Krisis Pasukan, Satu Dari Lima Tentara Israel Kini Perempuan
Bulan lalu militer Israel mengakui mereka kekurangan sekitar 10.000 tentara.
Israel mengalami krisis pasukan parah setelah 20 bulan melancarkan genosida di Jalur Gaza. Kini, tenaga kerja militer mulai beralih ke perempuan untuk menggantikan peran-peran penting pasukan laki-laki.
Sebelum serangan Israel di Jalur Gaza, tentara perempuan Israel sebagian besar memerankan peran yang terbatas seperti menjaga perbatasan dan menjaga pos-pos pemeriksaan di Tepi Barat yang diduduki. Namun, operasi militer yang berlarut-larut membuat tentara perempuan dikerahkan ke garis depan di Gaza, Lebanon, dan Suriah.
Pada Mei, militer Israel mengakui kekurangan lebih dari 10.000 tentara. Krisis ini diperparah dengan pengungkapan bahwa lebih dari 9.000 pasukan cadangan tempur menjalani perawatan karena menderita trauma psikologis.
Wajib militer
Laporan media Israel menyoroti dampak perang terhadap tentara mereka sendiri, sehingga semakin membebani kapasitas militer untuk mempertahankan operasi yang berkepanjangan.
Dilansir Middle East Monitor, Rabu (11/6), satu dari lima tentara tempur di militer Israel sekarang diisi oleh perempuan. Para perempuan itu memasuki zona pertempuran yang lebih berbahaya untuk menutupi kekurangan pasukan.
Sebagai tanggapan akan hal ini, pemerintah Israel kini juga menargetkan pria Yahudi ultra-Ortodoks untuk wajib militer. Setelah putusan Mahkamah Agung membatalkan pengecualian yang telah lama berlaku, militer berupaya mengintegrasikan kelompok ini ke dalam dinas aktif. Populasi kelompok tersebut sekitar 13 persen di Israel.
Meskipun ada perekrutan tentara perempuan, sebagian besar peran tempur elit tetap tidak dapat diakses oleh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kehadiran mereka merupakan tindakan sementara daripada perubahan sistematik.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey