Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) memperlihatkan penampakan kota rudal bawah tanah yang luas milik militer Iran.
Menurut kantor berita Tasnim dikutip dari Middle East Monitor, Kamis (27/3), sebuah kota rudal bawah tanah yang menakjubkan dan besar telah terungkap dan berada di dalam terowongan tak berujung.
Menurut informasi dari pasukan Dirgantara IRGC, kota bawah tanah tersebut dihuni ribuan rudal balistik berbahan bakar padat dan cair, termasuk model Kheibar Shekan, Qadr, Sejjil, Emad, dan Haj Qasem.
Selain itu IRGC juga mengungkap kapal perang baru untuk pasukan angkatan lautnya di Bandar Abbas, yang mengonfirmasi bahwa kapal tersebut mampu meluncurkan rudal jelajah antikapal.
Adapun kapal tempur "Martir Rais Ali Delvari" memiliki kecepatan 110 knot dan mampu meluncurkan rudal dengan jangkauan 750 kilometer.
Advertisement
Diresmikan Pejabat Militer Iran
Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayjen Mohammad Hossein Bagheri dan Panglima Pasukan Dirgantara IRGC Amir Ali Hajizadeh turut hadir dalam peresmian kota rudal tersebut.
Saat berbincang dengan personel fasilitas tersebut selama kunjungan, Bagheri percaya diri dengan kekuatan Iran saat ini.
“Tangan besi Iran jauh lebih kuat (saat ini) daripada sebelumnya. 10 kali lebih kuat daripada True Promise II," ucapnya.
Menurut Bagheri, kekuatan milite Iran dianggap sepuluh kali lebih kuat dari yang dikerahkan saat Operasi True Promise II.
“Semua dimensi [pertahanan] yang dibutuhkan untuk menghasilkan kemampuan [militer] yang sepuluh kali [lebih kuat daripada] yang dikerahkan selama Operasi True Promise II, telah diciptakan,” tambah komandan tersebut, menurut Press TV.
Menurut informasi berbagai sumber, Operasi True Promise II merujuk pada serangan balasan rudal Iran terhadap Israel pada 13 April 2024 di mana 90 persen rudal mengenai target yang dituju.
“Musuh pasti akan tertinggal dalam keseimbangan kekuatan ini,” tegas jenderal tinggi itu, memuji bahwa Angkatan Bersenjata Iran tetap berada di jalur pengembangan, peningkatan, dan pemberdayaan lebih lanjut.
Berkaca dari kekuatan tersebut, tentu bukan hal yang wajar jika Amerika Serikat dan Israel sebagai musuh Iran tetap jumawa memberikan ancaman kepada negara tersebut.
Advertisement
Ancaman AS untuk Iran
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei menyatakan Donald Trump memberikan ancaman kepada mereka melalui surat yang dikirimkan terkait negosiasi program nuklir Teheran pada 7 Mare lalu. AS juga memperingatkan Iran kemungkinan aksi militer jika menolak.
"Amerika harus tahu bahwa ancaman tidak akan membawa mereka ke mana pun saat menghadapi Iran," setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer terhadap Teheran," kata Khamaeni dalam sebuah pidato tahunan Persia.
Khamaeni menilai bahwa AS memberikan ancaman terlebih dahulu dan ingin memberikan balasan tegas kepada mereka.
"Amerika mengancam kita. Meskipun kita tidak pernah memulai konflik, jika ada yang memulainya, mereka harus tahu bahwa mereka akan menerima tamparan keras. Amerika dan negara lain harus tahu bahwa jika mereka melakukan sesuatu yang merugikan bangsa Iran, mereka akan menerima tamparan keras," tegasnya.
Situs berita AS Axios juga ikut melaporkan pada hari Rabu terkait isi surat tersebut berupa "batas waktu dua bulan untuk mencapai kesepakatan nuklir baru" untuk menggantikan kesepakatan tahun 2015 tanpa menyebutkan kapan batas waktu ini akan dimulai atau berakhir.
Advertisement
Tipuan Opini Global dari AS
Sebelumnya, Khamenei mempertimbangkan seruan AS untuk melakukan negosiasi yang bertujuan untuk menipu opini publik global dengan menggambarkan AS bersedia bernegosiasi dan Iran sebaliknya tidak mau melakukannya.
Sekembalinya ke Gedung Putih untuk masa jabatan kedua pada bulan Januari, Trump menerapkan kembali kebijakan "tekanan maksimum" dengan menjatuhkan sanksi terhadap Iran, melanjutkan pendekatan yang telah diikutinya selama masa jabatan pertamanya.
Trump juga secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir yang dicapai pada tahun 2015 antara Iran dan negara-negara besar dunia dan menerapkan kembali sanksi ekonomi terhadap Republik Islam tersebut.
Sementara Teheran mematuhi perjanjian 2015 selama setahun setelah penarikan AS, Teheran kemudian mulai menarik kembali komitmennya.
Teheran telah berulang kali mengesampingkan kemungkinan pembicaraan langsung dengan Washington selama sanksi AS tetap berlaku.