BPH Migas Pastikan Stok BBM Indonesia Aman di Tengah Gejolak Timur Tengah
Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho memastikan stok BBM Indonesia tetap aman, meskipun ada penutupan Selat Hormuz. Pemerintah telah menyiapkan alternatif pasokan, jadi masyarakat diminta tidak panik menghadapi gejolak di Timur Tengah.
Jakarta, 13/3 (ANTARA) - Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Fathul Nugroho, menegaskan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia tetap dalam kondisi aman. Pernyataan ini disampaikan Fathul di tengah kekhawatiran akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran dan gejolak geopolitik di Timur Tengah.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi situasi global yang berpotensi memengaruhi pasokan energi. Pemerintah Indonesia dinilai telah mengambil langkah proaktif dengan menyiapkan sejumlah alternatif untuk mengantisipasi potensi kekurangan pasokan BBM impor dari kawasan tersebut.
“Sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah),” kata Fathul Nugroho dalam keterangannya di Jakarta, Jumat. “Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik.”
Strategi Diversifikasi Pasokan Minyak Mentah Nasional
Fathul Nugroho menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran bukanlah persoalan besar bagi ketahanan energi Indonesia. Hal ini didasari oleh strategi diversifikasi pasokan minyak mentah yang telah diterapkan oleh pemerintah. Mayoritas impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara-negara yang tidak terlibat konflik di Timur Tengah.
Ia merinci bahwa sekitar 81 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari negara-negara yang tidak terdampak atau terlibat langsung dalam konflik. Sejak April 2025 hingga Maret 2026, Indonesia paling banyak mengimpor minyak mentah dari Nigeria, mencapai 34,07 juta barel atau sekitar 25 persen dari total impor. Selanjutnya, Angola menyumbang 28,50 juta barel atau 21 persen, dan dari negara lain sebanyak 47,40 juta barel atau 35 persen. Sementara itu, dari Arab Saudi tercatat 28,50 juta barel atau sekitar 19 persen.
“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik. Artinya pasokan BBM Indonesia tetap aman,” ujar Fathul, menekankan bahwa kebijakan ini menjadi benteng pertahanan terhadap fluktuasi geopolitik.
Klarifikasi Kapasitas Penyimpanan dan Cadangan Operasional BBM
Fathul Nugroho juga meluruskan persepsi yang keliru mengenai cadangan BBM nasional yang disebut hanya cukup untuk 20 hari. Menurutnya, angka tersebut berkaitan dengan keterbatasan kapasitas penyimpanan yang dimiliki oleh Pertamina, bukan keseluruhan ketersediaan pasokan BBM di Indonesia.
Kapasitas penyimpanan BBM nasional milik Pertamina saat ini tercatat sebesar 6,10 juta kiloliter (KL), yang setara dengan sekitar 67 persen dari total kapasitas penyimpanan. Sementara itu, fasilitas penyimpanan milik non-Pertamina mencapai 3,06 juta KL atau sekitar 33 persen dari total kapasitas. Total kapasitas penyimpanan ini memastikan ketersediaan yang memadai.
“Hingga saat ini cadangan operasional BBM Indonesia masih tergolong aman, termasuk untuk memenuhi kebutuhan setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026,” tegas Fathul. Hal ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam menjamin pasokan energi bagi masyarakat, bahkan di tengah periode puncak konsumsi.
Sumber: AntaraNews