Jateng Jadwalkan 308 Gerakan Pangan Murah, Stabilisasi Harga Jelang Ramadhan 2026
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siapkan 308 Gerakan Pangan Murah di seluruh wilayahnya untuk stabilisasi harga bahan pokok penting menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026, memastikan ketersediaan dan keterjangkauan bagi masyarakat.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengambil langkah proaktif dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok penting. Sebanyak 308 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) telah dijadwalkan untuk diselenggarakan di seluruh wilayahnya. Inisiatif ini bertujuan mengendalikan lonjakan harga menjelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyatakan bahwa kegiatan GPM ini akan berlangsung hingga Maret 2026. Pelaksanaannya melibatkan kerja sama erat antara Pemprov dan pemerintah kabupaten/kota. GPM perdana telah sukses digelar di Pucang Gading, Mranggen, Demak, yang merupakan wilayah perbatasan strategis dengan Kota Semarang.
Program ini merupakan bagian dari agenda nasional yang disambut antusias oleh masyarakat setempat. Ketersediaan pangan pokok di Jawa Tengah secara umum surplus, namun beberapa komoditas menunjukkan kenaikan harga signifikan awal Februari 2026. Oleh karena itu, GPM menjadi solusi konkret untuk memastikan harga tetap terjangkau.
Upaya Stabilisasi Harga Pangan di Jawa Tengah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah secara serius menghadapi potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang hari besar keagamaan. Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan komitmen Pemprov untuk menjaga daya beli masyarakat. Penjadwalan 308 Gerakan Pangan Murah (GPM) ini menjadi bukti nyata keseriusan tersebut.
GPM akan tersebar merata di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah, memastikan akses masyarakat terhadap bahan pangan dengan harga terjangkau. Lokasi perdana di Pucang Gading, Demak, dipilih strategis karena merupakan daerah perbatasan. Hal ini menunjukkan pendekatan yang terencana dalam distribusi dan jangkauan program.
Program Gerakan Pangan Murah ini bukan hanya inisiatif lokal, melainkan juga bagian dari program nasional. Dengan demikian, upaya stabilisasi harga pangan di Jawa Tengah terintegrasi dengan kebijakan pemerintah pusat. Sinergi ini diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Komoditas Pangan dengan Kenaikan Harga Signifikan
Meskipun ketersediaan pangan pokok strategis di Jawa Tengah secara umum surplus, awal Februari 2026 menunjukkan indikasi kenaikan harga pada beberapa komoditas. Kenaikan ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Fluktuasi harga ini sering terjadi menjelang periode Ramadhan dan Idul Fitri.
Beberapa bahan pokok penting mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan:
- Cabai naik 35,7 persen dari Harga Acuan Pembelian (HAP) menjadi Rp77.800/kg.
- MinyaKita naik 3,4 persen dari Harga Acuan Tertinggi (HET) menjadi Rp16.300/liter.
- Daging kerbau beku melonjak 38,4 persen dari HPP menjadi Rp110.000/kg.
- Jagung pakan ternak ayam petelur naik 7,4 persen dari HPP menjadi Rp6.250/kg.
Gubernur Luthfi mengakui adanya kenaikan harga tersebut, terutama pada komoditas cabai yang mendekati angka Rp80 ribu. Untuk mengatasinya, Perusahaan Perseroan Daerah Jateng Agro Berdikari (JTAB) telah diperintahkan untuk melakukan penetrasi harga. Langkah ini diharapkan dapat menekan laju kenaikan harga di pasar.
Strategi Penanganan dan Antusiasme Masyarakat
Gerakan Pangan Murah (GPM) menjadi salah satu strategi utama untuk mengendalikan harga bahan pokok agar tetap stabil dan terjangkau. Dalam pelaksanaannya, GPM melibatkan berbagai pihak. Sebanyak 11 pelaku usaha turut serta dalam GPM di Pucang Gading, Demak.
Pelaku usaha yang terlibat mencakup Bulog, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), PPI, JTAB, serta UMKM binaan Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah. Gapoktan Catur Tani Demak, Poktan Mudo Manunggal Roso, CV. Futago Farm Demak, UMKM Sedap Arum Demak, Ayam Komsiah Semarang, dan Primafood juga turut berpartisipasi. Kehadiran berbagai pihak ini memperkuat jangkauan dan efektivitas GPM.
Selain GPM, Satgas Pangan Jawa Tengah juga melakukan penyisiran pasar secara intensif. Langkah ini bertujuan untuk mengantisipasi praktik spekulasi yang dapat memperparah kenaikan harga. Penyisiran dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari petani, distributor, hingga titik penjualan dan konsumen.
Antusiasme masyarakat terhadap Gerakan Pangan Murah sangat tinggi. Salah seorang warga Pucang Gading, Nuraini, mengungkapkan rasa senangnya karena sangat terbantu dengan harga yang lebih murah. "Ini ada beras, telur, cabai. Cabai ini jauh lebih murah, segini kalau di pasar hampir Rp100 ribu, di sini cuma Rp65 ribu. Minyak juga lebih murah," ujarnya usai belanja bersama warga lain sembari menunjukkan barang belanjaan. Ia berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan lebih sering, menunjukkan tingginya kebutuhan akan program seperti ini.
Sumber: AntaraNews