Kata Ekonom Soal Thomas Djiwandono Masuk Bursa Deputi Gubernur Bank Indonesia
Namun posisi Deputi Gubernur BI menuntut kompetensi yang lebih spesifik yakni pemahaman operasi moneter harian dan pengelolaan likuiditas.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menyoroti pencalonan Thomas Djiwandono yang saat ini menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Menurut Josua, dari sisi rekam jejak, latar belakang Thomas Djiwandono di kebijakan fiskal sebagai Wakil Menteri Keuangan pada dasarnya memberi modal penting yakni pemahaman mekanisme APBN, kebutuhan pembiayaan negara, manajemen kas pemerintah, serta sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan anggaran.
"Ini relevan karena stabilitas moneter tidak pernah berdiri sendiri, ekspektasi pelaku pasar terhadap disiplin fiskal sangat memengaruhi nilai tukar dan biaya pendanaan negara," kata Josua kepada Liputan6.com, Selasa (20/1).
Namun posisi Deputi Gubernur BI menuntut kompetensi yang lebih spesifik yakni pemahaman operasi moneter harian, pengelolaan likuiditas, strategi stabilisasi nilai tukar, serta kemampuan mengelola ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan yang konsisten.
Oleh karena itu, ukuran utamanya bukan sekadar asal institusi, tetapi seberapa kuat ia mampu menunjukkan pemahaman kerangka kerja BI, disiplin pengambilan keputusan berbasis data, dan keberanian menjaga batas kewenangan BI ketika berhadapan dengan kebutuhan jangka pendek pemerintah.
"Ini menjadi krusial karena pasar sedang sangat peka terhadap isu independensi bank sentral dan risiko fiskal, tercermin dari tekanan rupiah hingga menyentuh rekor terlemah dan kenaikan imbal hasil saat sentimen tersebut menguat," ujarnya.
Kelebihan Thomas Masuk Bank Indonesia
Josua mengatakan nilai tambah dengan masuknya figur dari ranah fiskal bisa memperkuat sinergi fiskal–moneter bila ditempatkan sebagai jembatan koordinasi, bukan sebagai saluran intervensi.
"Sinergi yang sehat biasanya terlihat dari dua hal, arah kebijakan tidak saling bertabrakan, dan pesan ke pasar konsisten sehingga premi risiko turun," ujarnya.
Dalam situasi Rupiah mendekati Rp17.000 per USD, koordinasi yang rapi justru membantu BI karena beban stabilisasi tidak hanya ditanggung instrumen moneter, melainkan juga ditopang kredibilitas arah fiskal.
Sisi Minusnya
Tetapi risikonya juga nyata, menurutnya bila publik menangkap sinyal bahwa BI menjadi perpanjangan kebutuhan pembiayaan APBN atau target pertumbuhan jangka pendek, maka kepercayaan bisa terkikis, tekanan nilai tukar membesar, dan ruang BI untuk melonggarkan suku bunga makin sempit.
Namun jika Thomas terpilih, tantangan paling krusial yang perlu segera direspons adalah pemulihan kepercayaan pasar melalui kombinasi aksi dan komunikasi.
"Pada sisi nilai tukar, prioritasnya memastikan stabilisasi berjalan kredibel tanpa menguras daya tahan, dengan pengelolaan likuiditas dan instrumen pasar uang yang rapi, serta sinyal kebijakan suku bunga yang konsisten dengan tujuan stabilitas rupiah dan inflasi," pungkasnya.