Menguak Potensi Investasi Jangka Panjang Indonesia
Laporan tersebut memproyeksikan bahwa aset berisiko, khususnya ekuitas, masih berpotensi mencatat kinerja positif pada tahun 2026.
Laporan Global Market Outlook 2026, Blowing Bubbles? dari Standard Chartered menyoroti bahwa meskipun valuasi sejumlah aset telah meningkat, kondisi saat ini belum menunjukkan karakteristik bubble sistemik seperti pada periode sebelumnya.
Laporan tersebut memproyeksikan bahwa aset berisiko, khususnya ekuitas, masih berpotensi mencatat kinerja positif pada tahun 2026. Hal ini didorong oleh pertumbuhan laba perusahaan, termasuk dari tema struktural seperti adopsi teknologi dan AI.
CEO, Standard Chartered Indonesia, Donny Donosepoetro OBE mengatakan, di tengah kondisi pasar yang penuh tantangan, pihknya tetap optimistis terhadap potensi investasi jangka panjang Indonesia. Langkah-langkah reformasi yang cepat dari regulator, serta fokus yang berkelanjutan pada fundamental ekonomi, menjadi fondasi penting untuk pemulihan.
"Dalam situasi seperti ini, disiplin dalam membangun portofolio dan diversifikasi menjadi semakin krusial agar nasabah dapat melewati volatilitas sekaligus tetap fokus pada tujuan jangka panjang mereka," kata Donny di Jakarta, Jumat (6/2).
Dalam laporan tersebut, Standard Chartered mengidentifikasi tiga tema utama investasi 2026, yaitu:
• Equities, dengan fokus pada pasar yang ditopang pertumbuhan laba.
• Income, khususnya obligasi emerging markets yang menawarkan yield menarik sekaligus diversifikasi, dan
• Diversifiers, seperti emas dan strategi alternatif, untuk membantu meredam volatilitas portofolio.
Pendekatan ini menekankan pentingnya diversifikasi lintas kelas aset dan kawasan, serta alokasi portofolio yang lebih terstruktur, mencakup komponen inti (core), taktis (tactical), dan oportunistik (opportunistic), agar investasi dapat menyeimbangkan potensi imbal hasil dengan pengelolaan risiko jangka panjang.
Gelar World of Wealth ke-23
Membahas masalah ini, Standard Chartered Indonesia kembali menggelar forum tahunan World of Wealth (WoW) untuk ke-23 kalinya di Jakarta, sebagai bagian dari komitmen Standard Chartered untuk mendampingi nasabah Priority dan Priority Private menavigasi dinamika pasar sekaligus membangun perencanaan keuangan jangka panjang yang lebih berkelanjutan.
Mengusung tema 'Empower Your Journey: Today, Tomorrow, Forever', WoW Jakarta menghadirkan diskusi panel bersama para praktisi investasi dan ekonom untuk membahas prospek ekonomi global dan regional, peluang investasi lintas kelas aset di tahun 2026, serta strategi membangun portofolio yang lebih resilien di tengah valuasi pasar yang relatif tinggi dan ketidakpastian global.
Diskusi panel menghadirkan Marco Giubin, Managing Director and Senior Portfolio Manager, Asia Pacific Equity Strategies, Manulife Investment Management; Michael T. Tjoajadi, Presiden Direktur Schroders Indonesia; serta Aldian Taloputra, Senior Economist, Standard Chartered Indonesia, dengan dimoderatori oleh Tandy Cahyadi, Head of Affluent Segment, Distribution & Wealth Solutions, Standard Chartered Indonesia.
Riset Terbaru Standard Chartered
Sebagai bagian dari diskusi, Aldian Taloputra juga secara singkat berbagai pandangan dari riset terbaru Standard Chartered, yang memperkirakan ekonomi Indonesia akan memasuki fase pertumbuhan yang lebih siklikal, dengan PDB Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,2 persen di tahun 2026, atau meningkat dari proyeksi 5 persen di tahun 2025.
Dari sisi kebijakan moneter, Standard Chartered memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan sikap yang berhati-hati sepanjang tahun 2026, dengan menyeimbangkan stabilitas eksternal serta dukungan terhadap pertumbuhan domestik.
Selain menjadi wadah berbagi insight investasi, WoW 2026 juga menjadi memomentum kepedulian sosial. Dalam kesempatan ini, Standard Chartered melakukan seremoni penyerahan donasi secara simbolis kepada Plan Internasional Indonesia untuk mendukung upaya pemulihan pascabencana banjir di sejumlah wilayah Sumatra. Donasi senilai Rp250 juta ini difokuskan pada pemulihan kesejahteraan masyarakat terdampak, termasuk penguatan dukungan psikososial serta bantuan berkelanjutan bagi anak-anak dan keluarga agar dapat bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih tangguh.