Terungkap Awal Mula Israel Punya Senjata Nuklir, Tipu Amerika Serikat Demi Ambisi Miliki Senjata 'Kiamat

Berikut awal mula Israel punya senjata nuklir yang ternyata tipu Amerika Serikat demi ambisi miliki senjata 'kiamat'.

Tantiya Nimas Nuraini
Oleh Tantiya Nimas Nuraini - Reporter
Terungkap Awal Mula Israel Punya Senjata Nuklir, Tipu Amerika Serikat Demi Ambisi Miliki Senjata 'Kiamat
nuklir israel (thestrategybridge)

Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi, Israel adalah salah satu negara yang memiliki senjata nuklir. Meskipun, Israel secara resmi tidak pernah mengakui memilikinya. Akan tetapi, diperkirakan mereka memiliki antara 80 hingga 400 hulu ledak nuklir.

Menurut perkiraan para peneliti di Federasi Ilmuwan Amerika, Israel diyakini memiliki 90 hulu ledak nuklir untuk pengiriman melalui pesawat, rudal balistik berbasis darat, dan mungkin rudal jelajah berbasis laut pada tahun 2021.

Kepemilikan inilah yang menjadikan Israel sebagai satu di antara sembilan negara di dunia yang mempunyai kemampuan nuklir. Berbeda dengan negara-negara yang ada dalam daftar, Israel justru mempertahankan kebijakan 'ambiguitas nuklir'.

Di mana kebijakan tersebut berarti mereka tidak secara terbuka mengakui atau menyangkal kepemilikan senjata nuklir. Strategi ini memungkinkan Israel untuk memiliki manfaat dari deterrence nuklir tanpa menghadapi tekanan internasional yang biasanya menyertai status sebagai kekuatan nuklir.

Tentu saja, ada banyak pertanyaan yang muncul di benak publik dunia mengenai senjata nuklir yang dimiliki Israel. Termasuk awal mula mereka memiliki senjata nuklir.

Lantas bagaimana awal mula Israel punya senjata nuklir? Apakah Israel tipu Amerika Serikat demi ambisi miliki senjata 'kiamat' ini? Melansir dari The Washington Post, Selasa (24/6), simak ulasan informasinya berikut ini.

Israel mulai mengembangkan kemampuan nuklirnya pada pertengahan tahun 1950-an. Saat itu, Perdana Menteri pertama Israel, David Ben-Gurion memutuskan bahwa Israel membutuhkan senjata nuklir sebagai polis asuransi terhadap negara-negara tetangga Arabnya.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Israel secara diam-diam memperoleh teknologi dan material untuk membuat senjata nuklir. Di mana niatnya ini sering kali menyesatkan pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah lain.

Pada tahun 1956 setelah krisis Suez yang dipicu oleh penutupan Terusan Suez oleh Mesir, pejabat Prancis merasa 'berutang' kepada Israel. Menurut Jewish Virtual Library, sebuah ensiklopedia daring, hal itu karena pejabat Prancis gagal memenuhi komitmen dalam petualangan yang gagal itu.

Karena 'berutang', Prancis secara rahasia membantu Israel membangun reaktor Dimona di gurun Negev. Pembangunan ini dengan rencana untuk pabrik pemrosesan ulang kimia jauh di bawah tanah yang tidak tercantum di atas kertas.

Ketika pejabat Prancis mulai berpikir ulang tentang proyek tersebut dan mendesak Israel untuk menghentikan pekerjaan, Israel mengusulkan kompromi. "Prancis akan membantu menyelesaikan pekerjaan dan tidak menuntut inspeksi internasional sebagai imbalan atas jaminan Israel bahwa negara itu tidak berniat membuat senjata nuklir".

Setelah menerima jaminan bahwa niat Israel bersifat damai, Norwegia memasok air berat yang membantu mengendalikan reaksi nuklir.

Pada akhir tahun 1950-an, intelijen Amerika Serikat menemukan fasilitas rahasia di tengah gurun. Akan tetapi saat itu, pejabat Israel berbohong kepada Kedutaan Besar Amerika dan mengatakan bahwa itu hanyalah pabrik tekstil.

Pejabat Israel juga memberikan penjelasan lain ketika ternyata pernyataannya itu salah. Pihaknya mengatakan bahwa pembangunan itu murni instalasi penelitian metalurgi yang tidak berisi pabrik pemrosesan ulang kimia yang diperlukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Pada bulan Desember 1960 dalam pidatonya di Knesset, Ben-Gurion mengungkapkan bahwa reaktor 24 megawatt di Dimona tidak akan selesai dalam waktu empat tahun. Menurutnya, reaktor itu "dimaksudkan secara eksklusif untuk tujuan damai."

Presiden AS yang baru terpilih John F. Kennedy, kemudian mendesak pejabat Israel untuk melakukan inspeksi rutin di Dimona. Ia khawatir tentang potensi penyebaran senjata nuklir di Israel.

Pada tahun 1961, sebuah tim menyimpulkan bahwa lokasi tersebut tidak memiliki fasilitas yang diperlukan, seperti pemrosesan ulang plutonium yang dibutuhkan untuk program senjata. Akan tetapi, pejabat AS tetap menginginkan inspeksi rutin dilakukan. Hal ini bertujuan agar mereka dapat meyakinkan negara-negara Arab, terutama Mesir, bahwa Israel tidak memiliki program bom rahasia.

Catatan diplomatik, yang diperoleh oleh Arsip Keamanan Nasional di Universitas George Washington, menunjukkan bahwa Israel menunda inspeksi tambahan. Mengetahui hal itu, Kennedy langsung mengirim pesan singkat pada bulan Juli 1963 kepada perdana menteri Israel yang baru, Levi Eshkol. Awalnya, surat itu dirancang untuk Ben-Gurion, tetapi Ia mengundurkan diri sebelum surat itu dapat disampaikan.

"Komitmen AS terhadap Israel bisa sangat terancam jika dianggap kita tidak mampu memperoleh informasi yang dapat diandalkan mengenai subjek yang sangat penting bagi perdamaian seperti pertanyaan mengenai upaya Israel di bidang nuklir," tulis Kennedy, seraya menambahkan bahwa para ilmuwan AS seharusnya memiliki akses tak terbatas ke semua lokasi di kompleks Dimona.

Sebulan kemudian, Eshkol menanggapi pesan singkat Kennedy dan menggarisbawahi penggunaan damai pabrik tersebut. Pada tahun 1964, tim inspeksi AS mengonfirmasi bahwa tidak ada kemampuan pembuatan senjata.

Namun nyatanya, satu pabrik dibangun di bawah reaktor. Untuk menutupi, Israel telah membangun dinding palsu di sekeliling lift yang menuju ke sana.

"Sebuah ruang kontrol palsu dibangun di Dimona, lengkap dengan panel kontrol palsu dan perangkat pengukur yang dioperasikan komputer yang tampaknya mengukur keluaran termal reaktor dua puluh empat megawatt (seperti yang diklaim Israel sebagai Dimona) yang beroperasi penuh. Ada sesi latihan ekstensif di ruang kontrol palsu tersebut, karena teknisi Israel berusaha menghindari kesalahan apa pun saat orang Amerika tiba. Tujuannya adalah untuk meyakinkan para inspektur bahwa tidak ada pabrik pemrosesan ulang kimia yang ada atau memungkinkan," tulis dalam Buku Seymour Hersh tahun 1991 "The Samson Option" merinci skema tersebut.

Pada tahun 1968, CIA yakin Israel memiliki senjata nuklir. Keyakinan ini menguat tepat saat negosiasi NPT selesai dan perjanjian yang dirancang untuk menggagalkan penyebaran senjata nuklir dibuka untuk ditandatangani oleh anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pejabat AS lantas menyimpulkan bahwa sudah terlambat untuk memutar balik waktu dan membuat Israel menghentikan kemampuan nuklirnya.

Rekomendasi