Ini 3 Presiden AS yang 'Membiarkan' Israel Mengembangkan Senjata Nuklir saat Masih Bisa Dicegah
Israel berhasil ciptakan senjata nuklir akibat kelalaian tiga presiden AS.
Israel menyerang fasilitas nuklir dan militer Iran pada Jumat (13/6). Serangan tersebut mengakibatkan lebih dari 220 orang tewas menurut Kementerian Kesehatan Iran.
Lewat Operasi Rising Lion, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan gempuran Israel ke fasilitas nuklir Natanz sebagai upaya untuk menghentikan dugaan produksi senjata nuklir Iran.
"Jika tidak dihentikan, Iran dapat memproduksi senjata nuklir dalam waktu yang sangat singkat," ucap Netanyahu.
Menanggapi ucapan Netanyahu, Iran menampik dan menegaskan bahwa program nuklirnya bersifat damai.
Senada dengan Israel, Amerika Serikat (AS) juga mempermasalahkan program nuklir Iran karena kekhawatiran program tersebut akan digunakan untuk mengembangkan senjata nuklir dan dianggap ancaman bagi keamanan AS dan sekutunya.
Padahal, Iran telah menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang melarang pengembangan senjata nuklir.
Alhasil AS ikut bergabung dengan Israel dengan menyerang tiga lokasi nuklir di Iran pada Minggu (22/6).
AS gencar menyerang Iran karena dugaan senjata nuklir lewat program nasional mereka. Namun, sebenarnya mereka juga sempat ditipu oleh Israel hingga saat ini memiliki senjata nuklir sendiri.
Sebuah fakta kelam yang disembunyikan oleh AS demi menjaga hubungan tetap akrab dengan Israel. Apalagi hal tersebut juga menyeret tiga sosok presiden AS dan disebut menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kepemilikan senjata nuklir Israel.
Manipulasi Israel Soal Senjata Nuklir
Melansir dari Washington Post, Selasa (24/6) pada akhir tahun 1950-an, intelijen AS menemukan fasilitas rahasia di tengah gurun. Namun, pejabat Israel saat itu berbohong kepada Kedutaan Besar Amerika dan mengatakan bahwa itu hanyalah pabrik tekstil.
Belakangan, klaim tersebut ternyata salah dan pejabat itu kembali memanipulasi fakta dengan menyebut lokasi tersebut digunakan sebagai instalasi penelitian metalurgi yang tidak memiliki pabrik pemrosesan ulang kimia.
Pada 1960, Ben-Gurion akhirnya mengungkap fasilitas reaktor 24 megawatt di Dimona dan menjelaskan tujuan fasilitas itu digunakan untuk damai.
Akan tetapi, Presiden John F.Kennedy yang khawatir dengan potensi penyebaran senjata nuklir mendesak agar rutin melakukan inspeksi di Dimona.
Pejabat AS menginginkan inspeksi rutin agar mereka dapat meyakinkan negara-negara Arab, terutama Mesir, bahwa Israel tidak memiliki program bom rahasia.
Pada 1964, tim inspeksi AS mengonfirmasi bahwa Israel tidak memiliki kemampuan membuat senjata nuklir. Namun dugaan itu salah lantaran Israel membangun sebuah pabrik di bawah reaktor. Israel membuat dinding palsu di sekeliling lift menuju ke sana.
Sebuah buku karya Seymour Hersh tahun 1991 berjudul “The Samson Option” pernah merinci skema tersebut.
Disebutkan Pabrik Dimona berisi ruang kontrol palsu lengkap dengan panel kontrol palsu dan perangkat pengukur dioperasikan komputer yang tampaknya mengukur keluaran termal reaktor dua puluh empat megawatt yang beroperasi penuh.
Bahkan mereka memiliki sesi latihan ekstensif di ruang kontrol palsu tersebut, agar teknisi Israel dapat meminimalisir kesalahan apa pun saat orang Amerika tiba.
Tujuannya adalah untuk meyakinkan para inspektur bahwa tidak ada pabrik pemrosesan ulang kimia yang ada atau memungkinkan.
Kesepakatan Rahasia Nixon-Meir
Pada tahun 1968, badan intelijen AS (CIA) meyakini Israel berhasil memiliki senjata nuklir, tepat saat negosiasi NPT selesai dan perjanjian yang dirancang untuk menggagalkan penyebaran senjata nuklir dibuka untuk ditandatangani oleh anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Akan tetapi, pejabat AS saat itu menyimpulkan sudah terlambat untuk memutar balik waktu dan membuat Israel meninggalkan kemampuan nuklirnya.
Lewat pertemuan pribadi di Gedung Putih pada tanggal 26 September 1969, Presiden Richard M. Nixon dan Perdana Menteri Israel Golda Meir membuat kesepakatan rahasia.
Sayangnya dari pertemuan itu, Nixon-Meir tidak membahas penghentian permanen produksi senjata nuklir. Akan tetapi pertemuan itu menyepakati Israel tidak akan menguji senjatanya atau mengakuinya, dan sebagai balasannya AS akan mengakhiri kunjungannya ke Dimona serta berhenti menekan Israel untuk menandatangani NPT.
Catatan saat itu dari penasihat keamanan nasional Henry Kissinger menunjukkan Nixon menekan Meir untuk tidak secara terang-terangan memperkenalkan senjata nuklir di wilayah tersebut.
Abaikan Senjata Nuklir Israel
Dua presiden AS lain juga disebut terseret pada kasus kepemilikan senjata nuklir Israel.
Pada tahun 1979, sebuah satelit AS (dikenal sebagai Vela 6911) yang dirancang untuk memantau kepatuhan terhadap Perjanjian Larangan Uji Coba Sebagian tahun 1963 mendeteksi kemungkinan uji coba nuklir di lepas pantai Afrika Selatan.
Presiden Jimmy Carter dan pejabat AS lainnya menduga ini adalah uji coba Israel, yang jika benar akan melanggar perjanjian Nixon-Meir.
Namun Leonard Weiss, seorang ajudan kongres saat itu, menulis pada tahun 2011 bahwa pemerintahan Jimmy Carter dan Ronald Reagan mengabaikan atau meremehkan informasi intelijen yang mengarah ke Israel.
"Bobot bukti bahwa peristiwa Vela adalah uji coba nuklir Israel yang dibantu oleh Afrika Selatan tampak sangat kuat," kata Weiss dalam catatan harian Carter.
Sayangnya, Israel tidak pernah secara resmi mengakui uji coba tersebut. Namun pakar lain meragukan terhadap bukti dan bahwa penyembunyian semacam itu memang pernah terjadi.
Kegagalan AS menghentikan upaya Israel untuk membuat bom menunjukkan betapa sulitnya untuk menahan keinginan untuk memiliki senjata nuklir.
'Pasrahnya' AS terhadap persediaan nuklir Israel telah mengundang tuduhan standar ganda AS di Timur Tengah selama lebih dari setengah abad.