Pengembang Optimistis, Sektor Properti Sulsel Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Ekonomi
Di tengah gejolak ekonomi global dan tantangan biaya, pengembang properti di Sulawesi Selatan tetap menunjukkan optimisme tinggi. Simak bagaimana Sektor Properti Sulsel terus bertumbuh berkat tingginya kebutuhan hunian dan dukungan perbankan, serta strate
Pelaku industri properti di Sulawesi Selatan (Sulsel) menunjukkan optimisme kuat terhadap pertumbuhan sektor perumahan dan properti, meskipun dihadapkan pada tekanan harga dan berbagai faktor ekonomi. Optimisme ini didorong oleh komitmen perbankan yang terus memperkuat pembiayaan serta dukungan regulator dalam menjaga iklim usaha yang kondusif. Kondisi ini menjadi modal penting bagi pertumbuhan sektor properti, meski pasar menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya pembangunan, inflasi, dan dinamika ekonomi global.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Sulsel, Yasser Latif, menyatakan bahwa kebutuhan hunian di Sulsel masih sangat tinggi, terutama di kawasan perkotaan seperti Makassar dan daerah penyangganya. Tingginya permintaan ini menjadi fondasi utama bagi pengembang untuk terus berinovasi dan memenuhi kebutuhan pasar. Sektor properti di wilayah ini terus menunjukkan resiliensi yang kuat.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan ini, sinergi antara pengembang, perbankan, dan pemerintah menjadi sangat penting. Kolaborasi ini dinilai sebagai kunci utama agar sektor perumahan tetap mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendorong aktivitas ekonomi daerah secara berkelanjutan. Upaya bersama ini diharapkan dapat mengatasi berbagai kendala yang mungkin muncul.
Kebutuhan Hunian Tinggi Dorong Optimisme Pengembang di Sulsel
Meskipun menghadapi tantangan ekonomi seperti kenaikan biaya pembangunan dan inflasi, pengembang di Sulawesi Selatan tetap optimistis terhadap prospek sektor properti. Optimisme ini berakar pada tingginya kebutuhan hunian yang belum terpenuhi, terutama di pusat-pusat pertumbuhan seperti Kota Makassar dan wilayah sekitarnya. Yasser Latif dari APERSI Sulsel menegaskan bahwa permintaan yang kuat ini menjadi pendorong utama bagi para pelaku industri untuk terus berinvestasi dan mengembangkan proyek-proyek baru.
Tantangan ekonomi global dan kenaikan harga bahan baku memang menjadi perhatian serius bagi pengembang. Namun, dengan adanya dukungan perbankan yang solid dan iklim usaha yang kondusif, para pengembang merasa lebih percaya diri. Mereka melihat bahwa pasar properti di Sulsel memiliki fundamental yang kuat untuk terus bertumbuh.
Kondisi geografis dan demografis Sulsel yang strategis juga turut mendukung tingginya permintaan properti. Urbanisasi yang terus meningkat di kota-kota besar seperti Makassar menciptakan kebutuhan akan tempat tinggal yang layak. Ini menjadi peluang besar bagi pengembang untuk menyediakan berbagai jenis hunian sesuai dengan segmen pasar yang berbeda.
Peran Vital Perbankan dalam Mendukung Pembiayaan Properti
Sektor perbankan memainkan peran krusial dalam menjaga denyut nadi pertumbuhan properti di Sulawesi Selatan melalui penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa penyaluran KPR di Sulsel terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, nilai KPR tercatat mencapai Rp30,73 triliun, menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 15,34 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Mayoritas pembiayaan KPR ini disalurkan untuk kredit rumah tinggal, yang mengindikasikan bahwa permintaan masyarakat terhadap hunian masih sangat besar. Selain Kota Makassar, pertumbuhan penyaluran KPR juga meluas ke beberapa daerah penyangga lainnya. Kabupaten Gowa, Maros, Kota Parepare, dan Palopo menjadi contoh daerah yang turut berkontribusi pada geliat sektor properti di Sulsel.
Sebagai wujud komitmen, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BRI, misalnya, telah menjalin kerja sama dengan 15 pengembang yang bernaung di bawah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Sulsel. Regional Consumer Banking Head BRI RO Makassar, Eko Jayaputra, menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan untuk memperluas akses layanan pembiayaan perumahan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui kemudahan fasilitas KPR. Eko Jayaputra optimistis bahwa penguatan ekosistem bisnis properti di Indonesia Timur akan memacu pertumbuhan kredit konsumer yang sehat dan berkelanjutan.
Sinergi Pengembang, Perbankan, dan Pemerintah Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan
Pertumbuhan sektor properti yang berkelanjutan di Sulawesi Selatan sangat bergantung pada sinergi kuat antara pengembang, perbankan, dan pemerintah. Yasser Latif menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif dan stabil. Dengan adanya kerja sama yang erat, berbagai tantangan dapat diatasi secara lebih efektif, dan peluang pertumbuhan dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Dukungan regulasi dari pemerintah sangat dibutuhkan untuk memastikan kemudahan perizinan dan kepastian hukum bagi investor dan pengembang. Sementara itu, perbankan berperan dalam menyediakan akses pembiayaan yang mudah dan terjangkau bagi masyarakat. Pengembang, di sisi lain, bertanggung jawab untuk menyediakan produk hunian yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar.
Kolaborasi antara BRI dan REI Sulsel adalah contoh nyata dari sinergi yang efektif. Melalui kemitraan ini, diharapkan akses masyarakat terhadap KPR semakin terbuka lebar, yang pada gilirannya akan meningkatkan daya beli dan permintaan akan properti. Ini akan menciptakan efek domino positif bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Dengan terus memperkuat ekosistem bisnis properti di Indonesia Timur, diharapkan sektor ini tidak hanya memenuhi kebutuhan hunian tetapi juga menjadi salah satu pilar utama penggerak ekonomi daerah. Pertumbuhan kredit konsumer yang sehat dan berkelanjutan akan menjadi indikator keberhasilan dari upaya sinergi ini.
Sumber: AntaraNews