Israel Kekurangan 10.000 Tentara, Wajib Militer Diperpanjang Sampai 4 Bulan
Israel berencana memperluas serangannya ke Jalur Gaza, namun kekurangan ribuan tentara.
Militer Israel mengumumkan akan memperpanjang wajib militer selama empat bulan karena kekurangan 10.000 tentara. Hal tersebut bertepatan dengan meningkatnya serangan yang mereka lakukan di Gaza serta bangkitnya kembali operasi perlawanan mematikan terhadap pasukan Israel.
Tambahan empat bulan tersebut akan diklasifikasikan sebagai tugas cadangan, sehingga memungkinkan para prajurit untuk menyelesaikan total tiga tahun dinas militer. Selain itu, militer Israel juga akan membatalkan cuti pra-pembebasan bagi prajurit. Pasukan harus menjalani tugas selama tiga tahun penuh sebelum diberhentikan.
Angkatan darat menyatakan keputusannya bersifat sementara dan bertujuan untuk membantu mengatasi kekurangan pasukan saat ini.
“Saat ini, kami kekurangan 10.000 tentara, 7.000 di antaranya dalam unit tempur,” kata militer Israel seperti dikutip The Cradle, Selasa (29/4).
Pada 26 April, Israel mengumumkan kematian Sersan Staf Neta Yitzhak Kahana, seorang agen rahasia dari Kepolisian Perbatasan Selatan. Ia tewas dalam bentrokan dengan pejuang perlawanan di Gaza. Kematiannya menandai tewasnya tentara Israel kedua selama sepekan terakhir, keduanya tewas di lingkungan Shujaiya di Kota Gaza.
Israel mengatakan mereka akan melancarkan serangan besar-besaran di seluruh Gaza, jika tidak ada kemajuan dalam negosiasi gencatan senjata. Menurut pihak di Tel Aviv, operasi saat ini di Gaza membuat militer Israel merebut 50 persen wilayah di Jalur Gaza.
Mereka mengatakan serangan yang diperluas terhadap Gaza akan mencakup pemanggilan besar-besaran pasukan cadangan dan operasi di wilayah baru Jalur Gaza.
Sementara itu, bulan lalu, media Israel melaporkan tentara menghadapi krisis dalam cadangan karena semakin banyak tentara yang menunjukan kurangnya motivasi dan menolak dikerahkan ke Gaza.
Ogah Ditugaskan ke Gaza
Seorang komandan senior bagian cadangan mengatakan kepada Haaretz, terdapat banyak kasus tentara cadangan yang menolak melapor untuk bertugas.
Menurut perkiraan, tingkat respons untuk panggilan cadangan yang akan datang diharapkan tidak lebih dari 50 persen. Hal ini menandai penurunan 50 persen sejak dimulainya perang pada 2023.
Krisis tenaga kerja di Israel bertepatan dengan meningkatnya ketegangan antara lembaga politik dan keamanan Israel.
Mantan Kepala Shin Bet Ami Ayalon menyerukan pembangkangan sipil terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Hal tersebut terjadi setelah pemecatan Ayalon dari jabatan kepala Shin Bet. Seruan ini terjadi selama unjuk rasa warga Israel di Tel Aviv pada Sabtu (26/4).
Para pengunjuk rasa Israel turun ke jalan dan menuntut untuk segera melakukan kesepakatan pertukaran tahanan di Gaza, di mana serangan udara tanpa henti membahayakan nyawa para tahanan yang masih ditahan Hamas.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey