Fakta Unik: Meski Suku Bunga Turun, Bisnis Transaction Banking Stanchart Tetap Solid Hingga 2025
Standard Chartered Indonesia optimis bisnis transaction banking tetap solid hingga 2025, bahkan di tengah tren rate cut. Apa rahasia di balik ketangguhan ini?
Standard Chartered Indonesia (Stanchart) menyatakan keyakinannya terhadap bisnis transaction banking. Sektor ini diprediksi akan tetap solid hingga akhir tahun 2025. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta di tengah tren penurunan suku bunga acuan (rate cut) yang berpotensi menekan pendapatan bunga perbankan.
Jenny Tantono, Head of Transaction Banking Standard Chartered Indonesia, menjelaskan bahwa kinerja bisnis ini masih sangat kuat. Faktor-faktor yang dapat dikendalikan oleh bank telah dijaga dengan sangat baik. Hal ini memungkinkan pertumbuhan berkelanjutan meskipun ada tekanan eksternal dari suku bunga.
Salah satu pendorong utama adalah pertumbuhan signifikan dari Koridor China. Selain itu, peningkatan aktivitas devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) turut berkontribusi positif. Strategi pengelolaan kas juga menjadi kunci dalam menarik Dana Pihak Ketiga (DPK) yang stabil.
Pendorong Utama Ketangguhan Transaction Banking
Kinerja solid bisnis transaction banking Standard Chartered Indonesia didorong oleh beberapa faktor kunci. Salah satunya adalah pertumbuhan pesat dari lini bisnis Koridor China. Lini ini memfasilitasi transaksi perdagangan dan investasi dengan China secara efektif.
Segmen Koridor China mencatat kenaikan pendapatan sekitar 48 persen. Selain itu, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dari segmen ini mencapai sekitar 30 persen. Pembiayaan perdagangan (trade financing) juga melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Peningkatan aktivitas Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) juga turut menjadi penopang kinerja. Jenny Tantono mencatat bahwa jumlah eksportir yang memiliki rekening khusus DHE SDA di Standard Chartered Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Ini menunjukkan kepercayaan eksportir terhadap layanan bank.
Strategi Adaptasi di Tengah Tantangan Suku Bunga
Dalam menghadapi kebijakan penurunan suku bunga, Standard Chartered Indonesia menunjukkan komitmen adaptif. Bank akan menyesuaikan suku bunga pinjaman dan simpanan sesuai dengan kondisi pasar. Langkah ini bertujuan untuk membantu industri menurunkan biaya dana (cost of fund).
Penyesuaian suku bunga juga penting untuk menjaga stabilitas sistem perbankan secara keseluruhan. Jenny Tantono menambahkan bahwa layanan cash management menjadi sumber utama pertumbuhan DPK. Layanan ini membantu bank menarik dana secara stabil dan berkelanjutan.
Strategi ini tidak hanya mengandalkan kompetisi suku bunga yang agresif. “Kita menggunakan strategi melalui transaction banking untuk bagaimana kita bisa meng-attract DPK yang lebih operasional, yang bukan hot money, yang bukan kita dapatkan karena perang harga. Jadi kita akan stick dengan strategi tersebut,” ujar Jenny. Kontribusi DPK dari cash management mencapai lebih dari 60 persen dari total DPK Standard Chartered Indonesia, dengan dominasi DPK berbasis CASA.
Prospek Cerah dan Ekspansi Pasar Transaction Banking
Bisnis transaction banking secara keseluruhan memberikan kontribusi signifikan bagi Standard Chartered Indonesia. Sektor ini menyumbang sekitar 50 persen dari total pendapatan corporate banking bank tersebut. Hal ini menunjukkan peran vitalnya dalam struktur pendapatan.
Jenny Tantono menyebutkan bahwa trade finance, sebagai bagian dari transaction banking, masih didorong oleh sektor-sektor strategis. Sektor manufaktur, pengolahan (processing), dan logistik menjadi penopang utama pertumbuhan. Ini mencerminkan kekuatan ekonomi riil.
Dari sisi nasabah, kontribusi terbesar berasal dari perusahaan multinasional dan lembaga keuangan. Namun, Standard Chartered Indonesia juga melihat peluang pertumbuhan baru. Bank ini melirik korporasi lokal yang mulai berekspansi ke pasar internasional.
Standard Chartered Indonesia tetap percaya diri terhadap prospek bisnis transaction banking ke depan. Bank terus memanfaatkan jaringan globalnya yang luas dan inovasi digital. Kedua elemen ini krusial dalam mendukung kebutuhan nasabah yang terus berkembang.
Sumber: AntaraNews