Kucuran Dana Rp200 Triliun ke Bank Himbara Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 5,5 Persen
Pemerintah menempatkan dana Rp200 triliun di bank-bank Himbara yang dinilai mulai memberikan efek berganda ke sektor riil.
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan IV 2025 dapat menembus di atas 5,5 persen.
Optimisme ini didorong oleh kebijakan pemerintah menempatkan dana negara sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), yang dinilai mulai memberikan efek berganda ke sektor riil.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam Investor Meeting di Kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Jakarta, Senin (13/10).
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah perwakilan bank nasional, pelaku pasar modal, dan investor institusi.
“Mereka nanya Rp200 triliun gimana sih dampaknya ke ekonomi, segala macam. Hitungan kita sih, tadi ada dari bank-bank juga kan yang terlibat dalam dana itu,” ujar Purbaya di hadapan awak media, dikutip Selasa (14/10).
Dana Pemerintah Mulai Dorong Sektor Riil
Menurut Purbaya, kebijakan penempatan dana pemerintah di perbankan mulai menunjukkan hasil nyata.
Penyaluran kredit di sejumlah sektor meningkat signifikan, yang berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.
“Mereka bilang sih makin lama makin bagus penyerapannya. Bahkan BRI bilang minta tambah, ada beberapa yang minta tambah juga, nanti kita lihat bisa apa nggak. Mungkin bisa ya,” ujarnya.
Purbaya menambahkan, beberapa bank pelat merah bahkan mengajukan tambahan alokasi dana karena melihat hasil positif dari penyaluran kredit tersebut.
Ia menilai, optimisme investor dan lembaga keuangan menjadi sinyal bahwa ekonomi Indonesia masih berada di jalur pemulihan berkelanjutan, terutama menjelang akhir tahun fiskal 2025.
Proyeksi Pertumbuhan di Atas 5,5 Persen
Dengan tren penyerapan dana yang semakin baik, Menkeu optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih cepat dari perkiraan.
“Lalu saya bilang ke mereka dampaknya dengan seperti itu saja, ekonomi harusnya dari hitungan triwulan keempat bisa tumbuh di atas 5,5 persen, mungkin lebih,” tutur Purbaya.
Ia menambahkan, dampak nyata kebijakan ini kemungkinan besar akan terlihat mulai triwulan IV 2025 dan terus berlanjut pada awal 2026.
“Mereka juga nanya dampaknya ke ekonomi kapan sih biasanya kelihatan. Ya tadi saya bilang triwulan keempat seperti itu dan ke depannya harusnya kalau nggak dirubah kebijakannya, ekonomi kita akan makin cepat, makin cepat, makin cepat pertumbuhannya,” tambahnya.