yang menjadi rahasia umum di Israel serta Timur Tengah – adalah bahwa Israel sendiri telah memiliki senjata nuklir, sejak tahun 1960-an.
Israel juga bukan penandatangan Treaty on the Non-Proliferation of Nuclear Weapons (NPT), yaitu perjanjian internasional yang dirancang untuk menghentikan penyebaran senjata nuklir.
Para analis meyakini bahwa program nuklir Israel terpusat di fasilitas nuklir di Dimona, sebuah kota di Gurun Negev.
Israel memiliki kebijakan resmi ambiguity (ketidakjelasan) dan belum pernah mengkonfirmasi ataupun menyangkal bahwa mereka memiliki senjata nuklir.
Iran sedang mempertimbangkan untuk menyerang Dimona jika konflik antara kedua negara semakin meningkat, demikian dilaporkan oleh Al Jazeera Qatar, mengutip seorang pejabat tinggi Iran.
“Reaktor nuklir di Dimona bisa menjadi target sah kami jika konflik meningkat ke tingkat yang baru,” kata sumber tersebut kepada saluran TV tersebut.
Menurut pejabat tersebut, pihak Israel menyembunyikan fakta bahwa serangan-serangan Iran telah menyebabkan kerusakan serius.
Apa itu Dimona?
Dimona, kota terbesar ketiga di Gurun Negev (dalam bahasa Ibrani: gurun), merupakan rahasia yang dijaga ketat oleh otoritas dan militer Israel.
Israel mulai membangun situs Dimona sekitar tahun 1958, dan butuh waktu sekitar tiga tahun bagi dinas intelijen Amerika Serikat (AS) untuk “menemukan” lokasi ini, yang saat itu sedang dibangun sebagai fasilitas nuklir.
Henry Gomberg, seorang profesor dan fisikawan nuklir yang mengunjungi situs tersebut, menyimpulkan bahwa Israel tengah menjalankan “proyek nuklir besar”. Ia melaporkan temuannya kepada duta besar AS di Tel Aviv, Ogden Reid, perwakilan Komisi Energi Atom AS di Paris, dan juga kepada komunitas intelijen setibanya di Washington.
Setelah kesaksiannya, informasi lain mengenai situs tersebut mulai masuk, yang melengkapi laporannya. Pada awal tahun 1960, CIA menyebarkan temuan-temuan ini ke lembaga pemerintah, Gedung Putih, dan Kongres.
Dimona akhirnya diketahui secara resmi saat itu.
Kegagalan besar intelijen AS
Pada tahun 1960, AS mengambil langkah atas isu ini. Departemen Luar Negeri memanggil duta besar Israel dan meminta penjelasan. Untuk pertama kalinya, Dimona menjadi topik dalam meja perundingan.
Penemuan yang terlambat atas Dimona jelas merupakan kegagalan besar intelijen AS. Namun dari sudut pandang Israel, kegagalan ini sangat penting bagi kelangsungan proyek nuklir mereka. Jika AS telah menemukan Dimona lebih awal dan menekan secara politik baik Prancis maupun Israel, proyek tersebut mungkin tidak akan pernah selesai.
Melihat ke belakang, akhir tahun 1950-an mungkin menjadi satu-satunya waktu di mana AS bisa menekan Israel untuk menghentikan proyek senjata nuklir mereka sebagai imbalan atas jaminan keamanan dari AS – namun kesempatan itu tidak dimanfaatkan.
Sejak 1967
Dilansir Sarajevotimes, pada zaman modern, lebih tepatnya pada tahun 2021, pemerintah Israel kembali memperluas konstruksi di Dimona, meskipun mereka tidak menjawab secara rinci mengenai jenis pekerjaan apa yang sedang dilakukan di sana.
Sesuai kebijakan ambiguity mereka, Israel tidak mengkonfirmasi maupun menyangkal bahwa mereka memiliki senjata nuklir.
Sebelumnya, Israel mengklaim bahwa fasilitas penelitian yang disebut “Shimon Peres Nuclear Research Center” adalah fasilitas riset untuk “tujuan penelitian dalam ilmu atom.” Menurut informasi yang tersedia, reaktor Dimona terlibat dalam produksi material nuklir untuk program senjata nuklir Israel, yang diyakini telah dimiliki Israel sejak tahun 1967.
Perluasan konstruksi itu terjadi saat Israel – di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu – terus mengkritik program nuklir Iran, yang berbeda dengan Israel karena program Iran masih diawasi oleh inspektur Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hal ini memunculkan kembali desakan dari para ahli agar Israel secara terbuka mengungkapkan rincian program nuklirnya.
“Apa yang dilakukan pemerintah Israel di fasilitas senjata nuklir rahasia ini adalah sesuatu yang seharusnya mereka ungkap secara jujur,” kata Daryl G. Kimball, direktur eksekutif Arms Control Association yang berbasis di Washington, pada tahun 2021.
Tahun lalu, Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menyatakan bahwa Israel dalam beberapa bulan terakhir sedang memodernisasi sistem senjata nuklirnya dan telah meningkatkan fasilitas produksi di selatan Israel – sejalan dengan tren global melemahnya diplomasi nuklir.
Israel memang belum pernah mengakui secara terbuka bahwa mereka memiliki senjata nuklir, tetapi SIPRI memperkirakan bahwa Israel memiliki sekitar 90 hulu ledak dalam laporan tahunannya (2024) mengenai status persenjataan dan keamanan global.
Apakah Dimona masih menjadi ancaman hari ini?
Dengan plutonium dari Dimona, Israel diyakini menjadi salah satu dari hanya sembilan negara di dunia yang memiliki senjata nuklir. Karena kerahasiaan yang ketat seputar program ini, tidak jelas berapa banyak senjata yang sebenarnya dimiliki.
Para analis memperkirakan bahwa Israel memiliki cukup bahan untuk membuat setidaknya 80 bom. Senjata ini kemungkinan dapat diluncurkan menggunakan rudal balistik darat, jet tempur, atau kapal selam.
Shimon Peres, yang memimpin program nuklir dan kemudian menjabat sebagai Perdana Menteri dan Presiden Israel, mengatakan pada tahun 1998:
“Kami membangun opsi nuklir bukan untuk menciptakan Hiroshima, tapi untuk menciptakan Oslo,” merujuk pada bom atom pertama yang dijatuhkan AS dalam Perang Dunia II dan upaya Israel untuk mencapai perjanjian damai dengan Palestina.
Bahkan hari ini, di tahun 2025, strategi ketidaktransparanan Israel terus menuai kritik dari pihak lawan, terutama melalui serangan baru mereka ke wilayah Iran.
Para ahli memperkirakan cadangan senjata nuklir Israel berkisar antara 60 hingga bahkan 400 hulu ledak.