Wamen ESDM: Perang Iran Vs Israel Tak Ganggu Stok Migas Dalam Negeri
"Kalau untuk stok migas di Indonesia, kalau gas kita cukup. Jadi kalau untuk produksi kita sekitar 1,1 juta itu setara dengan minyak.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung memastikan stok minyak dan gas (migas) Indonesia dalam kondisi aman dan tidak terganggu dengan perang antara Iran-Israel. Meski demikian, Kementerian ESDM sudah melihat potensi impor migas dari negara lain.
Yuliot mengatakan, saat ini produksi gas bumi Indonesia mencapai 1,1 Billion Cubic Feet (BCF). Sementara untuk minyak bumi, produksi mencapai 600 ribu barel per hari.
"Kalau untuk stok migas di Indonesia, kalau gas kita cukup. Jadi kalau untuk produksi kita sekitar 1,1 juta itu setara dengan minyak. Kemudian untuk minyak bumi sekitar 600 ribu barel itu per hari," ujarnya kepada wartawan usai menghadiri Musyawarah Kerja Nasional Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) di Aston Hotel Makassar, Sabtu (28/6).
Yuliot berharap dengan kombinasi sumber energi lainnya, perang Iran dan Israel tidak memberikan dampak besar terhadap migas Indonesia. Meski demikian, kata Yuliot, Kementerian ESDM tetap melihat potensi impor migas dari negara lain.
"Mudah-mudahan dengan kombinasi sumber energi yang kita miliki dampaknya tidak terlalu besar. Tapi ini kita juga melihat potensi impor dari negara-negara lain," sebutnya.
Impor Gas Indonesia dari AS
Yuliot menyebut impor gas Indonesia 50 "Jadi sekitar 50 persen lebih itu kan impor dari Amerika. Jadi kita juga melihat sumber impor gas tinggi dari negara-negara lain juga," ucapnya.
Sebelumnya diberitakan, Yuliot menyebut pemerintah akan meresmikan empat pembangkit berbasis energi panas bumi satu geothermal untuk mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM). Dia menyebabkan percepatan program transisi energi bersih tersebut telah berlangsung sejak 2022.
"Jadi ya ini juga mengurangi ketergantungan kita terhadap minyak. Jadi sebenarnya ini kan sudah dilakukan dari tahun 2022 yang lalu ya," pungkasnya.