Serangan Israel ke Iran tak lain karena tuduhan mereka yang menyebut Iran sedang berupaya memiliki senjata nuklir. Namun sejauh ini tidak ada bukti konkret dan terverifikasi secara independen yang membenarkan bahwa program nuklir yang dilakukan Iran untuk membuat senjata nuklir atau Iran memiliki senjata nuklir.
Israel selalu menuduh kepemilikan senjata nuklir lantaran Iran secara masif melakukan pengayaan uranium dan beberapa pelanggaran terhadap kesepakatan nuklir JCPOA.
Faktanya, justru Israel yang memiliki senjata nuklir dan justru selalu menyerang Iran dengan tuduhan sepihak yang tidak mendasar.
Padahal, Iran secara konsisten menyatakan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik dan penelitian ilmiah.
Iran adalah penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) dan diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Meskipun ada laporan pelanggaran, seperti peningkatan pengayaan uranium hingga 60% (mendekati tingkat senjata yang memerlukan 90%), Iran menegaskan tidak memiliki ambisi untuk mengembangkan senjata nuklir.
Advertisement
Mengutip dari Al Jazeera, Kamis (19/6) Israel telah mengumandangkan isu tersebut sejak 33 tahun lalu saat Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pertama kali memperingatkan nuklir Iran dalam waktu dekat akan berhasil menjadi senjata nuklir.
Israel menuduh Teheran akan menjadi negara bersenjata nuklir berikutnya di dunia. Namun Netanyahu hanya terpaku pada program nuklir Iran selama beberapa dekade terakhir.
Isu nuklir Iran muncul pertama kali pada 1992 Netanyahu mengirimkan pesan the Knesset sebagai anggota parlemen, mengatakan Iran butuh tiga sampai lima tahun untuk memproduksi bom nuklir.
"Iran akan semakin mampu memproduksinya sendiri tanpa mengimpor apapun, bom nuklir dalam tiga hingga lima tahun," ucapnya dalam sebuah wawancara.
Pada tahun 1995, Netanyahu menerbitkan buku berjudul 'Fighting Terrorism, dan mengulanginya dalam waktu yang sama. Buku tersebut berisi propaganda yang berisi tuduhannya terhadap rencana nuklir Iran.
Pada tahun 2002, Netanyahu memberikan kesaksian di hadapan komite Kongres AS yang secara aktif menyerukan invasi ke Irak. Hasutan Netanyahu membuat invasi AS ke Irak benar terjadi beberapa bulan kemudian dan hasilnya tidak ditemukan senjata pemusnah massal di Irak.
Kepanikan Netanyahu kembali muncul dalam pernyataanya yang menyebut Iran akan memproduksi ratusan bom atom dalam satu dekade.
"Iran bersiap untuk memproduksi 25 bom, bom atom setahun, 250 bom dalam satu dekade," kata Netanyahu di sebuah wawancara stasiun berita tahun 2006.
Dalam sebuah fragmen kabel Departemen Luar Negeri AS tahun 2009 yang dirilis oleh Wikileaks, Netanyahu mengatakan kepada anggota Kongres bahwa Iran dalam satu atau dua tahun lagi akan mampu mengembangkan senjata nuklir.
Pada tahun 2012, Netanyahu mengangkat kartun 'bomnya' yang terkenal di Majelis Umum PBB. Di waktu yang sama, ia menjelaskan bahwa Iran memiliki 90% uranium yang diduga akan dipakai untuk bom atom.
"Mereka sangat tertutup. Dalam enam bulan yang lalu, mereka memiliki sekitar 90% uranium yang diperkaya untuk bom atom," jelasnya.
Pada tahun 2015, tuduhannya berlanjut saat ia menyebut Iran memiliki bahan fisil yang diperlukan untuk pembuatan bom nuklir.
"Iran itu berbahaya. Berminggu-minggu berlalu, dari memiliki bahan fisil, hingga seluruh persenjataan bom nuklir," ucapnya.
Tuduhannya berlanjut pada tahun 2018 saat ia menyebut Iran memiliki kemampuan untuk membuat bom dalam waktu singkat.
"Mereka memiliki pengetahuan yang tersimpan dan terpelihara untuk membuat bom dengan sangat cepat jika mereka ingin melakukannya," jelasnya.
Klaim sepihak Netanyahu kembali diutarakan beberapa waktu lalu saat ia menyebut Iran akan segera menciptakan senjata nuklir dalam waktu dekat jika tak dihentikan.
Alasan itu yang membuat Israel melakukan serangan perdana ke Iran pada Jumat (13/6) dengan menyasar fasilitas nuklir negara tersebut.
"Jika tak dihentikan, Iran akan menciptakan senjata nuklir dalam waktu singkat. Bisa saja dalam setahun, bisa juga dalam beberapa bulan," kata Netanyahu dalam sebuah konferensi pers.
Advertisement
Advertisement
Pada 2023, Kementerian Pertahanan AS memperkirakan Iran bisa memproduksi bahan baku untuk satu bom nuklir dalam 12 hari, tetapi membuat senjata nuklir fungsional memerlukan waktu lebih lama (beberapa bulan) dan teknologi tambahan, seperti hulu ledak, yang diyakini belum dimiliki Iran.
Salah satu indikator utama yang memicu kekhawatiran adalah tingkat pengayaan uranium Iran. Saat ini, Iran telah memperkaya uranium hingga 60%. Angka ini mendekati ambang batas yang dibutuhkan untuk membuat senjata nuklir, yaitu 90%.
Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melaporkan Iran memiliki cukup material untuk memproduksi beberapa hulu ledak nuklir. Syaratnya, material tersebut harus diproses lebih lanjut.
Peningkatan pengayaan uranium ini melanggar batasan yang ditetapkan dalam JCPOA. Hal ini semakin memperkuat dugaan bahwa Iran memiliki ambisi tersembunyi dalam program nuklirnya.
Meski begitu, belum dapat dipastikan apakah Iran memang memiliki senjata nuklir atau tidak.
Sebaliknya, meski gencar mengecam isu pengadaan senjata nuklir Iran, faktanya Israel justru menjadi salah satu negara yang memiliki senjata nuklir. Mereka mengembangkan di akhir tahun 1960-an dengan jumlah hulu ledak sekitar 90-200 menurut sumber intelijen tahun 2023.
Israel bukan anggota NPT dan tidak pernah mengakui atau menyangkal kepemilikan senjata nuklir.