Pemkab Mimika Gencarkan Budi Daya Kepiting Demi Keberlanjutan Ekspor
Pemerintah Kabupaten Mimika mendorong budi daya kepiting bakau untuk menjamin keberlanjutan ekspor ke Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Ini krusial karena tingginya permintaan dan ketergantungan pada tangkapan alam.
Pemerintah Kabupaten Mimika, Papua Tengah, secara proaktif mendorong pengembangan budi daya kepiting bakau di wilayahnya. Upaya ini bertujuan untuk menjaga keberlangsungan ekspor komoditas perikanan yang memiliki permintaan tinggi di pasar global. Langkah strategis ini diambil untuk mengatasi ketergantungan pada hasil tangkapan alam yang tidak berkelanjutan.
Bupati Mimika, Joahannes Rettob, menjelaskan bahwa saat ini ekspor kepiting masih sangat bergantung pada tangkapan masyarakat. Ketergantungan ini dinilai tidak dapat menjamin kesinambungan pasokan untuk memenuhi permintaan ekspor yang terus meningkat. Oleh karena itu, budi daya menjadi solusi utama untuk stabilitas pasokan.
Inisiatif ini muncul seiring dengan tingginya permintaan dari berbagai negara, termasuk Tiongkok, Malaysia, dan Singapura. Pemkab Mimika bertekad memastikan ketersediaan komoditas perikanan, khususnya kepiting, melalui program budi daya yang terstruktur dan berkelanjutan demi kemajuan ekonomi lokal.
Urgensi Budi Daya untuk Pasar Global
Permintaan kepiting bakau dari luar negeri menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dan berkelanjutan. Negara-negara seperti Tiongkok, Malaysia, dan Singapura telah menyatakan minat besar terhadap komoditas ini dari Mimika, menciptakan peluang ekonomi yang besar. Kondisi ini menuntut Mimika untuk memiliki pasokan yang stabil dan terjamin kualitasnya.
Saat ini, pasokan kepiting untuk ekspor masih didominasi oleh hasil tangkapan langsung dari alam. Ketergantungan pada tangkapan alam berisiko tinggi terhadap fluktuasi pasokan, kualitas produk, dan keberlanjutan ekosistem. Budi daya menjadi jalan keluar untuk memastikan ketersediaan tanpa merusak lingkungan dan menjaga kualitas.
Bupati Rettob menegaskan pentingnya memastikan komoditas perikanan selalu tersedia untuk pasar ekspor. Dengan adanya pesanan dari berbagai negara, proses budi daya harus segera dioptimalkan dan diperluas. Ini adalah langkah krusial untuk mempertahankan dan meningkatkan volume ekspor kepiting Mimika, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal.
Tantangan dan Upaya Pemkab Mimika
Pemerintah Kabupaten Mimika sebelumnya telah mencoba melakukan budi daya kepiting bakau di Kampung Kekwa, Distrik Mimika Tengah. Namun, upaya tersebut belum berjalan secara optimal dan maksimal. Hal ini menjadi catatan penting bagi Pemkab Mimika untuk mengevaluasi strategi yang ada dan mencari solusi yang lebih efektif.
Bupati Joahannes Rettob mengakui adanya kendala dalam pelaksanaan budi daya sebelumnya, kemungkinan karena kurangnya pendampingan atau metode yang belum tepat. Pemkab Mimika berencana mencari pola baru yang lebih efektif agar proses budi daya dapat berjalan maksimal. Pendampingan ahli dan penerapan teknologi yang sesuai menjadi kunci keberhasilan program ini.
Selain kepiting bakau, Mimika juga memiliki komoditas perikanan lain yang bernilai ekonomi tinggi, seperti udang dan ikan. Diversifikasi komoditas perikanan melalui budi daya dapat memperkuat sektor ekonomi daerah secara keseluruhan. Fokus pada budi daya kepiting adalah langkah awal yang strategis untuk memanfaatkan potensi sumber daya laut Mimika.
Kantor Bea Cukai Mimika mencatat volume ekspor kepiting bakau (karaka) dari Mimika ke Malaysia dan Singapura cukup substansial. Dari Januari hingga Mei 2026, total ekspor mencapai 16,9 ton. Data ini tidak hanya menunjukkan potensi besar Mimika dalam pasar ekspor perikanan, tetapi juga menegaskan urgensi pengembangan budi daya untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat.
Sumber: AntaraNews