Mahasiswa Temukan Kulkas Zaman Romawi Berusia 2.000 Tahun, Terbuat dari Tanah Liat
Tim arkeolog di Jerman menemukan benda-benda yang diyakini sebagai lemari es zaman Romawi.
Mahasiswa arkeologi kampus Universitas Cologne, Jerman menemukan beberapa benda yang di antaranya sisa-sisa amphora anggur Romawi, sendok perunggu, pecahan peralatan makan Terra Sigillata, dan sebuah struktur yang diyakini sebagai “lemari es” Romawi berusia 2.000 tahun.
Penemuan tersebut terjadi setelah melakukan penggalian selama empat minggu di di LWL-Römermuseum di Haltern am See, Jerman. Struktur yang diidentifikasi sebagai Kühlgrube (Lubang Pendingin) ini memberikan wawasan langka tentang bagaimana tentara Romawi menjalani kehidupan sehari-hari mereka di perbatasan kekaisaran.
Menjaga Bahan Makanan Supaya Tetap Awet
Lubang pendingin Romawi atau Kühlgrube digunakan untuk mengawetkan bahan makanan yang mudah rusak. Mulai dari keju, daging, anggur, dan buah buahan. Lubang pendingin ini digali ke dalam tanah dan terkadang dilapisi dengan tanah liat atau batu untuk menjaga suhu tetap stabil dan sejuk.
Bangsa romawi membangun ruang bawah tanah di vila mereka, seperti di provinsi-provinsi perbatasan seperti Germania. Karena iklimnya yang lebih dingin, lubang ini mungkin ditutupi dengan papan kayu dan diisi jerami untuk insulasi.
"Bangsa Romawi ternyata sangat inovatif dalam hal penyimpanan makanan,” kata Profesor Eckhard Deschler-Erb, orang yang memimpin penggalian Departemen Arkeologi di Universitas Cologne.
Kemewahan dan Akhir Dramatis di Benteng Aliso
Selain lubang pendingin, penggalian ini juga mengungkap potret kehidupan canggih di benteng perbatasan. Para arkeolog menemukan pecahan Terra Sigillata, peralatan makan keramik mewah berglasir merah yang dikenal sebagai "tanah cap".
Penemuan ini, bersama dengan sendok perunggu dan amphora anggur impor, menunjukkan bahwa para perwira atau pedagang kaya di Aliso menikmati standar hidup yang tinggi.
Namun, situs ini juga menceritakan akhir yang dramatis. Dr. Bettina Tremmel, pakar Romawi dari Landschaftsverband Westfalen-Lippe (LWL), mencatat adanya parit-parit tiang yang luar biasa tebal. Ini ditafsirkan sebagai bukti "pembongkaran panas" bangsa Romawi sengaja membakar tiang-tiang kayu kamp sebelum mencabut sisa-sisanya.
Lapisan kehancuran ini kemungkinan besar berasal dari mundurnya pasukan Romawi secara besar-besaran dari Germania setelah kekalahan telak mereka dalam Pertempuran Hutan Teutoburg pada tahun 9 Masehi.
Reporter Magang: Muhammad Naufal Syafrie