Ketegangan Iran-Israel Memuncak, Kecanggihan Rudal dan Militer Iran Jadi Sorotan
Dalam beberapa dekade terakhir, strategi militer Iran berfokus pada kemampuan pencegahan.
Iran kembali menembakkan serangkaian rudal ke wilayah Israel pada Kamis (19/6), memperlihatkan bahwa persenjataan rudal memainkan peran sentral dalam konflik ini. Ketegangan ini pun menyoroti kecanggihan alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki Iran.
Melansir berbagai sumber, angkatan bersenjata Iran saat ini termasuk salah satu yang terbesar di kawasan Timur Tengah. Menurut laporan tahunan dari Institut Internasional untuk Studi Strategis, Iran memiliki sekitar 580.000 personel aktif dan 200.000 personel cadangan terlatih.
Mereka terbagi antara militer konvensional dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang masing-masing mengoperasikan unit darat, udara, dan laut secara terpisah.
Garda Revolusi sendiri bertanggung jawab atas keamanan perbatasan serta strategi pertahanan nasional Iran secara keseluruhan.
Salah satu kekuatan utama IRGC adalah Pasukan Quds, unit elit yang berperan dalam melatih, mempersenjatai, dan mendukung kelompok-kelompok milisi proksi Iran di seluruh Timur Tengah. Jaringan milisi ini dikenal sebagai “Poros Perlawanan” dan mencakup Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, kelompok milisi di Suriah dan Irak, serta Hamas dan Jihad Islam Palestina di Jalur Gaza.
Dalam beberapa dekade terakhir, strategi militer Iran berfokus pada kemampuan pencegahan. Negara tersebut terus mengembangkan teknologi rudal balistik, rudal jelajah, rudal antikapal, pesawat nirawak (drone), serta sistem pertahanan udara.
Iran juga memiliki armada kapal cepat dan kapal selam kecil yang dinilai mampu mengganggu jalur pelayaran dan pasokan energi dunia yang melewati Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Rudal Balistik Iran
Menurut pakar militer Afshon Ostovar, Iran memiliki salah satu persenjataan rudal balistik dan pesawat nirawak terbesar di kawasan. Rudal balistik Iran memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer atau lebih dari 1.200 mil, menjadikannya mampu mencapai target di seluruh Timur Tengah, termasuk Israel.
Selain itu, Iran juga memiliki drone dengan jangkauan 1.200 hingga 1.550 mil, yang dapat terbang rendah untuk menghindari deteksi radar.
Pemerintah Iran secara terbuka memamerkan kekuatan militernya melalui parade militer, termasuk koleksi rudal dan drone dalam jumlah besar. Ambisi Iran dalam mengembangkan sektor ekspor drone juga terus berlanjut.
Drone buatan Iran bahkan telah digunakan Rusia dalam konflik di Ukraina, serta muncul dalam berbagai konflik regional seperti di Sudan. Fasilitas militer Iran diketahui tersebar di berbagai lokasi dan dibangun jauh di bawah tanah, diperkuat dengan sistem pertahanan udara canggih, sehingga menyulitkan serangan udara dari pihak musuh.
Meskipun dihambat oleh sanksi internasional yang melarang pembelian senjata berteknologi tinggi dari luar negeri, Iran tetap mampu mengembangkan industrinya secara mandiri.
Sejarah Industri Pertahanan Iran
Sejarah pengembangan industri pertahanan Iran bermula pasca perang delapan tahun dengan Irak pada 1980-an. Saat itu, hanya sedikit negara yang bersedia menjual senjata ke Teheran.
Ketika Ayatollah Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi pada 1989, dia menugaskan Garda Revolusi untuk membangun industri senjata dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada negara asing. Upaya ini mendapatkan perhatian besar dari media lokal dan terus menjadi prioritas strategis hingga kini.
Kini, Iran memproduksi rudal dan drone dalam jumlah besar secara lokal. Meski demikian, pengembangan kendaraan lapis baja dan kapal laut besar masih menghadapi berbagai kendala.
Untuk memperkuat armada lautnya, Iran juga mengimpor kapal selam kecil dari Korea Utara, sembari memperluas produksi kapal dalam negeri.
Tak hanya rudal konvensional, Iran juga mengklaim memiliki rudal multi-hulu ledak Khorramshahr, yang pertama kali diuji pada 2017 dan diyakini memiliki keterkaitan dengan desain rudal Korea Utara.
Selain itu, program nuklir Iran juga telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Iran diduga telah memperkaya uranium hingga mendekati level senjata, yang memungkinkan produksi beberapa senjata nuklir dalam hitungan bulan jika keputusan politik untuk melanjutkannya diambil.
Meski begitu, para analis menilai Iran masih membutuhkan waktu lebih lama untuk mengembangkan sistem peluncuran yang efektif untuk senjata nuklir. Di sisi lain, negara ini juga memiliki ribuan roket jarak pendek dan senjata hipersonik potensial, yang sebagian besar juga dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri.
Menurut estimasi pemerintah Amerika Serikat, sebelum serangan balasan terbaru Israel, Iran diperkirakan memiliki sekitar 3.000 rudal balistik aktif. Kantor Direktur Intelijen Nasional AS menyebut jumlah tersebut merupakan persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah saat ini.