Wacana Pembekuan Bea Cukai, Begini Respons Pengamat Pajak
Persoalan utama tidak terletak pada keberadaan institusi, melainkan pada kualitas dan ketegasan pemimpin.
Pengamat pajak sekaligus Direktur Eksekutif Pratama-Kreston Tax Research Institute, Prianto Budi Saptono, menilai wacana pembekuan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) bukan langkah strategis untuk memperbaiki kinerja lembaga tersebut.
Ia menegaskan persoalan utama tidak terletak pada keberadaan institusi, melainkan pada kualitas dan ketegasan pemimpin.
"Ada ungkapan 'leadership is the key'. Ini berarti bahwa pembekuan DJBC bukan langkah tepat," ujar Prianto dikutip Liputan6.com, Selasa (2/12).
Prianto menyebut seorang pemimpin yang efektif harus mampu melakukan pembenahan menyeluruh terhadap berbagai kelemahan yang selama ini menjadi sorotan publik.
Ia menilai Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa beserta jajaran pimpinan DJBC memiliki kapasitas untuk mendorong perubahan signifikan tanpa perlu membekukan institusi.
“Sebagai good leader, Menkeu dan jajaran pimpinan di DJBC harus mampu mereformasi segala kelemahan yang ada selama ini dan telah disorot masyarakat. Masih banyak orang baik dan berintegritas di DJBC. Sudah saatnya, mereka tampil untuk membenahi internal DJBC ketika sudah ada dorongan kuat dari Menkeu-nya,” jelasnya.
Muncul Wacana DJBC Dibubarkan
Wacana pembekuan DJBC sebelumnya muncul setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah masih membuka berbagai skenario pembenahan, termasuk opsi ekstrem berupa penghentian sementara operasional lembaga.
Opsi final, menurut Purbaya, berada sepenuhnya di tangan Presiden. Pemerintah disebut siap mengambil langkah tegas apabila perbaikan internal yang ditargetkan tidak menunjukkan hasil.
“Bebas, nanti kita lihat seperti apa. Kalau emang enggak bisa perform ya kita bekukan. Dan betul-betul-betul beku, artinya 16 ribu pegawai bea cukai kita rumahkan,” ujar Purbaya usai menghadiri Rapimnas Kadin, Selasa (2/12).