Profil Thomas Djiwandono, Keponakan Presiden Prabowo yang Digadang Jadi Deputi Gubernur BI
Pencalonan tersebut memunculkan pro dan kontra di ruang publik. Sebagian pihak menilai langkah ini berpotensi memperkaya koordinasi kebijakan fiskal & moneter.
Nama Thomas Djiwandono kembali menyita perhatian publik. Setelah sebelumnya ramai diperbincangkan saat dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan, keponakan Presiden Prabowo Subianto itu kini kembali menjadi sorotan karena dicalonkan sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia.
Pencalonan tersebut memunculkan pro dan kontra di ruang publik. Sebagian pihak menilai langkah ini berpotensi memperkaya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, sementara pihak lain mengkhawatirkan independensi Bank Indonesia.
Di tengah perdebatan tersebut, isu pencalonan Thomas bahkan dikaitkan dengan pelemahan rupiah, meski sejumlah pengamat menilai tekanan terhadap mata uang lebih dipicu faktor global ketimbang sosok tertentu.
Dirangkum dari berbagai sumber pada Selasa (20/1), berikut perjalanan hidup Thomas Djiwandono, mulai dari latar belakang keluarganya, pendidikan, hingga kiprahnya di dunia keuangan dan pemerintahan.
Profil Thomas Djiwandono
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Thomas Djiwandono dalam acara LIKE IT! di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Pramuka Cibubur, Jakarta Timur, Kamis (14/8/2025). (Liputan6.com/Tira)
@ 2025 merdeka.comThomas Aquinas Muliatna Djiwandono, lahir pada 7 Mei 1972 di Jakarta. Ia merupakan anak pertama dari pasangan Soedradjad Djiwandono, mantan Gubernur Bank Indonesia, dan Biantiningsih Miderawati, yang juga merupakan kakak kandung Prabowo Subianto. Dengan latar belakang keluarga yang kuat, Thomas memiliki jejak yang cemerlang dalam karir dan politik.
Thomas Djiwandono dikenal sebagai seorang Katolik yang menikah dan memiliki tiga orang anak. Ia merupakan cicit dari R.M. Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank BNI 46. Keluarganya yang terlibat dalam dunia ekonomi dan politik menjadikannya salah satu tokoh I yang diperhitungkan di Indonesia.
Pendidikan Thomas dimulai dari SMP Kanisius di Menteng, Jakarta, sebelum melanjutkan ke Haverford College di Pennsylvania, Amerika Serikat, untuk meraih gelar sarjana di bidang Sejarah. Ia kemudian melanjutkan studi di Johns Hopkins University School of Advanced International Studies (SAIS) di Washington, D.C., dengan fokus pada Hubungan Internasional dan Ekonomi Internasional.
Karier Thomas Djiwandono
Karier Thomas dimulai di dunia jurnalisme sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada tahun 1993. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Indonesia Business Weekly sebagai jurnalis. Namun, kariernya beralih ke sektor keuangan ketika ia bekerja sebagai analis keuangan di NatWest Market, Jakarta, dari tahun 1996 hingga 1999, dan kemudian di Wheelock NatWest Securities di Hong Kong.
Setelah itu, Thomas beralih menjadi konsultan di Castle Asia pada tahun 1999 hingga 2000, sebelum bergabung dengan Comexindo Internasional. Di Comexindo, ia menjabat sebagai Direktur Pengembangan Bisnis dari tahun 2004 hingga 2008, lalu sebagai Deputi CEO dari 2008 hingga 2009, dan akhirnya menjabat sebagai CEO dari tahun 2010 hingga 2024.
Selain itu, Thomas juga menjabat sebagai Deputi CEO di Arsari Group dari tahun 2011 hingga 2024. Dalam dunia politik, ia menjadi Bendahara Umum Partai Gerindra sejak tahun 2008 dan memainkan peran penting dalam Koalisi Merah Putih (KMP) selama Pilpres 2014, khususnya dalam hal logistik.